Berita

Kolase foto Presiden Prabowo Subianto dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: Produksi RMOL)

Politik

Ungkit BLT Era SBY, Great Institute Ingatkan JK Tak Ganggu Prabowo

RABU, 08 APRIL 2026 | 13:24 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, kembali disorot oleh Great Institute. 

Hal ini disampaikan sebagai respons atas pernyataan Jusuf Kalla yang menyuarakan wacana kenaikan BBM di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini.

Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, menegaskan bahwa kebijakan energi sepenuhnya merupakan kewenangan presiden.


“Kalau urusan energi ini sepenuhnya di tangan Presiden untuk menentukan arah kebijakan BBM, kebijakan energi, konversi energi, transformasi, dan lain-lain,” ujar Syahganda di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Menurutnya, setiap pemerintahan memiliki dasar pertimbangan masing-masing dalam mengambil kebijakan, termasuk di sektor energi.

Syahganda mengingatkan bahwa pada masa pemerintahan SBY bersama Jusuf Kalla, kebijakan kenaikan BBM juga pernah memicu gelombang protes besar dari masyarakat. Saat itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) termasuk pihak yang berada di posisi oposisi.

Namun, pemerintah saat itu segera mengambil langkah lanjutan dengan menggulirkan program **Bantuan Langsung Tunai (BLT)** untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Di zaman Pak SBY dan Jusuf Kalla, ketika menaikkan BBM, uangnya langsung dipakai jadi BLT,” jelasnya.

Syahganda menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua pendekatan dalam kebijakan subsidi, subsidi kepada barang (misalnya BBM) dan subsidi kepada masyarakat langsung (seperti BLT)

“Pilihan subsidi itu kepada barang atau kepada orang,” ujarnya.

Syahganda menilai bahwa setiap presiden memiliki pendekatan berbeda. Karena itu, ia mengingatkan agar tidak muncul kesan saling mengganggu antar tokoh dalam menyikapi kebijakan pemerintah.

Menurutnya, jika pemerintah saat ini lebih fokus pada penciptaan lapangan kerja dan menjaga aktivitas ekonomi, maka subsidi bisa diarahkan pada BBM, bukan langsung kepada individu.

“Kalau Presiden lebih senang menciptakan lapangan kerja atau menjaga aktivitas ekonomi tetap hidup, ya BBM-nya saja yang disubsidi, bukan orangnya,” pungkasnya.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Wakil Bupati Bogor Jaro Ade Dipanggil KPK

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:31

Bisnis Ritel MAP Tumbuh Dua Digit, Laba Bersih Capai Rp2,1 Triliun

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:30

Konser Ye Sumbang Perputaran Ekonomi Rp600 Miliar, UMKM Ikut Kecipratan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Cari Pemimpin Baru, Kadin Jaktim akan Gelar Mukota VII

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Ekosistem Baterai Makin Maju, Toyota Didorong Garap Full EV

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:16

KPK Panggil Sejumlah Tenaga Ahli dan Kepala Biro BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:01

Periksa Suhu

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:00

Dony Oskaria Kumpulkan Petinggi BUMN, Ada Apa?

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:51

Bank Mandiri Buka-bukaan Soal Kredit Rp40 Triliun ke Haji Isam, Beberkan Agunan Saham JARR-PGUN

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:41

Sempat Mangkir, KPK Bakal Panggil Ulang Suami Fadia Arafiq

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:26

Selengkapnya