Berita

Ilustrasi. (Foto: iStock)

Bisnis

Malaysia Pangkas Kuota BBM Imbas Gejolak Harga Minyak

KAMIS, 26 MARET 2026 | 18:19 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah Malaysia berencana memangkas kuota bulanan BBM jenis RON95 di tengah lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik antara Iran-Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Mengutip Bloomberg pada Kamis 26 Maret 2026, pemerintah Malaysia akan memotong kuota subsidi bagi warganya menjadi 200 liter per bulan dari sebelumnya 300 liter per bulan. Kebijakan tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat dan mulai berlaku pada April 2026. 

Dengan skema baru itu, konsumen yang melebihi batas 200 liter per bulan akan dikenakan harga pasar yang bersifat fluktuatif. 


Adapun harga BBM bersubsidi tetap dipatok sebesar 1,99 ringgit (Rp8.432) per liter. Sementara untuk periode 26 Maret hingga 1 April 2026, harga non-subsidi diperkirakan naik menjadi 3,87 ringgit per liter dari sebelumnya 3,27 ringgit.

Kenaikan harga ini melanjutkan tren sebelumnya, di mana RON95 non-subsidi sudah naik dua kali sejak 11 Maret 2026 dengan total lonjakan mencapai 44,94 persen atau 1,20 ringgit dari posisi awal 2,67 ringgit per liter.

Tak hanya itu, harga BBM jenis lain juga ikut meroket. RON97 diproyeksikan naik 58,46 persen menjadi 5,15 ringgit per liter, dibandingkan level 3,25 ringgit pada 11 Maret.

Sementara harga solar di Semenanjung Malaysia diperkirakan mencapai 5,52 ringgit per liter, melonjak 76,92 persen dari posisi 3,12 ringgit pada periode yang sama.

Pengetatan kuota ini dinilai sebagai langkah pengamanan fiskal, seiring membengkaknya beban subsidi pemerintah.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa total subsidi energi berpotensi menembus 24 miliar ringgit tahun ini jika harga minyak dunia bertahan di atas 110 dolar AS per barel.

Meski harga minyak mentah Brent sempat menyentuh hampir 120 Dolar AS per barel pada 9 Maret, namun kini telah turun ke kisaran 94,49 Dolar AS per barel. Meski demikian angka tersebut masih 33 persen lebih tinggi dibandingkan posisi 70,84 Dolar AS pada 26 Februari, sebelum konflik itu pecah.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya