Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Mata Elang AS Dirudal Iran

SENIN, 30 MARET 2026 | 13:16 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DI langit perang modern, ada satu makhluk yang tidak bersenjata tapi ditakuti. Pesawat ini tidak menembak, tidak menjatuhkan bom, bahkan tidak mengejar siapa pun.

Matanya seperti elang di udara, tapi tak pernah menyerang. Ia hanya melihat. Dan justru karena itulah semua orang gemetar.

Namanya panjang seperti gelar profesor luar negeri yaitu E-3 Sentry AWACS. AWACS sendiri nama singkatan dari Airborne Warning and Control System.


Pesawat ini mirip Boeing 707, dengan “piring terbang” (radar dome) di atas tubuhnya. Salah satu darinya baru saja dirudal oleh Iran hingga pecah berkeping.

Dari foto-foto yang beredar, berasal dari pangkalan Prince Sultan Air Base di Saudi Arabia, tampak “makhluk langit” ini terbaring seperti paus raksasa kandas di gurun.

Bagian depan badannya koyak seperti kaleng sarden dibuka pakai obeng. Rangka logamnya mencuat keluar, seperti tulang yang tak sempat disembunyikan. Sayapnya masih setengah gagah, tapi badannya sudah seperti kehilangan jiwa.

Ekor bertuliskan “U.S. Air Force” berdiri sunyi seperti papan nama di kuburan teknologi. Anda sudah tahu apa arti U.S. Air Force, bahkan cukup dari gambar benderanya.

Di sekelilingnya, serpihan logam berserakan, dan beberapa petugas berpakaian pelindung putih berjalan pelan, seolah sedang mengautopsi makhluk yang dulu dianggap “tidak tersentuh” karena memang suka terbang hingga 10.000 meter di langit.

Mari kita sederhanakan. AWACS bukan sekadar pesawat. Ini adalah “menara komando terbang” pasukan Amerika Serikat yang paling dibanggakan dan diandalkan sejak dekade tahun 70-an.

Bayangkan sebuah ruang kendali perang lengkap mulai dari radar, komputer, operator, analis, hingga komunikasi global, dipasang di dalam tubuh pesawat Boeing, lalu diterbangkan setinggi 9-10 kilometer.

Di atas sana, ia melihat ratusan kilometer ke segala arah. Pesawat tempur, rudal, drone, bahkan pergerakan udara kecil pun masuk dalam radar AWACS.

Dalam bahasa lebih jujur, ia adalah “mata, telinga, dan otak” yang mengatur perang dari langit. Jika jet tempur itu ibarat prajurit, maka AWACS adalah jenderalnya. Ia tidak berperang, tapi semua perang bergantung padanya.

Yang disebut “pusat komando” di dalam AWACS bukan metafora. Di dalamnya ada belasan hingga puluhan operator yang memantau layar radar, mengidentifikasi ancaman, mengarahkan jet tempur, mengatur formasi, bahkan mengoordinasikan serangan lintas udara-laut-darat.

Pilot pesawat tempur sering kali tidak melihat musuhnya. Mereka “melihat” melalui AWACS. Jadi ketika orang berkata “tanpa AWACS, pesawat tempur buta”, itu bukan dramatisasi.

Itu kenyataan operasional, persis seperti sopir taksi online tanpa GPS. Tapi bedanya, pesawat raksasa ini bukan nyasar ke gang sempit, melainkan ke medan perang.

Seperti semua teknologi, AWACS punya sejarah. Ini bukan teknologi baru kemarin sore. Ia lahir dari paranoia Perang Dingin, ketika dunia dibagi dua seperti roti bakar yang diperebutkan dua anak kecil bersenjata nuklir.

Versi E-3 Sentry yang disayat-sayat Iran itu dikembangkan oleh Boeing pada 1970-an dan mulai digunakan sejak akhir dekade itu.

Sejak saat itu, AWACS hadir dalam hampir semua perang besar Amerika. Ia tampil gagah di Perang Teluk 1991, hadir dalam invasi Irak 2003, operasi NATO di Balkan, hingga perang di Afghanistan.

Ia menjadi semacam “dewa kecil di langit” yang tidak disembah, tapi ditaati. Semua pergerakan udara tunduk pada bisikannya.

Bukan hanya Amerika yang punya. NATO, Arab Saudi, Inggris, hingga Prancis, semua punya versi AWACS. Versi E-3 Sentry yang hancur berkeping-keping itu milik AS sendiri.

Bahkan kini ada generasi baru seperti AWACS E-7 Wedgetail, yang lebih modern, lebih digital, lebih canggih, seperti upgrade dari telepon rumah ke smartphone, tapi untuk urusan mengatur perang.

Lalu muncul pertanyaan yang menggoda yaitu kalau pesawat sehebat ini bisa dihantam oleh pasukan dari negara sekelas Iran, apakah itu tanda kekalahan militer Amerika?

Di sinilah kita perlu sedikit paham di tengah pesan-pesan yang berseliweran di grup-grup WhatsApp.

Menurut berbagai laporan awal, serangan terhadap pesawat ini dilakukan dengan kombinasi rudal balistik dan drone dalam satu gelombang serangan. Dalam istilah militer, serangan demikian disebut saturation attack.

Bayangkan Anda punya payung kecil, lalu tiba-tiba hujan bukan air, tapi batu kerikil dari segala arah. Tidak semua bisa ditangkis. Sebagian pasti lolos.

Dan di sinilah ironi terbesar AWACS. Di udara ia raja, di darat ia hanya “target parkir”. Ia besar, mencolok, tidak bergerak, dan tidak punya pertahanan aktif seperti jet tempur.

Begitu sistem pertahanan pangkalan jebol, entah karena jumlah serangan, sudut datang, atau sekadar naas, maka pesawat ini berubah dari “mata langit” menjadi “bangkai mahal”.

Dan mahal di sini bukan metafora. Satu unit E-3 Sentry bernilai sekitar 270 juta dolar AS, atau mendekati empat triliun rupiah. Itu belum termasuk biaya pelatihan kru, sistem elektronik, dan nilai strategisnya.

Dengan jumlah AWACS yang tersisa hanya belasan unit aktif, kehilangan satu saja seperti kehilangan satu server utama dalam sistem global. Anda tahu, ia bukan sekadar perangkat, tapi simpul.

Namun, apakah ini berarti kekalahan strategis? Bisa iya, bisa tidak. Sebab, militer modern bukan lagi satu mata, tapi jaringan ribuan mata. Ada satelit, radar darat, kapal perang, drone, hingga intelijen digital.

Kehilangan AWACS memang pukulan serius bagi AS, tapi bukan berarti seluruh sistem langsung gelap gulita. Ini lebih seperti kehilangan Google Maps, di mana Anda masih bisa jalan, tapi mulai banyak belokan yang membuat ragu.

Yang lebih menarik bukan hanya hancurnya pesawat itu sendiri, melainkan maknanya. Bahwa benar Iran bisa menjangkau sistem seperti ini, maka kita sedang menyaksikan pergeseran diam-diam dalam wajah perang.

Bahwa yang dulu dianggap “tak tersentuh”, kini mulai bisa disentuh bahkan oleh sekadar drone. Bahwa dominasi tidak lagi absolut, tapi mulai dinegosiasikan ulang, dengan rudal, dengan drone, dan dengan api kemandirian Iran yang pantang menyerah.

Dan mungkin, di situlah pelajaran paling filosofisnya. Pesawat yang dirancang untuk melihat segala sesuatu ternyata tetap tidak bisa melihat satu hal yakni bahwa dirinya sendiri suatu hari akan menjadi target.

Dalam perang, bahkan mata pun bisa dibutakan.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

UPDATE

PBB Harus Bertindak Usai TNI Gugur dalam Serangan Israel

Senin, 30 Maret 2026 | 16:08

Apel Perdana Pasca Lebaran, Sekjen DPD Minta Kinerja Pegawai Dipercepat

Senin, 30 Maret 2026 | 16:06

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR: Ini Menyakitkan

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Penerbangan Langsung Tiongkok-Korut Kembali Dibuka Setelah Vakum Enam Tahun

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Cak Imin Kritik Cara Pandang Aparat dalam Kasus Amsal Sitepu

Senin, 30 Maret 2026 | 16:01

Pemprov DKI Segera Susun Aturan Turunan PP Tunas

Senin, 30 Maret 2026 | 15:53

Lebaran Selesai, Kemenkop Gaspol Operasionalisasi Kopdes Merah Putih

Senin, 30 Maret 2026 | 15:45

Komisi II Kulik Proker hingga Renstra KPU-Bawaslu-DKPP

Senin, 30 Maret 2026 | 15:40

Target Pengesahan RUU Hukum Acara Perdata Masih Abu-Abu

Senin, 30 Maret 2026 | 15:31

Wamenhaj RI Bahas Antisipasi Biaya dan Logistik Haji 2026 dengan Arab Saudi

Senin, 30 Maret 2026 | 15:29

Selengkapnya