Berita

Ilustrasi (Imagined by Babbe)

Bisnis

Bukan Pangkas Bunga, Ini Jurus Halus China Amankan Ekonomi

SENIN, 06 APRIL 2026 | 10:37 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bank sentral China (PBOC) tampaknya sedang tidak terburu-buru untuk memangkas suku bunga. 

Menurut laporan terbaru dari Goldman Sachs, kebijakan "diskon" bunga ini baru akan diambil jika ekonomi China benar-benar menunjukkan tanda-tanda darurat.

Laporan dari Dow Jones Newswires, dikutip Senin 6 April 2026, menjelaskan bahwa alih-alih langsung memotong suku bunga acuan, PBOC kini lebih memilih main cantik. Mereka lebih fokus menekan biaya pinjaman lewat sistem perbankan. Artinya, mereka ingin dana murah sampai ke tangan pengusaha melalui perantara keuangan, bukan sekadar menurunkan angka di atas kertas.


Data awal tahun (atau sepanjang Januari-Februari) memberikan kejutan manis karena hasilnya lebih kuat dari prediksi. Ditambah lagi, inflasi produsen (PPI) diprediksi mulai bangkit ke zona positif. 

Karena kondisi ekonomi dianggap cukup solid dan risiko keuangan masih aman terkendali, Goldman Sachs pun membatalkan prediksi mereka soal penurunan suku bunga sebesar 10 basis poin untuk tahun 2026.

Berbeda dengan bank sentral negara maju (seperti AS atau Eropa) yang hobi menaikkan atau menurunkan suku bunga secara umum, China punya cara sendiri. Mereka lebih suka menggunakan "instrumen khusus" seperti penyuntikan likuiditas (dana segar) ke pasar, pengaturan kredit yang lebih spesifik, serta dukungan langsung ke sektor tertentu (seperti teknologi tinggi dan infrastruktur).

Ada alasan lain di balik sikap hati-hati ini, yaitu nilai tukar Yuan.

Di saat suku bunga global masih tinggi, memotong bunga domestik terlalu drastis bisa membuat Yuan melemah. 
PBOC harus menjaga keseimbangan antara membantu ekonomi dalam negeri dan menjaga stabilitas mata uang mereka di mata dunia.

Ke depan, China bakal tetap memakai jurus targeted easing. Artinya, bantuan hanya akan disalurkan ke sektor-sektor prioritas yang memang butuh dorongan, tanpa harus memangkas suku bunga secara massal.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya