Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

KAMIS, 16 APRIL 2026 | 07:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Konflik yang memanas di Timur Tengah mulai menebar ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi di Asia Tenggara. Lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, memperingatkan adanya tekanan besar terhadap peringkat utang negara-negara di kawasan ini jika krisis energi terus berlanjut.

S&P menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling berisiko. Dibanding tetangganya, posisi Indonesia paling terancam karena 'benteng' peringkat kreditnya yang lemah

"Kualitas kredit negara dengan bantalan peringkat yang lebih tipis dapat menurun dalam skenario gangguan berkepanjangan di pasar energi. Di Asia Tenggara, kami menilai peringkat kedaulatan Indonesia akan lebih rentan jika konflik berlarut-larut," tulis S&P dalam laporannya baru-baru ini, dikutip Kamis 16 April 2026. 


Tiga beban utama bagi Indonesia adalah; 
- Beban Subsidi: Lonjakan harga energi otomatis membengkakkan anggaran subsidi negara.
- Defisit Transaksi Berjalan: Impor minyak yang mahal akan memperlebar celah defisit.
- Biaya Pinjaman: Inflasi yang agresif berpotensi memicu kenaikan suku bunga, sehingga pemerintah harus membayar lebih mahal untuk meminjam dana.

Meski satu kawasan, S&P melihat tingkat ketahanan yang berbeda-beda pada negara tetangga.

Malaysia berada di posisi paling stabil. Meski defisit anggaran dan subsidi diprediksi membengkak, pasar modal yang dalam serta pertumbuhan ekonomi yang solid menjadi pelindung. Menurut S&P, penurunan fiskal sementara kemungkinan besar tidak akan memicu perubahan peringkat utang.

Sementara, Thailand dianggap memiliki kebijakan moneter dan posisi eksternal yang cukup kuat untuk menahan guncangan. Sedangkan Vietnam dinilai memiliki bantalan yang memadai, namun tetap waspada terhadap risiko likuiditas eksternal jika biaya impor energi terus melambung dan menggerus cadangan devisa.

S&P menyusun asumsi dasar bahwa puncak intensitas perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz akan mereda pada bulan April ini. Namun, kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah diprediksi tetap akan menyisakan dampak selama berbulan-bulan ke depan.

Dalam skenario ini, harga minyak mentah jenis Brent diperkirakan akan bertahan di level rata-rata 85 Dolar AS per barel hingga akhir tahun 2026.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya