Berita

Ilustrasi jemaah haji

Politik

Jangan Jadikan Haji Seperti Event Organizer

MINGGU, 12 APRIL 2026 | 10:13 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wacana “war tiket” haji yang dilontarkan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menuai kritik keras dari mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. 

Ia mengingatkan agar negara tidak terjebak dalam logika komersial yang justru mengaburkan fungsi utamanya dalam menjamin keadilan bagi seluruh warga.

“Ketika kuota haji diperebutkan secara bebas seperti ‘war tiket’, lalu apa bedanya negara dengan event organizer?” tegas Lukman lewat akun X miliknya, Minggu, 12 April 2026.


Menurutnya, di tengah panjangnya antrean haji saat ini, gagasan membuka perebutan kuota secara bebas justru berpotensi menciptakan ketimpangan. 

Skema tersebut dinilai hanya menguntungkan mereka yang paling siap secara finansial, sementara prinsip keadilan dalam pelayanan ibadah menjadi terabaikan.

Lukman juga menyoroti cara pemerintah melempar wacana yang dinilainya masih mentah ke ruang publik. Ia mengingatkan bahwa isu sensitif seperti penyelenggaraan haji seharusnya dibahas secara matang di internal sebelum disampaikan ke masyarakat.

“Rencana perbaikan haji dimatangkan tertutup saja di internal pemerintah. Jangan melempar wacana yang masih mentah ke tengah publik. Itu membingungkan masyarakat dan kontra-produktif dalam membangun kepercayaan publik,” ujarnya.

Sebelumnya, wacana “war tiket” haji disampaikan Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, dalam forum Rakernas penyelenggaraan haji. Dalam skema tersebut, pemerintah akan membuka pendaftaran langsung berdasarkan kesiapan calon jemaah, tanpa antrean panjang seperti saat ini.

Namun, bagi Lukman, pendekatan semacam itu justru berisiko menggeser peran negara dari pengelola layanan ibadah menjadi sekadar fasilitator transaksi. Ia menegaskan, negara tidak boleh menyerahkan mekanisme haji pada logika siapa cepat dia dapat, apalagi jika mengorbankan asas keadilan dan pemerataan.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya