Berita

Foto ilustrasi. (Foto: Dok. Denny JA)

Publika

Perang Iran-Isrel dan Rapuhnya Pasar Minyak Global

JUMAT, 27 MARET 2026 | 03:01 WIB | OLEH: DENNY JA

MALAM itu, langit Teluk Persia tak lagi gelap. Ia menyala oleh kilatan rudal.

Di kejauhan, kapal-kapal tanker berhenti. Mesin dimatikan. Radio hanya berisi satu kata yang sama: hold position. Selat Hormuz, jalur sempit yang selama puluhan tahun menjadi nadi energi dunia, mendadak membeku.

Di atas peta global, itu hanya garis tipis. Namun dalam kenyataan, ia adalah urat nadi yang membawa hampir seperlima minyak dunia.


Dalam hitungan jam, dunia menyadari sesuatu yang selama ini tidak ingin diakuinya. Ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, dan Iran membalas dengan menutup akses laut itu, yang runtuh bukan hanya aliran minyak. 

Yang runtuh adalah keyakinan lama bahwa pasar energi global itu kokoh.
Pada saat itu, kebenaran muncul tanpa bisa disangkal. Pasar minyak global sesungguhnya rapuh.

-000-

Hari Kedua di CERAWeek, Houston. Ruang-ruang diskusi dipenuhi bukan oleh optimisme, tetapi oleh kesadaran yang lebih dalam dan lebih sunyi. Dunia energi sedang berdiri di atas tanah yang tidak lagi kokoh.

Judul-judul sesi menjadi cermin kegelisahan zaman:

“Beyond Disruption: Upstream Strategies for the Next Decade”
“Asian Oil & Gas: Repositioning Portfolios for Growth”
“Global Oil Outlook: Market Fundamentals and Geopolitical Turbulence”


Di balik kata-kata itu, tersimpan satu benang merah yang tak lagi bisa diabaikan. Kita tidak lagi berbicara tentang pertumbuhan semata. Kita berbicara tentang bagaimana bertahan di dunia yang tidak pasti.

Hari itu mempertemukan suara dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Kawasan yang dahulu berada di pinggiran kini bergerak menjadi pusat gravitasi baru. Mereka tidak datang membawa janji. Mereka datang membawa kenyataan yang lebih jujur.

Pasar minyak global yang dibangun dengan presisi, teknologi, dan efisiensi tinggi ternyata menyimpan kelemahan mendasar. Ia bergantung pada stabilitas dunia yang tidak stabil.

-000-

Perang Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat menjadi bukti paling telanjang dari kerapuhan itu.

Dalam hitungan hari, jalur energi terguncang. Selat Hormuz berubah dari garis tipis di peta menjadi titik yang menentukan denyut ekonomi dunia.

Harga melonjak bukan karena bumi kehabisan minyak, tetapi karena dunia takut aliran itu terputus.

Di sinilah paradoks itu menjadi terang. Pasar minyak global tidak rapuh karena kekurangan sumber daya. Ia rapuh karena terlalu terhubung pada titik-titik yang mudah terguncang.

Dari berbagai sesi, lahir kesadaran kolektif yang tajam. Pasar minyak global dibangun terlalu efisien, tetapi tidak cukup tangguh.

Efisiensi selama ini dianggap sebagai puncak kecerdasan sistem. Namun efisiensi juga berarti pengurangan cadangan, pemangkasan jalur alternatif, dan ketergantungan pada rute paling murah, bukan yang paling aman.

Ketika krisis datang, sistem itu tidak memiliki ruang untuk bernapas. Ia tidak memiliki waktu untuk menyesuaikan diri. Ia hanya bisa bereaksi, dan sering kali terlambat.

-000-

Tiga alasan mengapa pasar minyak global ternyata rapuh.

Pertama, ketergantungan pada titik sempit yang mematikan.
Pasar minyak dunia bertumpu pada chokepoint seperti Selat Hormuz. Ketika jalur ini terganggu, bukan hanya minyak yang terhenti. 

Gas, pupuk, dan pangan ikut terguncang. Sekitar 20 persen pasokan dunia tersandera dalam waktu singkat. Satu gangguan di satu titik mampu mengirim gelombang ke seluruh planet. Dunia yang luas ternyata bertumpu pada lorong yang sempit.

Kedua, sistem yang terlalu efisien dan terlalu tipis.

Selama puluhan tahun, dunia mengejar efisiensi dengan memangkas cadangan dan mengurangi bantalan. 

Hasilnya memang luar biasa. Minyak mengalir cepat dan murah. Namun ketika krisis datang, kita menemukan kenyataan yang lebih sunyi. Tidak ada cukup ruang untuk bertahan. Kapasitas cadangan terbatas. Respons pasokan tidak cukup cepat. 

Dalam waktu singkat, harga melonjak, biaya logistik naik, dan bayang-bayang perlambatan ekonomi muncul. Efisiensi yang dulu dipuja berubah menjadi kerentanan yang tak disadari.

Ketiga, energi yang terikat pada politik.

Pasar minyak kini tidak berdiri sendiri. Ia bergerak bersama konflik geopolitik. Perang tidak hanya menghancurkan kota, tetapi juga pipa, kilang, dan pelabuhan. 

Harga tidak lagi ditentukan semata oleh permintaan dan penawaran, tetapi oleh keputusan militer dan ketegangan diplomatik. Dalam satu hari, kabar gencatan senjata dapat menurunkan harga. 

Dalam hari berikutnya, kabar baru dapat kembali melonjakkan harga. Pasar menjadi emosional, tidak stabil, dan sulit diprediksi.

-000-

Dari semua itu, kita sampai pada satu pelajaran yang pahit namun jujur. Dunia tidak kekurangan minyak. Dunia kekurangan ketahanan.

Di Selat Hormuz, sekitar seperlima konsumsi minyak global dan seperempat perdagangan minyak laut tersendat; satu selat sempit mendadak menguji cadangan strategis, diplomasi, dan kemampuan koordinasi dunia.

Selama ini kita percaya bahwa pasar akan selalu menemukan jalan. Bahwa teknologi akan selalu menyelamatkan. Bahwa globalisasi akan terus mengalir tanpa hambatan.

Namun di Selat Hormuz, keyakinan itu runtuh. Oleh satu konflik. Oleh satu keputusan. Oleh satu titik sempit di peta dunia.

Kita diingatkan kembali bahwa kekuatan sejati sebuah sistem bukan pada seberapa efisien ia berjalan, tetapi pada seberapa lama ia mampu bertahan ketika dunia berhenti bergerak.

Dan di situlah, masa depan energi sedang ditentukan.

-000-

Dua buku penting membantu kita memahami akar kerapuhan ini.

Pertama, The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations karya Daniel Yergin.

Buku ini menggambarkan dunia energi sebagai peta kekuasaan yang terus bergeser. Jalur energi seperti Selat Hormuz, pipa Rusia ke Eropa, dan revolusi shale di Amerika Serikat bukan sekadar infrastruktur, tetapi simpul strategis yang menentukan keseimbangan global. 

Yergin menunjukkan bahwa semakin terhubung sistem energi, semakin besar pula potensi guncangan ketika satu titik terganggu. Buku ini membantu kita memahami bahwa krisis hari ini bukan kebetulan. 

Ia adalah konsekuensi dari dunia yang terlalu terhubung tanpa perlindungan yang cukup.

Kedua, The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power karya Daniel Yergin.

Buku ini menelusuri sejarah panjang minyak sebagai sumber kekuatan dan konflik. Dari embargo 1973 hingga perebutan ladang minyak di Timur Tengah, terlihat pola yang terus berulang. Setiap kali dunia merasa aman, krisis muncul dan mengguncang fondasi pasar. 

Kerapuhan itu bukan anomali. Ia adalah sifat alami dari sistem energi yang selalu berada di antara ekonomi dan politik. Membaca buku ini hari ini terasa seperti membaca masa lalu yang kembali hidup dalam bentuk baru.

-000-

Apa yang harus Indonesia lakukan.

Kerapuhan ini adalah lonceng kematian bagi ketergantungan fosil tunggal. Indonesia harus memadukan percepatan produksi minyak dengan diversifikasi radikal ke energi terbarukan dan nuklir demi memutus rantai kerentanan geopolitik global.

Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk menjadi penonton. Kita harus memilih untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Kemandirian energi harus dipercepat. Target produksi 1 juta barrel per day pada 2029 bukan sekadar angka. Ia adalah simbol keberanian untuk tidak bergantung pada dunia yang rapuh.

Langkahnya harus menyeluruh. Eksplorasi agresif. Pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan recovery. Reformasi perizinan yang memberi kepastian. Keberanian mengambil risiko dalam eksplorasi.

Di saat yang sama, sektor hilir harus diperkuat. Kilang, petrokimia, dan cadangan strategis harus dibangun dengan disiplin jangka panjang.

Karena kemandirian energi bukan hanya soal pasokan. Ia adalah soal harga diri bangsa. Ini tentang  kemampuan Indonesia untuk tetap berdiri, bahkan ketika dunia di sekitar kita terguncang.

Dan ketika dunia kembali menghadapi badai berikutnya, Indonesia tidak lagi sekadar bertahan. Indonesia siap menjadi salah satu penyangga stabilitas itu sendiri.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya