Berita

Anggota DPR dari Dapil Papua Barat Daya, Robert J. Kardinal (Foto: Istimewa)

Politik

Pemerintah Didesak Atasi Monopoli Penerbangan di Kawasan Timur Indonesia

JUMAT, 27 MARET 2026 | 10:30 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) diminta segera menerbitkan kebijakan strategis untuk memutus praktik monopoli dan duopoli rute penerbangan, khususnya di kawasan timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Hal itu disampaikan Anggota DPR dari Dapil Papua Barat Daya, Robert J. Kardinal, dalam menyoroti struktur industri penerbangan nasional saat ini yang dianggap tidak sehat karena hanya didominasi dua kelompok besar, yakni Grup Lion dan Grup Garuda. 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat harga tiket pesawat sulit turun dan cenderung tidak rasional, terutama untuk rute-rute ke wilayah timur Indonesia.


“Di Papua misalnya, rute-rute perintis hingga kota kecil hanya dilayani oleh Wings Air, Lion Air, dan Super Air Jet yang berada dalam satu payung bisnis,” kata Robert dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat, 27 Maret 2026.

Ia mencontohkan rute Jakarta-Sorong saja dapat tembus Rp15-20 juta sekali jalan. 

"Harga tiket menjadi mahal karena tidak ada kompetisi. Mau tidak mau harus beli, meskipun harganya bisa mencapai Rp15 juta sampai Rp20 juta untuk sekali jalan,” jelasnya.

Selain dominasi maskapai, politikus Golkar ini juga menyinggung keterbatasan armada maskapai milik Pemerintah seperti Garuda Indonesia dan Citilink yang dinilai tidak mampu menjangkau seluruh rute secara optimal. 
"Garuda-Citilink (BUMN) tidak mampu atau sengaja dibuat tidak mampu ditambah lagi dengan aturan (regulator) sehingga terjadilah monopoli," ujarnya.

Ia menilai, tidak semua rute harus dipaksakan dilayani oleh maskapai pelat merah. Karena itu, dia meminta maskapai swasta lain bisa dilibatkan atasi persoalan ini, 

“Garuda sebaiknya fokus pada rute gemuk dan menguntungkan saja. Jangan semua rute diambil, apalagi kalau justru membebani keuangan negara,” katanya.

Lebih jauh, ia mengungkap bahwa kondisi ini diperparah oleh praktik duopoli yang menciptakan “ilusi kompetisi”. Di balik banyaknya merek maskapai, perputaran pasar sebenarnya hanya berputar pada dua kelompok besar, sehingga ruang persaingan menjadi sempit.

"Ini juga yang saya alami di dapil saya di Papua sana. Yang masuk ke kampung-kampung di Papua itu, yang ada kan hanya Susi Air. Akhirnya ya harganya sih suka-suka dia. Jadi tidak ada pilihan bagi masyarakat Papua, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, rakyat yang di kampung-kampung, mereka tidak punya opsi (maskapai) lain," sesalnya.

Sebagai solusi, Robert mendorong Kementerian Perhubungan membuka seluas-luasnya akses bagi maskapai swasta, bahkan termasuk dari luar negeri untuk masuk melayani rute domestik di Indonesia. Terutama di wilayah yang belum terlayani optimal.

“Kalau swasta dalam negeri belum mampu, buka saja untuk maskapai dari Singapura, Malaysia, Australia, bahkan Eropa atau China. Yang penting masyarakat punya pilihan dan harga bisa turun,” tegasnya.

Anggota Komisi IV DPR RI ini optimis, jika ada regulasi yang dapat membenahi struktur pasar di industri penerbangan kita, maka tiket murah bukanlah hal yang mustahil. 

"Negara harus hadir sebagai regulator yang adil, bukan justru membiarkan rakyat terjebak dalam sistem yang tidak kompetitif,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya