Berita

Seminar intelijen bertajuk 'Tata Kelola Intelijen dalam Menghadapi Ketidakpastian Geopolitik dan Ancaman Asimetris' digelar di Gedung IASTH UI Salemba, Rabu, 15 April 2026 (Foto: RMOL/Abdul Rouf Ade Segun)

Politik

Pengamat Kompak Dorong Penguatan Koordinasi dan Sistem Intelijen Nasional

KAMIS, 16 APRIL 2026 | 05:20 WIB | LAPORAN: ABDUL ROUF ADE SEGUN

Sejumlah pengamat dan akademisi menyoroti pentingnya pembenahan tata kelola intelijen nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu.

Pengamat intelijen Ridwan Habib menilai Indonesia harus segera memperkuat sinergi antar lembaga agar mampu menghadapi ancaman asimetris yang kian kompleks.

“Sudah saatnya kita mencari formulasi supaya antar lembaga makin saling menguatkan untuk kepentingan ketahanan nasional,” kata Ridwan dalam seminar intelijen di Gedung IASTH UI Salemba, Rabu, 15 April 2026.


Ia menegaskan, posisi Indonesia sangat strategis sekaligus rentan dalam pusaran konflik global, terutama dari sisi lalu lintas data dan informasi.

“Informasi perang lewat jalur internet Indonesia tanpa kita bisa tahu apa yang diomongkan di situ,” ujarnya

Sementara itu, akademisi dari FISIP UI Broto Wardoyo menyoroti kelemahan regulasi intelijen yang dinilai belum mampu menjawab kompleksitas praktik di lapangan.

“Siapa yang diikat subyek hukum balik undang-undang itu? Nggak jelas,” pungkas Broto.

Ia menekankan bahwa undang-undang semestinya mengatur subjek hukum secara tegas, yakni individu dan badan hukum, bukan alat seperti intelijen.

“Subyek hukum itu orang-orang badan hukum. Alat ini bukan subyek hukum,” jelasnya.

Di sisi lain, akademisi PKN SPPB UI Stanislaus Riyanta menyoroti pentingnya integrasi data intelijen nasional yang selama ini belum optimal.

“Kalau sekarang kan belum ada, prosesnya tidak mungkin terjadi sekarang,” ujarnya terkait belum adanya sistem berbagi data lintas lembaga.

Ia mencontohkan praktik di negara lain seperti Australia dan Jerman yang telah memiliki pusat data intelijen terpadu.

“Kalau Anda punya 'clearance' Anda bisa akses data,” kata Stanislaus.

Menurutnya, Indonesia perlu mulai membangun sistem serupa, meski tetap memperhatikan prinsip kerahasiaan dalam intelijen.

“Yang tidak boleh tahu itu operasi intelijen, tapi kalau hasilnya sudah jadi data, itu bisa dikelola,” pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kepala BRAN Dorong 3,1 Juta Hektare Lahan Transmigrasi jadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:32

KPK Pastikan Video Penjemputan Paksa Nusron Hoax!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:24

Quo Vadis 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:23

Prabowo Setujui Kajian DEN soal Definisi Korupsi Berstandar Internasional

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:17

Penindakan 1.000 Tambang Ilegal: Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:13

DPR Dorong Penguatan Koordinasi Penyaluran BBM

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:01

Gibran Terima Perwakilan WALUBI Bahas Karhutla hingga Bakti Sosial

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:50

KPK Perlu Periksa Hercules soal Uang Rp800 Juta Terkait Summarecon

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:46

Menteri Agama Optimistis Akan Ada Kebangkitan Syarikat Islam Jilid Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:43

Pertamina Diusulkan Peroleh Insentif Sewa Kapal Tanker Lokal

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:41

Selengkapnya