Berita

Gubernur Lemhanas 2022-2024, Andi Widjajanto (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Kompas TV)

Politik

Empat Dekade Menunggu: Cara Iran Mengimbangi Amerika

SENIN, 06 APRIL 2026 | 12:07 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gubernur Lemhanas 2022-2024, Andi Widjajanto memaparkan perspektif yang tidak hanya melihat konflik Iran-Amerika Serikat sebagai peristiwa militer, tetapi sebagai hasil dari strategi panjang, kesabaran geopolitik, dan kompleksitas yang kerap diremehkan.

Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi baru-baru ini, Andi mengungkapkan bahwa salah satu kekuatan utama Iran justru terletak pada waktu. 

“Iran sudah menyiapkan retaliasinya ini dalam waktu 40 tahun,” ujarnya, merujuk pada proses panjang sejak berakhirnya perang Iran-Irak, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 6 April 2026.


Ini bukan strategi reaktif, melainkan konstruksi bertahap yang dipelajari dari berbagai konflik sebelumnya, termasuk dua perang Irak yang memiliki tujuan militer jelas dan terukur.

Namun, yang membuat situasi saat ini berbeda adalah sifat strategi Iran yang nyaris tak terbaca. Andi menekankan bahwa tidak ada dokumen resmi, tidak ada kajian akademik, bahkan tidak ada jejak analitis yang bisa dijadikan rujukan. 

“Tidak ada satu analis militer pun di dunia yang bisa membacanya,” katanya. Ketertutupan ini menjadi keunggulan tersendiri, menciptakan ketidakpastian yang menyulitkan lawan.

Salah satu indikasi kuat adanya desain strategi yang matang terlihat dari respons internal Iran terhadap tekanan militer. Andi menyoroti fenomena yang tampak kontradiktif, yaitu terbunuhnya puluhan perwira tinggi justru tidak melemahkan struktur komando, melainkan meningkatkan militansi. 

“Ini berarti sudah ada satu strategi yang dipersiapkan oleh Iran yang kita tidak bisa membacanya,” jelasnya.

Di sisi lain, ia mengkritik kecenderungan Amerika Serikat yang dinilai menyederhanakan kompleksitas ini. Contoh konkret terlihat pada isu Selat Hormuz dan jalur distribusi energi global. 

Iran, menurut Andi, tidak hanya memahami potensi choke point, tetapi juga memainkan strategi tidak langsung, seperti keterlibatan di Yaman untuk mendekati titik tekanan alternatif. Ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya terjadi di garis depan, tetapi juga dalam lanskap logistik dan ekonomi global.

Lebih jauh, Andi menggarisbawahi bahwa dalam perang modern, musuh utama Amerika bukan semata negara lawan, melainkan waktu dan tekanan domestik. Ia menyebut empat faktor yang membebani kepemimpinan Amerika: yield obligasi, pasar saham dan komoditas, inflasi, serta dinamika pemilu. 

Dalam konteks ini, perang yang berlarut, seperti Vietnam dan Afghanistan, menjadi preseden bagaimana dukungan publik dapat runtuh.

“Kalau suplai dunia terganggu, harga naik, masyarakat Amerika tetap membeli bensin mahal,” ungkapnya. 

Ia menekankan bahwa status sebagai produsen minyak terbesar tidak otomatis memberi kendali atas harga global. Bahkan, simulasi yang ia ikuti menunjukkan potensi lonjakan harga minyak hingga 180 Dolar AS per barel, dengan dampak pemulihan yang bisa berlangsung hingga dua setengah tahun.

Dalam dimensi militer, Andi juga menyoroti satu variabel krusial yang belum banyak dibahas: kekuatan udara. 

Ia mengingatkan bahwa dalam konflik sebelumnya, Amerika selalu unggul mutlak di udara. Namun kini, Iran masih memiliki kapasitas untuk melakukan serangan udara, yang berarti supremasi udara Amerika belum sepenuhnya terjamin. 

“Militer punya prinsip: tanpa supremasi udara, tidak akan ada pasukan darat,” tegasnya.

Ketika ditanya mengenai target waktu 2-3 minggu yang dicanangkan pihak Amerika, Andi melihatnya lebih sebagai strategi komunikasi ketimbang realitas operasional. 

Ia mengaitkannya dengan faktor geografis - musim panas Timur Tengah yang ekstrem - serta kemungkinan bahwa exit strategy yang disiapkan adalah mundur tanpa secara eksplisit mengakui kekalahan.

Dari keseluruhan pandangannya, Andi Widjajanto mengajak kita melihat konflik ini bukan sebagai duel kekuatan semata, tetapi sebagai permainan panjang yang melibatkan strategi tersembunyi, tekanan ekonomi, psikologi publik, dan batasan alam. 

Dalam lanskap seperti ini, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang lebih siap?"dan lebih sabar.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya