Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Politik

Strategi Perang Laut Iran Miliki Relevansi dengan Indonesia

MINGGU, 19 APRIL 2026 | 05:59 WIB

Peperangan laut Iran 2026 sangat menarik menjadi bahan kajian terkait strategi pertahanan laut dan maritim bagi Indonesia.

Dewan Pakar Kesatuan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Salim menyatakan bahwa kekuatan destruktif Iran terletak pada kombinasi brilian antara Saturation Attack dan Mosaic Defence. 

“Melalui serangan jenuh, mereka (Iran) membuktikan bahwa kuantitas drone dan rudal yang terkoordinasi dapat membutakan teknologi radar tercanggih sekalipun. Sementara itu, melalui Mosaic Defence, pertahanan tidak lagi bergantung pada pangkalan besar yang rapuh, melainkan tersebar dalam unit-unit kecil yang otonom di sepanjang pesisir dan pulau-pulau terpencil, persis seperti mozaik yang tetap utuh meski satu bagiannya retak,” kata Salim dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu malam, 18 April 2026. 


Sambung dia, di sinilah letak relevansi bagi Indonesia: dengan ribuan pulau yang dimiliki. Indonesia adalah "Mozaik Pertahanan" alami. 

“Dengan mengadopsi Hybrid Warfare dan memanfaatkan Proxy War serta kekuatan milisi sipil yang terintegrasi, kita dapat menciptakan pertahanan rakyat semesta yang multidimensional, di mana batas antara laut, darat, dan ruang siber menyatu dalam satu komando perlawanan yang cerdas,” tegasnya.

Lebih jauh, Salim menyebut Iran menerapkan Retaliation Strategy (strategi pembalasan) yang tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga menyerang kepastian ekonomi dan psikologi lawan. Ini adalah perang kognitif di mana setiap tindakan agresi musuh akan dibayar dengan disrupsi total pada jalur logistik mereka. 

“Indonesia, dengan kendali atas Choke Points dunia seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, memiliki posisi tawar yang serupa. Kita harus mampu menunjukkan integritas diplomasi yang didukung oleh taring militer yang nyata; sebuah pesan bahwa persahabatan kita adalah kehormatan, namun gangguan terhadap kedaulatan kita adalah bencana bagi stabilitas global,” jelasnya. 

“Kita petik api inspirasi dari keteguhan ini untuk membangkitkan martabat bangsa kepulauan RI. Kita bukan lagi bangsa yang sekadar menjaga garis pantai, melainkan bangsa yang menguasai takdir samudra. Jadikanlah setiap pulau sebagai benteng, setiap nelayan sebagai mata-mata kedaulatan, dan setiap prajurit sebagai peretas yang tangguh di ruang digital,” tambah Salim. 

Kandidat doktor di Universitas Airlangga ini mengungkap inspirasi dari Hormuz mengajarkan Indonesia sebagai bangsa yang bersatu dengan strategi yang adaptif dan ideologi yang menghujam bumi, kekuatan hegemoni sehebat apa pun akan luruh. 

“Bangsa Indonesia seharusnya tak hanya berani bermimpi, tetapi berani bertempur dengan kecerdasan yang melampaui zaman. Di laut kita jaya, di laut kita berkuasa, dan di laut pula kita tunjukkan bahwa kedaulatan Indonesia adalah harga mati yang takkan pernah bisa ditawar oleh arus sejarah mana pun,” tegasnya lagi.

Masih kata Salim, dunia maritim tahun 2026 menjadi saksi sejarah atas tumbangnya supremasi absolut doktrin Sea Power warisan RADM Alfred Thayer Mahan. Teori yang selama seabad lebih menjadi kitab suci kejayaan Amerika Serikat, menekankan pada penguasaan samudera melalui armada kapal induk raksasa. Kini tampak rapuh di hadapan inovasi asimetris Iran, di Selat Hormuz. 

“Menggunakan ribuan drone bawah air dan rudal pesisir yang tersembunyi, Iran memaksa aset-aset laut tercanggih dunia untuk mundur, membuktikan bahwa kapal perang berharga miliaran Dolar bisa dilumpuhkan oleh teknologi yang jauh lebih murah namun dikelola dengan kecerdasan kolektif,” tutur Salim. 

“Iran tidak hanya memainkan Fleet in Being untuk menebar ancaman psikologis yang konstan, tetapi juga melakukan Blockade efektif yang memutus urat nadi energi dunia, menciptakan krisis global yang memaksa lawan bertekuk lutut di meja diplomasi,” tandasnya.


Populer

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

UPDATE

Makna Filosofi Lampion Waisak 2026, Simbol Pencerahan, Harapan, dan Kedamaian

Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:58

Standarisasi Kemasan Rokok Dinilai Berpotensi Merugikan Pedagang Kaki Lima

Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:43

Soal Opini Bahlil yang Sebut Kurban Wajib bagi Setiap Muslim, Ini Respons Komisi Fatwa MUI

Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:27

Harga Minyak Dunia Anjlok ke 92 Dolar AS

Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:07

Rupiah Melemah, Biaya Liburan di Indonesia Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:36

Penyidik Dalami Dokumen Ekspor Sawit, Kasus Under Invoicing Terus Bergulir

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:24

IHSG di Akhir Mei 2026 Tertekan, Asing Net Sell Jumbo Rp8,5 Triliun

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:16

Bukan Sekadar Kurban, Begini Cara Galeri 24 Sampaikan Makna Berbagi di Hari Raya

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:12

Harga Emas Antam Melonjak Rp25.000 di Akhir Mei 2026

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:03

Opini Bahlil di Kompas Disoal: Tidak Tepat Samakan Kurban dengan Zakat Fitrah

Sabtu, 30 Mei 2026 | 09:47

Selengkapnya