Berita

Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier. (Foto: REUTERS/Enea Lebrun)

Dunia

Presiden Jerman: Perang Iran Melanggar Hukum Internasional dan Tak Perlu Terjadi

KAMIS, 26 MARET 2026 | 02:26 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, melontarkan kritik tajam terhadap dinamika kebijakan luar negeri global, khususnya terkait perang di Iran.

Ia menegaskan, kredibilitas kebijakan luar negeri tidak akan meningkat hanya karena negara-negara enggan menyebut pelanggaran hukum internasional secara terbuka.

“Kebijakan luar negeri kita tidak akan menjadi lebih meyakinkan hanya karena kita tidak menyebut pelanggaran hukum internasional sebagai pelanggaran hukum internasional,” tegasnya dikutip redaksi sesaat lalu.


Steinmeier menyebut sikap tersebut sudah terlihat dalam konflik Perang Gaza, dan kini kembali muncul dalam konflik yang melibatkan Iran. Ia secara lugas menilai perang tersebut melanggar hukum internasional.

Menurutnya, alasan terkait ancaman serangan terhadap Amerika Serikat yang dijadikan dasar konflik dinilai lemah. Bahkan, kata dia, sebagian badan intelijen AS juga mengakui hal tersebut.

Lebih jauh, Steinmeier menyinggung adanya kesalahan politik fatal yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam konflik. Ia juga menyoroti bahwa perang tersebut sejatinya dapat dihindari, terutama jika tujuannya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

“Ini adalah perang yang tidak perlu,” ujarnya.

Dalam pernyataannya, Steinmeier juga mengkritik perubahan paradigma global yang dinilainya semakin mengesampingkan diplomasi. Ia menilai, saat ini pembicaraan soal hukum internasional kerap dianggap naif, sementara diplomasi dipandang tidak efektif.

Padahal, Jerman sejak lama berupaya memposisikan diri sebagai kekuatan perdamaian yang mengedepankan pendekatan non-militer, termasuk melalui diplomasi dan kebijakan budaya luar negeri.

Namun, ia mengakui adanya pergeseran arah kebijakan global yang kini lebih menitikberatkan pada kekuatan militer.

“Seolah-olah hanya kekuatan militer yang penting,” kritiknya.

Steinmeier pun menyerukan perlunya sikap yang lebih dewasa dalam melihat hubungan antara kekuatan militer dan kecerdasan dalam kebijakan luar negeri. Ia menegaskan, keduanya tidak bisa dipisahkan.

Menurutnya, kekuatan militer tidak akan efektif tanpa diimbangi strategi diplomasi yang cerdas, sebuah pendekatan yang, kata dia, sudah menjadi praktik umum di banyak negara.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya