Berita

Ilustrasi Jemaah haji lansia. (Foto: Istimewa)

Politik

War Tiket Haji Berisiko Rugikan Jemaah Antrean Puluhan Tahun

SENIN, 13 APRIL 2026 | 18:11 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wacana war tiket haji dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) dinilai berpotensi tidak adil bagi jutaan calon jemaah yang saat ini masih berada dalam daftar tunggu. 

"Wacana tersebut belum memiliki kejelasan terkait skema maupun teknis pelaksanaannya. Komisi VIII DPR RI akan segera meminta penjelasan langsung kepada kementerian terkait, karena ini disampaikan secara tiba-tiba,” ungkap Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, Senin, 13 April 2026.

Legislator NasDem dari Dapil Jawa Timur II yang meliputi Pasuruan dan Probolinggo itu mengingatkan, kebijakan tersebut berpotensi merugikan calon jemaah yang telah lama menunggu keberangkatan melalui sistem antrean resmi.


“Menurut saya ini sangat tidak adil bagi jemaah yang sudah menunggu. Saat ini ada sekitar 5,2 juta calon jemaah dengan masa tunggu hingga 26 tahun. Jangan sampai hak mereka yang sudah antre justru terambil,” tegasnya.

Dini juga menambahkan, pihaknya akan segera memanggil kementerian terkait untuk membahas lebih lanjut teknis rencana tersebut, termasuk dampaknya terhadap sistem antrean haji yang telah berjalan.

“Harapannya, jika memang ada war tiket haji, jangan sampai mengurangi jemaah yang sudah menunggu. Mereka harus tetap berangkat sesuai jadwalnya, atau kalau memang tetap ada, semoga ada tambahan kuota dari Pemerintah Arab Saudi,” pungkas Dini. 

Sebelumnya, wacana “war tiket” haji disampaikan Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, dalam forum Rakernas penyelenggaraan haji. Dalam skema tersebut, pemerintah akan membuka pendaftaran langsung berdasarkan kesiapan calon jemaah, tanpa antrean panjang seperti saat ini.

Namun, bagi Lukman, pendekatan semacam itu justru berisiko menggeser peran negara dari pengelola layanan ibadah menjadi sekadar fasilitator transaksi. Ia menegaskan, negara tidak boleh menyerahkan mekanisme haji pada logika siapa cepat dia dapat, apalagi jika mengorbankan asas keadilan dan pemerataan.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya