Antrean panjang warga Sri Lanka di SPBU (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube France24)
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai memicu dampak global yang serius, salah satunya dirasakan langsung oleh Sri Lanka.
Dikutip dari Al-Jazeera, Sabtu 28 Maret 2026, negara Asia Selatan yang bergantung pada impor energi ini kini mengalami kelangkaan bahan bakar.
Pemerintah kembali menerapkan sistem penjatahan berbasis QR, mirip dengan krisis ekonomi 2022. Warga harus mengantre panjang hanya untuk mendapatkan jatah mingguan, seperti pengemudi tuk-tuk yang kini hanya memperoleh 20 liter bensin per minggu.
Selain langka, harga bahan bakar juga melonjak sekitar 33 persen sejak perang dimulai. Kenaikan ini merembet ke sektor lain, termasuk transportasi dan pangan. Para ahli memperkirakan harga makanan di Sri Lanka bisa naik hingga 15 persen karena terganggunya pasokan pupuk global yang juga banyak melewati Selat Hormuz yang kini masih diblokir Iran.
Bagi banyak warga, kondisi ini mengingatkan kembali pada krisis ekonomi parah beberapa tahun lalu. Namun kali ini, mereka melihat penyebabnya berasal dari faktor eksternal. Seorang warga, Keerthi Rathna, mengatakan, “Kali ini, tidak ada yang bisa menyalahkan pemerintah ini karena perang melawan Iran bukan di tangan Sri Lanka.”
Tekanan terhadap pemerintah pun meningkat. Juru bicara kabinet, Nalinda Jayatissa, menegaskan bahwa kenaikan tarif transportasi akan diturunkan jika harga bahan bakar kembali stabil.
Namun di sisi lain, ia mengakui kondisi fiskal negara sedang tertekan karena pemerintah tetap harus menanggung subsidi energi. Bahkan, meski harga sudah dinaikkan, Sri Lanka masih merugi sekitar 63 juta dolar AS per bulan.
Seorang pejabat Kementerian Energi menjelaskan bahwa kenaikan harga di dalam negeri sengaja tidak mengikuti lonjakan harga global sepenuhnya. “Kenaikan harga yang kami lakukan lebih kecil daripada kenaikan di pasar internasional,” ujarnya. Artinya, pemerintah menanggung selisih biaya untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih parah seperti lumpuhnya transportasi dan hilangnya lapangan kerja.
Untuk menghemat energi, pemerintah juga mengambil langkah tambahan seperti menutup kantor pemerintah dan sekolah setiap hari Rabu. Di saat yang sama, Sri Lanka mulai mencari alternatif pasokan energi, termasuk menjajaki impor dari Rusia. Namun, upaya ini masih terkendala logistik dan keterbatasan kapasitas penyimpanan bahan bakar.
Masalah mendasar lainnya adalah minimnya cadangan energi. Sri Lanka hanya mampu menyimpan bahan bakar untuk sekitar satu bulan, membuatnya sangat rentan terhadap krisis global.
Jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dampaknya tidak hanya pada energi tetapi juga ketahanan pangan, mengingat ketergantungan negara ini pada impor pupuk dan bahan baku dari luar negeri.