Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Eskalasi Timur Tengah Angkat Dolar AS ke Level Tertinggi 11 Bulan

RABU, 08 APRIL 2026 | 08:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dolar Amerika Serikat (AS) di pasar uang New York bergerak perkasa di ambang level tertinggi dalam hampir 11 bulan pada penutupan perdagangan Selasa 7 April 2026 waktu setempat atau Rabu pagi WIB. 

Penguatan ini dipicu oleh aksi investor yang mengamankan posisi pada aset safe-haven seiring mendekatnya tenggat waktu dari pemerintah AS bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Kekuatan greenback tercermin jelas melalui pergerakan indeksnya terhadap mata uang utama dunia lainnya.


Dikutip dari Reuters, indeks DXY berada di posisi 99,852. Pekan lalu, indeks ini bahkan sempat menembus angka 100,64, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2025.

Yen Jepang tertekan hingga ke level 159,835 per Dolar AS, hampir menyentuh titik terendah dalam beberapa dekade yang pernah memicu intervensi pasar pada tahun 2024.

Euro diperdagangkan di level 1,1575 Dolar AS di tengah proyeksi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB).

Dolar Australia dan NZ berada di level 0,695 dan 0,57 setelah sebelumnya sempat terpukul akibat serangan infrastruktur energi di Timur Tengah.

Ketegangan di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak Brent ke kisaran 110 Dolar AS per barel menjadi katalis utama dominasi Dolar AS. 

Analis Commerzbank, Thu Lan Nguyen, juga menyoroti kendali Iran atas Selat Hormuz sebagai faktor jangka panjang yang menjaga ketidakpastian pasar tetap tinggi, sehingga menguntungkan posisi dolar sebagai instrumen pelindung nilai.

Selain faktor geopolitik, kekuatan Dolar didukung oleh ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Pasar saat ini tengah mencermati beberapa rilis penting seperti data Inflasi. Fokus investor tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Februari yang dijadwalkan pada Kamis.

Dokumen rapat Federal Reserve periode Maret yang akan dirilis Rabu akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kenaikan suku bunga, terutama jika lonjakan harga energi terus memicu inflasi.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya