Berita

Pasangan suami istri Karim dan Edoh yang akan berangkat menunaikan ibadah haji. (Foto: Istimewa)

Nusantara

Kisah Karim dan Edoh: Tukang Bubur Naik Haji Asal Tasikmalaya

JUMAT, 24 APRIL 2026 | 06:01 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Dari sebuah rumah sederhana bercat putih yang mulai kusam, berlantai tikar, dan sesekali dipenuhi aroma bubur ayam dari dapur kecil, tumbuh sebuah mimpi besar yang kini benar-benar berangkat menuju Tanah Suci.

Karim (55) dan istrinya, Edoh (52), warga Kampung Cimerak, Kelurahan Sukaasih, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, akhirnya menunaikan ibadah haji pada tahun 2026. Mereka tergabung dalam Kloter 04 KJT dan diberangkatkan pada Kamis, 23 April 2026.

Perjalanan menuju Baitullah bagi pasangan ini bukanlah kisah instan. Selama 24 tahun, mereka merawat mimpi itu dalam diam dengan cara sederhana namun luar biasa konsisten: menyisihkan Rp50 ribu hingga Rp150 ribu setiap hari dari hasil berjualan cilok dan bubur ayam keliling.


Tanpa perencanaan finansial yang rumit, tanpa kepastian kapan akan berangkat, mereka hanya berpegang pada satu hal, ketekunan.

“Alhamdulillah, cita-cita ti kapungkur hayang naek haji, ayeuna kacumponan,”  kata Edoh dikutip dari RMOLJabar, Jumat 24 April 2026.

Kehidupan mereka dimulai dari bawah, secara harfiah maupun ekonomi. Pada periode 2002 hingga 2012, Karim dan Edoh tinggal berpindah-pindah di rumah kontrakan bilik di kawasan Babakan Kalangsari, dengan biaya sewa antara Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per bulan.

Saat itu, cilok menjadi tumpuan hidup. Karim menjajakannya dari gang ke gang, menembus panas dan hujan. Sementara itu, Edoh turut membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Meski penghasilan terbatas, selalu ada sebagian kecil yang mereka sisihkan. Sedikit demi sedikit, namun dilakukan tanpa putus seperti ritual yang dijaga dengan penuh keyakinan.

Perlahan, keadaan mulai membaik. Mereka berhasil membeli rumah sederhana tidak besar dan tidak mewah, tetapi cukup menjadi bukti bahwa perjuangan mereka mulai berbuah.

Tahun 2013 menjadi titik balik. Karim dan Edoh beralih berjualan bubur ayam. Usaha mereka, “Bubur Ayam Spesial Pak Karim”, tumbuh tanpa strategi pemasaran modern hanya mengandalkan cita rasa yang jujur dan harga yang terjangkau, berkisar antara Rp7 ribu hingga Rp10 ribu per porsi.

Setiap hari, Karim berjalan kaki sejauh 3 hingga 5 kilometer, berjualan dua kali: pagi hingga siang, lalu dilanjutkan kembali hingga malam. Gerobak yang ia dorong bukan sekadar alat mencari nafkah, melainkan kendaraan mimpi yang terus bergerak.

Di dalamnya, tak hanya ada bubur hangat, tetapi juga harapan yang tak pernah padam. Jika ada yang bertanya tentang rahasia keberhasilan mereka, jawabannya sederhana: konsistensi.

Dari cilok ke bubur ayam. Dari kontrakan ke rumah sendiri. Dari tabungan receh hingga puluhan juta rupiah. Semua dijalani tanpa jeda, bahkan saat kebutuhan hidup terus meningkat.

Dengan keyakinan yang kuat, mereka memberanikan diri membayar uang muka haji sebesar Rp50 juta. Setelah itu, mereka mencicil Rp15 juta, kemudian Rp10 juta pada 2018, hingga akhirnya total pelunasan sebesar Rp62 juta dapat diselesaikan.

Tak ada lonjakan besar. Tak ada jalan pintas. Hanya kesabaran yang dirawat hari demi hari.

Bagi Edoh, perjalanan ini bukan sekadar soal angka, melainkan panggilan hati. Ia mengenang masa lalu saat merantau dari Bekasi, menjalani kehidupan berpindah-pindah, membesarkan anak hingga menikah, sambil terus menyimpan mimpi yang sama.

Kini, di usia yang tak lagi muda, harapannya sederhana: diberi kesehatan selama menjalankan ibadah, umur yang cukup untuk kembali ke tanah air, dan semoga kisah ini dapat menjadi pengingat bagi banyak orang.

Bahwa mimpi tidak selalu membutuhkan percepatan. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah keteguhan.

"Abdi hoyong kawas batur naik haji, ayeuna tos kakabul ku Gusti," kata Edoh. 


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

PBB Dorong Implementasi Segera Prinsip Bisnis Berbasis HAM di Indonesia

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:05

Membongkar Praktik Haram MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:00

Indonesia Sedang Hadapi Perang Sumber Daya

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:34

Berantas Korupsi di BGN jadi Bukti Prabowo Jalankan Amanat Reformasi 98

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:28

Warga Tuntut Pengurus P3SRS Apartemen Taman Rasuna Diberhentikan

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:07

Pemuda Katolik Dukung Kejagung Bersih-bersih BGN

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:40

Ketua SC Muktamar X PPP Ngaku Borong Kamar Lantai 10 untuk Persidangan

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:17

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Dadan Hindayana Cs Terlalu Berani Korupsi!

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:02

Badko HMI Sultra Laporkan Dua Perusahaan Tambang ke Kejagung

Rabu, 03 Juni 2026 | 23:50

Selengkapnya