Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Pasar Kerja AS Melesat Tajam, Tingkat Pengangguran Turun jadi 4,3 Persen

SABTU, 04 APRIL 2026 | 08:44 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ekonomi Amerika Serikat baru saja memberikan kejutan manis di bulan Maret. Berdasarkan laporan terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), jumlah lapangan kerja di luar sektor pertanian atau yang populer disebut Nonfarm Payrolls (NFP), melonjak tajam sebanyak 178.000 pekerjaan.

Angka ini bukan sekadar angka biasa. Ini adalah sebuah "rebound" atau pembalikan arah yang luar biasa setelah pada bulan Februari lalu pasar tenaga kerja sempat lesu dengan penurunan sebanyak 133.000 posisi. 

Hebatnya lagi, pencapaian Maret ini jauh melampaui ekspektasi para pengamat ekonomi yang hanya berani memprediksi kenaikan di angka 60.000 saja.


Selain lonjakan lapangan kerja, ada beberapa poin penting lainnya dalam laporan tenaga kerja kali ini, salah satunya adalah tingkat pengangguran membaik.

Angka pengangguran resmi turun tipis menjadi 4,3 persen dari sebelumnya 4,4 persen. 

Ada sedikit penurunan pada jumlah orang yang aktif mencari kerja atau bekerja, yakni dari 62 persen menjadi 61,9 persen. 

Pertumbuhan gaji tahunan rata-rata melambat menjadi 3,5 persen dari sebelumnya 3,8 persen. Ini mengindikasikan tekanan inflasi dari sisi upah mulai sedikit mendingin.

BLS juga melakukan "bersih-bersih" data pada periode sebelumnya. Data Januari dikoreksi naik menjadi +160.000, namun data Februari justru dikoreksi lebih dalam menjadi -133.000. Secara total, gabungan revisi dua bulan tersebut membuat angka lapangan kerja 7.000 lebih rendah dari laporan awal.

Lalu, apa dampaknya untuk pasar? 

Segera setelah data ini rilis, mata uang Dolar AS (USD) langsung bereaksi. Indeks Dolar (DXY) terlihat bergerak fluktuatif namun cenderung menguat, mencoba bertahan di atas level psikologis 100,00.

Sebagai informasi tambahan, NFP adalah salah satu indikator ekonomi paling berpengaruh di dunia karena berperan sebagai penentu kebijakan suku bunga. Bank Sentral AS (The Fed) menggunakan data ini untuk memutuskan apakah mereka perlu menaikkan atau menurunkan suku bunga.

Jika NFP kuat, artinya ekonomi sedang bergairah, orang-orang punya penghasilan, dan daya beli terjaga.

Data yang lebih bagus dari ekspektasi biasanya membuat investor berebut membeli Dolar, yang kemudian bisa berdampak pada nilai tukar Rupiah.

Sebagai catatan, meskipun jumlah lapangan kerja naik, melambatnya pertumbuhan upah (3,5 persen) bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ini bagus untuk menekan inflasi, namun di sisi lain, daya beli masyarakat mungkin tidak akan tumbuh secepat sebelumnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya