Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Game Over atau Game Changer?

KAMIS, 09 APRIL 2026 | 19:45 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

DUNIA menunggu keputusan Trump, tanggal 7 April,  jam 8.00  malam,  di Washington DC. Apakah perang akan berlanjut, Iran akan dihancurkan menjadi neraka dalam satu malam dan akan mundur ke Zaman Batu dan hancurnya Peradaban, kata Trump sehari sebelumnya.

Ternyata, Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan menempuh gencatan senjata selama dua minggu dengan syarat Iran membuka lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

"Saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," ujar Trump di Truth Social.


"Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!"

Trump menambahkan bahwa ia menyetujui gencatan senjata sementara tersebut "dengan ketentuan Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara menyeluruh, segera, dan aman".

Trump mengatakan alasan dirinya menyetujui gencatan senjata sementara itu adalah karena "kami telah mencapai dan melampaui seluruh tujuan militer".

Dia juga menyebut pengumuman tersebut disampaikan karena "kami sudah sangat jauh dalam mencapai kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, serta perdamaian di Timur Tengah".

Trump mengatakan Iran telah mengirimkan 10 butir syarat gencatan senjata kepada Amerika Serikat dan Israel.

Trump menyebut 10 butir itu sebagai "dasar yang dapat dijalankan untuk memulai bernegosiasi.

Ia menambahkan bahwa "merupakan suatu kehormatan melihat masalah jangka panjang ini mendekati penyelesaian".

Setelah Trump merilis pernyataan ini, pemerintah Israel mengatakan "mendukung keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua pekan dengan syarat Iran segera membuka Selat Hormuz dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel dan semua negara di kawasan".

Namun, pemerintah Israel menambahkan, "gencatan senjata selama dua pekan tidak mencakup Lebanon".

Game Over


Gencatan senjata segera berlaku di seluruh lini begitu seluruh persyaratan di atas disetujui media pemerintah Iran memberitakan unggahan Trump.

Dilain pihak,Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menyatakan bahwa perundingan akan digelar di Islamabad, ibu kota Pakistan, dalam jangka waktu maksimal 15 hari untuk "memfinalisasi" rincian kesepakatan.

Terlepas dari substansi gencatan senjata, Pakistan disebut telah berperan sebagai mediator dalam pertikaian antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Trump menyebut Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebagai salah satu tokoh yang diajak berkomunikasi dan yang berkontribusi pada tercapainya kesepakatan gencatan senjata bersyarat tersebut.

Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, juga disebut dalam unggahan Trump di Truth Social.

"Mereka meminta agar saya menahan kekuatan destruktif yang rencananya akan dikirim ke Iran malam ini," tulis Trump. Harga minyak dunia anjlok tajam setelah Trump mengumumkan gencatan senjata bersyarat selama dua minggu.

Peta Menuju Perdamaian

Sebelumnya, Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Zarif, mengusulkan peta jalan perdamaian; negara-negara Teluk menunjuk pada terkikisnya kepercayaan.

Rencana Zarif mengusulkan pembatasan program nuklir Iran di bawah pengawasan internasional serta pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas penghentian sanksi.

Rencana Zarif dipublikasikan oleh majalah Foreign Affairs pada hari Jumat, 3 April, 2026 dan melampaui "gencatan senjata sementara".

Dengan latar belakang ini, peta jalan Zarif menyatakan bahwa meskipun Iran menganggap dirinya berhasil dalam perang, memperpanjang konflik  meskipun berpotensi "memuaskan secara psikologis" bagi Teheran hanya akan mengakibatkan hilangnya nyawa warga sipil dan penghancuran infrastruktur lebih lanjut.

Oleh karena itu, Iran harus menawarkan untuk "membatasi program nuklirnya" di bawah pengawasan internasional serta "membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas diakhirinya semua konflik.

Zarif mengatakan bahwa pembatasan nuklir terhadap Iran akan mencakup komitmen untuk tidak pernah berupaya memiliki senjata nuklir dan untuk mencampur seluruh persediaan uranium yang diperkaya sehingga tingkat pengayaannya turun di bawah 3,67 persen.

Menurut perkiraan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran diyakini memiliki sekitar 440 kg (970 lb) uranium yang diperkaya hingga 60 persen, suatu tingkat di mana uranium dapat dengan cepat diperkaya hingga ambang batas 90 persen yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir.

Zarif menyebut tuntutan Trump untuk nol pengayaan sebagai pemikiran yang "khayalan".

Ia mengatakan bahwa Iran juga harus "menerima pakta non-agresi bersama dengan Amerika Serikat" di mana kedua negara berjanji untuk tidak saling menyerang di masa depan.

“AS juga harus mengakhiri semua sanksi dan resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran,” tambahnya.

Konsorsium Regional

Zarif juga menguraikan peran potensial bagi aktor regional dan internasional.

Ia menyarankan agar China dan Rusia bersama dengan AS dapat membantu menciptakan konsorsium pengayaan bahan bakar regional dengan Iran dan negara-negara tetangganya di Teluk di satu-satunya fasilitas pengayaan di Asia Barat, dengan Iran mentransfer semua material dan peralatan yang telah diperkaya ke sana.

Zarif juga mengusulkan agar negara-negara Teluk, negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB, dan mungkin Mesir, Pakistan, dan Turki membentuk kerangka kerja keamanan regional untuk "memastikan tidak adanya agresi, kerja sama, dan kebebasan navigasi", termasuk pengaturan untuk menjamin jalur aman melalui Selat Hormuz.

“Untuk lebih memperkuat perdamaian, Iran dan Amerika Serikat harus memulai kerja sama perdagangan, ekonomi, dan teknologi yang saling menguntungkan,” tambah Zarif.

Politisi Iran itu mengatakan peta jalan ini akan menguntungkan Trump, menawarkannya "jalan keluar yang tepat waktu" dan kesempatan untuk mengklaim perdamaian.

“Emosi mungkin sedang tinggi, dan masing-masing pihak membanggakan kemenangan mereka di medan perang. Tetapi sejarah paling mengingat mereka yang membawa perdamaian,” katanya.

Bagaimana dengan Teluk ? Para pejabat dari negara-negara Teluk telah menanggapi usulan Zarif, mengkritiknya karena mengabaikan serangan Teheran terhadap negara-negara tetangganya.

Game Changer

Lebih dari sebulan setelah perang antara AS-Israel dan Iran pecah, muncul sebuah pertanyaan: 

Perang ini tidak hanya mempengaruhi Iran, tapi juga belasan negara lain di kawasan Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab, Irak, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, Oman, Azerbaijan, Siprus, Suriah, Qatar, Lebanon, dan Tepi Barat yang diduduki Israel.

Banyak kalangan tengah bertanya-tanya apakah skala konflik ini dapat berubah dari regional menjadi perang dengan skala dunia.

Kapan sebuah perang menjadi perang dunia? "Khalayak cenderung berpikir bahwa perang direncanakan dengan sangat hati-hati dan bahwa mereka yang berperang tahu persis apa yang mereka lakukan," kata Margaret MacMillan, profesor emeritus di bidang sejarah internasional di Universitas Oxford, Inggris.

"Faktanya, jika Anda melihat perang-perang di masa lalu, seperti Perang Dunia Pertama, hal yang akhirnya menjadi pemicu adalah kecelakaan dan ada juga fakta orang-orang salah menilai lawan mereka," ujar MacMillan.

"Bayangkan saja situasinya seperti perkelahian di halaman sekolah," ujarnya.

Pembunuhan keponakan Kaisar Austria-Hongaria Franz Joseph, Franz Ferdinand, kata MacMillan, merupakan pemicu rangkaian peristiwa yang menyebabkan Perang Dunia Pertama pada tahun 1914.

Apa yang terjadi selanjutnya, menurut MacMilan, adalah bencana global.

Joe Maiolo, profesor sejarah internasional di King's College London, mendefinisikan perang dunia sebagai perang habis-habisan yang melibatkan semua kekuatan besar.

Banyak kalangan menilai ketegangan di Timur Tengah saat ini bersifat regional. Pertanyaannya, adakah kondisi yang bisa memicu eskalasi yang lebih luas?

Lebih dari satu juta orang telah mengungsi di Lebanon karena perang AS-Israel dengan Iran.

"Saya pikir negara yang kemungkinan besar akan meningkatkan eskalasi adalah Iran, atau sekutu Iran, seperti Houthi di Yaman," kata MacMillan.

Potensi tindakan Iran seperti menargetkan jalur pelayaran atau menutup Selat Hormuz dapat memiliki konsekuensi global, mengganggu pasokan energi dan melibatkan kekuatan-kekuatan besar, menurut MacMillan.

MacMillan berkata, keterlibatan AS juga meningkatkan risiko meluasnya skala konflik. Sejumlah negara lainnya, meskipun tidak terlibat secara langsung dalam konflik ini, juga terpengaruh secara ekonomi atau strategis.

Profesor Maiolo dari King's College London menilai konflik Iran versus AS-Israel akan tetap bersifat regional dan pada gilirannya akan menyeret berbagai negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk, seperti Arab Saudi.

Namun Maiolo yakin China dan Rusia tak akan terlibat dalam perang tersebut.

"Gagasan bahwa sesuatu terjadi di dunia dan China akan menyerang Taiwan hanyalah... omong kosong belaka."

"Tetapi jika kita berbicara tentang Perang Dunia, Perang Dunia Ketiga, saya rasa tidak ada kecenderungan bagi China atau Rusia untuk terlibat langsung sama sekali, dan terlebih lagi, tentu saja, Eropa."

Maiolo percaya China memiliki rencana lain untuk berdiplomasi dengan Presiden AS, Donald Trump.

"Ketika saingan Anda melakukan kesalahan strategis besar, biarkan saja mereka terus melakukannya," katanya.

Lantas apakah China akan untung, meskipun mereka sebenarnya juga terdampak oleh fluktuasi harga minyak? Maiolo mengatakan itu adalah harga kecil yang harus dibayar.

"Dalam hierarki kepentingan strategis yang lebih besar, AS yang sibuk di Timur Tengah jauh lebih menarik daripada sumber minyak China."

Peran para Pemimpin


MacMillan mengatakan sejarah telah menunjukkan bahwa perang sering kali dipicu oleh kesombongan, rasa kehormatan, atau rasa takut terhadap lawan.

Ia menunjukkan bahwa sejarah juga menunjukkan bahwa para pemimpin individu dapat membentuk jalannya peristiwa.

"Perdana Menteri Prancis, Georges Clémenceau, dalam Perang Dunia Pertama mengatakan bahwa membuat perdamaian lebih sulit daripada membuat perang," kata Macmilan.

Menurutnya, seringkali ada argumen bahwa jika ada kerugian besar atau pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang, para pemimpin memutuskan bahwa mereka harus "terus memenangkan perang".

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Meskipun Rusia telah membicarakan kerja sama dengan Iran, hal itu tidak mengharuskan Rusia untuk memberikan bantuan militer kepada Iran.

Macmilan mengatakan kesombongan dapat menjadi faktor bagi para pemimpin, termasuk Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin yang dia gunakan sebagai contoh.

MacMillan menambahkan, para pemimpin yang menolak untuk mengakui kegagalan atau mundur dapat memperpanjang dan memperdalam. 

Sikapnya, kata Macmilan, didorong ideologi, kesombongan, atau khayalan.

Keputusan seperti itu dapat memperluas konflik terbatas menjadi perang yang menghancurkan. Jalan menuju de-eskalasi
Untuk menurunkan ketegangan, diplomasi sangat penting, kata MacMillan.

"Anda perlu mengetahui tentang pihak lain dan Anda perlu berhubungan dengan mereka," ujarnya.

Macmilan menjelaskan, komunikasi antarnegara meningkat dari pada fase akhir Perang Dingin.

"Ada banyak contoh di mana orang-orang berkata, tunggu sebentar, ini mulai gila. Mereka mengerti bahwa situasinya menjadi terlalu bergejolak dan mereka perlu menurunkan ketegangan," ujarnya.

Keberadaan senjata nuklir selalu menjadi pertimbangan dalam kebijakan de-eskalasi ketika kekuatan besar terlibat.

Profesor Maiolo sependapat. "Harus ada pengakuan di Tel Aviv, Washington, dan Teheran bahwa mereka telah mencapai batas kemampuan yang dapat dicapai," ujarnya.

Maiolo berkata, perang yang berkepanjangan tidak akan "berbuah hasil yang diinginkan" bagi semua pihak.

Akan dibutuhkan semacam pengaturan tentang pencabutan sanksi, pengaturan keamanan, hingga pemahaman tentang posisi Iran dalam politik global.

Maiolo mengatakan, hanya melalui mediasi kekuatan-kekuatan yang terlibat dapat membawa perang ke gencatan senjata, dan kemudian mengubahnya menjadi pengaturan.

Kini jalan diplomasi terbuka lebar, suara bising bom dan pesawat sudah tak terdengar. Meja perundingan adalah tempat yang sunyi untuk memulai dialog dan argumentasi.

Perang adalah kegagalan komunikasi yang paling spektakuler, demikian Jean Paul Satre.

Ketika sebuah destinasi di bom, yang hancur bukan sekedar infrastruktur, melainkan memori kolektif kemanusiaan.

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Prabowo Bidik Produksi Sedan Listrik Nasional Mulai 2028

Kamis, 09 April 2026 | 16:15

Program Magang Nasional Tidak Tersentuh Efisiensi

Kamis, 09 April 2026 | 15:56

BGN Siap-siap Dicecar DPR soal Pengadaan Motor Listrik MBG

Kamis, 09 April 2026 | 15:41

Gedung Kementerian PU Mendadak Digeledah Kejati DKI

Kamis, 09 April 2026 | 15:33

Gibran Dukung Hakim Ad Hoc di Persidangan Andrie Yunus

Kamis, 09 April 2026 | 15:21

Purbaya Sebut World Bank Salah Hitung soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:19

Prabowo Dorong VKTR Jadi National Champion Industri Otomotif RI

Kamis, 09 April 2026 | 15:08

Jalan Merangkak Demokrasi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:01

Gibran Ajak Deddy Sitorus Sama-sama Berkantor di IKN

Kamis, 09 April 2026 | 14:37

Susun RUU Ketenagakerjaan, Kemnaker Serap Aspirasi 800 Serikat Buruh

Kamis, 09 April 2026 | 14:30

Selengkapnya