Berita

Bendera Iran. (Foto: Istimewa)

Publika

Mental Baja di Ujung Kiamat, Iran Tetap Berkata ‘Tidak’

KAMIS, 09 APRIL 2026 | 03:30 WIB

PAGI 8 April 2026 ini dunia bukan cuma geleng kepala. Dunia lagi menahan napas sambil seruput Koptagul yang pahit. Bukan karena gula habis, tapi karena satu fakta yang tidak nyaman, ada satu negara yang berani bilang “tidak” ketika yang lain belum diancam sudah sibuk bilang “iya, Pak.”

Cerita dimulai dari ultimatum paling teatrikal abad ini. Donald Trump, dengan gaya khas penuh ledakan kata-kata, memberi batas waktu pukul 8 malam waktu AS. 

Selat Hormuz harus dibuka. Kalau tidak, bersiaplah menyambut “Power Plant Day and Bridge Day” kode keras untuk penghancuran pembangkit listrik dan jembatan. Lalu ia menutup dengan kalimat yang membuat dunia berhenti mengunyah, “a whole civilization will die tonight.”


Ini bukan ancaman biasa, wak. Ini ancaman level peradaban. Selat Hormuz sendiri bukan selokan kampung, sekitar seperlima pasokan minyak dunia lewat sana. Ditutup sedikit saja, harga energi global langsung lompat seperti disetrum. Dunia panik, pasar gemetar, kapal-kapal tertahan seperti antrean panjang tanpa kepastian.

Deadline lewat. Jam sudah melampaui garis yang digambar Trump. Iran… tetap tidak bergeming.

Bukan cuma diam, mereka menolak mentah-mentah ceasefire sementara. Iran justru melempar proposal 10 poin. Perang harus diakhiri permanen, bukan jeda taktis. Mereka tidak mau ikut permainan lama, berhenti sebentar, isi peluru, lalu saling hancurkan lagi.

Di titik ini, Iran bukan lagi sekadar negara. Mereka seperti orang yang sudah terlalu sering ditipu, lalu memilih tidak ikut permainan sama sekali.

Sementara itu, fakta di lapangan tidak kalah panas. Serangan menghantam Kharg Island, urat nadi ekspor minyak Iran. Delapan jembatan dihancurkan. Jalur kereta rusak. Infrastruktur sipil ikut terdampak, korban berjatuhan. Ini bukan retorika, ini angka, ini kerusakan nyata.

Tapi respons Iran bukan mundur. Rudal balistik dan drone tetap meluncur ke Tel Aviv dan Haifa. Sistem pertahanan bekerja overtime, langit jadi ajang adu teknologi. Bahkan serangan Iran juga menyasar fasilitas petrochemical di kawasan Teluk, memperluas eskalasi konflik.

Di dalam negeri, dramanya lebih dalam lagi. Pemuda diajak membentuk human chain mengelilingi pembangkit listrik, tameng hidup, wak. Presiden Iran mengklaim lebih dari 14 juta warga siap mati demi negara. Entah angka itu simbolis atau literal, tapi pesannya jelas, ini bukan gertakan.

Ini mentalitas.

Negara lain kalau ekonominya ditekan bertahun-tahun biasanya melemah. Iran? Sudah hidup dalam sanksi begitu lama sampai tekanan terasa seperti cuaca, tidak nyaman, tapi bukan sesuatu yang membuat mereka berhenti berjalan.

Di panggung global, situasi makin kompleks. Rusia dan China langsung mem-veto resolusi PBB yang ingin memaksa Iran membuka Selat Hormuz. Mereka menilai resolusi itu tidak seimbang.

Prancis mulai mengingatkan soal pelanggaran hukum perang terhadap infrastruktur sipil. Bahkan Paus Leo ikut bersuara, menyebut ancaman kehancuran itu “tidak dapat diterima.”

Dunia ribut. Harga minyak melonjak. Diplomasi berisik. Tapi Iran? Masih sama. Masih berdiri.
Masih berkata, tidak. Nah, di sinilah tamparan itu terasa.

Di era sekarang, banyak negara belum ditembak sudah menyerah. Diancam tarif dagang sedikit, langsung sibuk cari posisi aman. Ditekan ekonomi, langsung melunak. Bahkan ada yang belum apa-apa sudah siap “cium pantat” Trump, demi stabilitas semu.

Sementara Iran, ekonominya jauh lebih kecil, dikepung sanksi bertahun-tahun, infrastrukturnya diserang, justru menunjukkan hal yang jarang, batas yang tidak bisa dinegosiasikan.

Ini bukan soal setuju atau tidak dengan mereka. Ini soal memahami satu hal penting, kedaulatan itu bukan diuji saat aman. Kedaulatan diuji saat ultimatum datang.

Pagi ini, Iran memilih tidak tunduk. Padahal, yang dipertaruhkan bukan sekadar ekonomi… tapi kemungkinan kehancuran total.

Pelajarannya pahit. Kalau sebuah negara bisa goyah hanya karena ancaman tarif, lalu apa yang akan terjadi saat yang datang adalah ancaman “peradaban mati semalam”?

Kalau suatu hari ultimatum seperti ini datang ke depan pintu kita…apakah kita punya mental baja seperti itu. Atau, kita hanya sibuk mencari cara untuk terlihat tidak kalah, padahal sudah menyerah? Itu, yang sebenarnya bikin dunia terdiam pagi ini.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya