Berita

Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka

Politik

Skenario Mengganti Prabowo dengan Gibran Dinilai Kesalahan Besar

JUMAT, 10 APRIL 2026 | 13:01 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pernyataan kontroversial pengamat politik Saiful Mujani yang menyerukan penjatuhan pemerintahan Prabowo Subianto memicu respons keras dari berbagai kalangan. Wacana tersebut dinilai bukan hanya provokatif, tetapi juga mengabaikan kompleksitas kekuatan politik nasional.

Analis komunikasi politik Hendri Satrio menegaskan, narasi soal makar atau upaya menggulingkan kekuasaan tidak bisa dipandang enteng, apalagi sekadar menjadi bahan wacana publik.

“Makar itu nggak mudah, bos. Tanpa senjata sulit dilakukan,” ujar Hensa, sapaan akrabnya, lewat kanal Youtube, Jumat, 10 April 2026. 


Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan adanya skenario politik yang sedang dimainkan di balik riuhnya pernyataan tersebut. Ia menyinggung munculnya narasi di ruang publik yang mulai berani berbicara soal penggulingan kekuasaan sejak Gibran Rakabuming Raka berada di posisi wakil presiden.

“Dulu kita ragu-ragu menggulingkan Prabowo karena Gibran naik, sekarang tidak,” katanya.

Namun Hendri mengingatkan, cara pandang semacam itu justru menunjukkan kesalahan membaca peta politik. Ia menilai ada pihak yang menganggap menjatuhkan Prabowo lebih dulu akan membuka jalan mudah untuk menghadapi Gibran.

“Ada yang berpikir nggak apa-apa Gibran saja, yang penting Prabowo turun dulu. Wah, Anda salah,” tegasnya.

Menurutnya, asumsi bahwa Gibran akan menjadi titik lemah adalah keliru besar. Ia menekankan bahwa Gibran memiliki faktor penopang kekuatan politik yang sangat signifikan, yakni Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

“Jangan disangka kemudian Gibran mudah dijatuhkan atau dipaksa pemilu cepat seperti zaman Habibie dulu. Belum tentu,” ujarnya.

Ia bahkan menilai, jika Gibran sudah berada dalam lingkar kekuasaan, maka Jokowi tidak akan tinggal diam. Sebaliknya, akan ada upaya kuat untuk menjaga stabilitas kekuasaan tersebut.

“Kalau anaknya sudah jadi wapres, pasti bapaknya akan menahan itu supaya long lasting,” pungkasnya.

Hensat menegaskan, dinamika politik Indonesia tidak sesederhana menjatuhkan satu figur untuk melemahkan yang lain. Ada variabel kekuatan besar yang saling terkait, dan setiap skenario politik harus dibaca dengan kalkulasi yang matang, bukan sekadar spekulasi.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya