Berita

Suasana acara peringatan 71 Tahun Konferensi Asia-Afrika di Sekolah Partai PDIP. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

PDIP: Jangan Sampai Indonesia Dianggap Proksi Kekuatan Global

SABTU, 18 APRIL 2026 | 16:37 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Posisi geopolitik Indonesia hingga kini mulai dipertanyakan oleh dunia internasional. 

Salah satunya, langkah Indonesia bergabung dengan blok ekonomi BRICS (Brazil, Russia, India, China, and South Africa) memicu tanda tanya besar, terutama dari negara-negara Barat.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi I DPR Utut Adianto, dalam diskusi bertajuk “71 Tahun Peringatan Konferensi Asia Afrika: Relevansi Gerakan Asia-Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta, Sabtu, 18 April 2026.


“Delegasi parlemen dari Jerman dan Belanda sempat mempertanyakan alasan kita ke BRICS. Biasanya, jika sebuah negara sudah dianggap berada di satu kutub, mereka sulit diterima oleh pihak lain,” ungkap Utut.

Utut menekankan bahwa bergabungnya Indonesia ke BRICS murni untuk memperluas peluang ekonomi, bukan bentuk keberpihakan politik. Namun, untuk menghindari persepsi negatif, ia mengusulkan agar Kementerian Luar Negeri memiliki unit khusus. 

"Unit ini bertugas menjelaskan posisi Indonesia secara lugas agar kita tidak dianggap sebagai satelit atau proksi negara tertentu," tambahnya.

Di sisi lain, Utut mengapresiasi diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang berhasil membawa komitmen investasi sebesar Rp800 triliun melalui rangkaian kunjungan luar negeri. 

Ia juga mencatat langkah strategis Indonesia memulai proses aksesi ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada awal 2025 sebagai upaya menjaga keseimbangan kekuatan (balance of power).

Meski demikian, Utut mengakui adanya keterbatasan akses informasi parlemen terhadap diplomasi tingkat tinggi. 

“Kita tidak selalu tahu detail pembicaraan Presiden dengan pemimpin dunia, termasuk dengan Vladimir Putin,” pungkasnya.

Diskusi ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, sejarawan Asvi Warman Adam, Bonnie Triyana, hingga Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Rabu, 30 September 2026 | 10:27

Komisi IX DPR Dorong Pekerja Platform Digital Masuk RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Rabu, 30 September 2026 | 10:18

Rupiah Menguat, Intip Proyeksinya Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 | 10:07

Prabowo Dorong Rehabilitasi Pengguna Narkoba Berbasis Pendidikan dan Teknologi

Rabu, 30 September 2026 | 10:04

Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence

Rabu, 30 September 2026 | 09:50

Dugaan Suap Bela Parahiyangan Investindo Mirip Perkara Summarecon

Rabu, 30 September 2026 | 09:39

Jokowi Sengaja Tunjukkan KTA PSI di Kandang Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 09:36

Jokowi Menyadari Dirinya dan Gibran Sedang Diserang

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Indonesia Usulkan Mekanisme Koordinasi Lintas Negara Berantas Penipuan Daring

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Selengkapnya