Berita

Hendrik Irawan, mitra MBG di wilayah Batujajar, Kabupaten Bandung. (Foto: Istimewa)

Publika

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

JUMAT, 27 MARET 2026 | 06:07 WIB

ADA satu hukum tak tertulis di negeri +62. Gravitasi boleh dilawan. Pajak bisa dinegosiasi. Tapi, netizen jangan sekali-sekali diajak duel. 

Ini bukan sekadar hukum sosial. Ini hukum kosmik. Kalau Isaac Newton masih hidup pun, dia mungkin akan nambah satu rumus lagi, F = Netizen² x Viralitas. 

Kisah ini dimulai dari sebuah dapur. Bukan dapur biasa. Ini dapur beraroma ambisi, dibangun dengan investasi Rp3,5 miliar. Harapannya sederhana. Masak makanan, bagi gizi, panen pahala… dan tentu saja, cuan.


Lalu datanglah momen sakral itu. Sebuah video. Joget. Senyum. Angka keramat, Rp6 juta per hari.

Di titik itu, alam semesta berhenti sejenak. Burung-burung berhenti berkicau. Warga +62 berhenti scroll TikTok selama 0,7 detik. Ini sebuah rekor belum pernah terjadi sejak manusia pertama kali menemukan kuota murah.

Kemudian… Boom! 

Netizen bangkit seperti pasukan Avengers tanpa briefing. Tidak ada rapat koordinasi. Tidak ada komandan. Tapi serangannya rapi, terstruktur, dan penuh dedikasi. Dari kolom komentar sampai story WhatsApp tante-tante, semua ikut turun tangan.

Hendrik Irawan mungkin awalnya mengira ini hanya badai kecil. Paling seminggu juga reda. Ternyata bukan badai. Ini tsunami digital berskala Richter 9,9.

Ia pun mencoba bertahan. Memberi klarifikasi. Menjelaskan. Bahkan menyebut angka-angka. Ada 150 karyawan terdampak, investasi belum balik, hati yang mulai retak seperti kaca spion motor diserempet emak-emak.

Namun, dalam dunia per-netizen-an, klarifikasi sering kali bukan obat. Kadang justru bensin. Benar saja.

Alih-alih padam, api justru makin besar. Netizen bukan hanya membaca, mereka menganalisis. Bukan hanya menganalisis, mereka menyimpulkan. Bukan hanya menyimpulkan, mereka menghakimi dengan penuh cinta dan paket data.

Sampai akhirnya… BGN turun tangan.

Seperti wasit yang meniup peluit di tengah keributan, Badan Gizi Nasional memutuskan, operasional dihentikan. Sementara, kata mereka. Tapi dalam bahasa netizen, “sementara” itu bisa berarti “nunggu lupa” yang biasanya tidak akan pernah terjadi.

Dari pihak Hendrik, narasinya lebih dramatis. Katanya, ditutup selamanya. Karyawan diberhentikan. Mimpi-mimpi dikemas dalam kardus bekas mie instan. Sementara dari BGN: “Ini hanya penghentian sementara.”

Dua narasi. Dua dunia. Satu kenyataan, dapurnya tidak lagi mengepul. Di sinilah absurditas mencapai puncaknya.

Sebuah dapur yang awalnya ingin memberi makan orang banyak, kini justru “dimakan” oleh opini publik. Sebuah video joget yang mungkin niatnya sekadar ekspresi, berubah menjadi ritual pemanggil badai digital.

Ini seperti menyalakan lilin di tengah bensin, lalu heran kenapa jadi kebakaran.

Yang lebih menarik lagi, fenomena ini bukan soal benar atau salah semata. Ini soal sensitivitas sosial yang punya radar sendiri. Di negeri ini, angka Rp6 juta per hari itu bukan sekadar angka. Itu bisa berubah jadi cerita. Bisa jadi luka. Bisa jadi bahan bakar emosi kolektif.

Apalagi kalau dikemas dengan joget. Joget, wak.

Itu bukan sekadar gerakan tubuh. Di tangan netizen, joget bisa berubah jadi bukti, simbol, bahkan dakwaan.

Ketika semua sudah terjadi, barulah muncul kalimat klasik yang menggema dari Sabang sampai komentar TikTok, "Netizen kejam.”

Padahal, netizen itu seperti cermin. Kadang memantulkan, kadang membesarkan, kadang juga… memecahkan.

Sekarang semuanya kembali ke nol. Dapur sunyi. Karyawan pulang. Narasi berseliweran. Lalu, publik? Sudah mulai mencari cerita baru. Karena begitulah siklusnya.

Hari ini kamu viral. Besok kamu hilang. Lusa kamu jadi contoh di thread motivasi.

Kalau mau joget, jogetlah. Kalau mau pamer, pamerlah. Tapi ingat…Di negeri ini, netizen bukan penonton. 

Mereka adalah penulis naskah yang bisa mengubah akhir cerita kapan saja. Kalau sudah begini, bukan cuma usaha yang ditutup. Kadang… logika juga ikut tutup sementara.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Pabrik Bioetanol Bakal Diperbanyak, Pemerintah Siapkan Revisi Perpres 40

Selasa, 08 September 2026 | 18:19

BUK Migas Harus Lebih Gesit Kejar Investasi dan Lifting

Selasa, 08 September 2026 | 17:57

Menimbang Ulang Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 17:41

Pemerintah Harus Antisipasi Kekeringan dan Gagal Panen akibat El Nino

Selasa, 08 September 2026 | 17:34

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

Selasa, 08 September 2026 | 17:23

KPK Panggil Anggota DPRD Hingga Pengurus Golkar Jateng di Kasus Bupati Pemalang

Selasa, 08 September 2026 | 17:14

Masa Jabatan Kapolri: Open Legal Policy atau Celah Subjektivitas?

Selasa, 08 September 2026 | 16:47

Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Darat Pertama di Perbatasan

Selasa, 08 September 2026 | 16:40

RUU Pemilu Jangan Keluar dari Filosofi Dasar Demokrasi

Selasa, 08 September 2026 | 16:34

Purbaya Curhat Suka Duka jadi Menkeu, Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Selasa, 08 September 2026 | 16:31

Selengkapnya