Berita

Bendera Iran. (Foto: Antara)

Publika

Negara-negara Teluk Alergi Iran

RABU, 25 MARET 2026 | 05:37 WIB

LIHATLAH posisi Iran saat melawan Israel-AS. Sendirian. Tak ada negara tetangganya yang mau bantu. Yang ada diplomat Iran mulai diusir. 

Malah seperti tepuk tangan saat duo negara itu mengebom. Muncul pertanyaan, benarkah negara-negara Arab (Teluk) alergi atau benci dengan Iran? 

Mari kita mulai dari ilusi paling mahal di Timur Tengah. Gedung pencakar langit di Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi. Semua berdiri tegak seperti simbol kesuksesan kapitalisme versi padang pasir. Berkilau dan dingin. 


Namun, semua itu sangat bergantung pada satu hal, stabilitas. Stabilitas itu seperti WiFi. Tidak kelihatan, tetapi kalau hilang lima menit saja, semua orang panik.

Di seberangnya, ada Iran. Negara yang hidupnya seperti mahasiswa akhir bulan. Ditekan sanksi, tapi tetap kreatif. 

Jika negara Teluk membangun keamanan dengan cek kosong dan kontrak miliaran dolar dengan Amerika Serikat, Iran membangun kekuatan dengan prinsip, “Kalau mahal tidak bisa, ya murah saja, tapi bikin lawan stres.”

Konflik ini bukan soal Sunni vs Syiah semata. Itu terlalu “kuliah semester satu”. Ini soal siapa yang bisa tidur nyenyak tanpa takut harga minyak tiba-tiba naik gara-gara satu drone nyasar.

Nuan bayangkan ini! Pada 14 September 2019, fasilitas minyak Abqaiq dan Khurais di Arab Saudi diserang. Boom. Produksi minyak dunia langsung berkurang sekitar 5,7 juta barel per hari. 

Setengah produksi Arab Saudi lenyap seketika. Harga minyak melonjak hampir 15 persen dalam sehari. Lonjakan terbesar dalam lebih dari 30 tahun.

Pesannya sederhana, tapi efeknya seperti jumpscare. “Tidak perlu perang besar. Cukup sentuh satu titik vital, dunia ikut panik.”

Sejak saat itu, negara-negara Teluk mulai melihat dunia bukan sebagai peta, tetapi sebagai tombol-tombol sensitif yang bisa dipencet kapan saja.

Masuklah bintang utama dalam drama ini, Selat Hormus. Lebarnya memang sekitar 33 km, tapi jalur kapal efektif cuma sekitar 2 mil laut per arah. Itu bukan selat, itu leher botol global. Lalu, Iran… duduk santai di sisi utaranya.

Posisinya seperti satpam yang memegang remote pintu keluar mall. Mau lewat? Silakan. Mau ditahan? Bisa juga.

Iran punya banyak opsi. Dari sekadar ganggu kapal, menahan tanker, sampai, kalau lagi ingin bikin dunia deg-degan, menanam ranjau. 

Tidak perlu dilakukan terus-menerus. Cukup sesekali, supaya perusahaan pelayaran mulai berpikir, “Ini worth it nggak ya?”

Di dunia logistik, rasa takut itu lebih mahal dari misil. Namun cerita ini tidak lengkap tanpa mundur ke 1979. Tahun ketika Iran melakukan rebranding paling radikal dalam sejarah politik modern, Revolusi Iran 1979.

Sebelum itu, Iran masih “main aman”. Setelah itu? Iran datang dengan ideologi baru, membawa pesan, monarki bukan takdir, dan sistem kami lebih “benar”. Bagi kerajaan-kerajaan Teluk, itu bukan opini. Itu ancaman eksistensial.

Ibarat tetangga yang tiba-tiba buka warung kopi dengan slogan, “Kopi kami lebih asli dari semua kopi di sini.” Bukan cuma jualan, tapi juga menyindir.

Ketegangan makin brutal ketika Perang Iran-Irak pecah. Negara-negara Teluk diam-diam mendukung Irak. Bukan karena cinta, tapi karena logika sederhana, “Kalau Iran menang, giliran kita berikutnya.”

Iran mencatat itu baik-baik. Sejak saat itu, kepercayaan di kawasan ini mati dengan cara yang sangat permanen. Iran lalu mengubah strategi. Tidak lagi bermain sebagai negara biasa. Mereka naik level jadi sutradara bayangan.

Contohnya? Hizbullah di Lebanon. Dibentuk awal 1980-an, kini punya puluhan ribu roket. Iran tidak perlu kirim tank ke perbatasan Israel atau Teluk. Cukup punya “teman” di tempat yang tepat.

Konsepnya sederhana. “Kenapa harus menyerang langsung, kalau bisa bikin lawan sibuk di banyak tempat sekaligus?”

Lalu 2003, Invasi Irak 2003 terjadi. Saddam tumbang. Iran tersenyum. Kekosongan kekuasaan di Irak diisi oleh kelompok-kelompok yang dekat dengan Teheran.

Negara Teluk? Mulai merasa Iran bukan lagi “di seberang laut”. Iran sekarang seperti WiFi tetangga. Tidak kelihatan, tapi sinyalnya masuk ke rumah.

Kemudian datang bab paling absurd, Yaman. Kelompok Houthi meluncurkan drone murah ke Arab Saudi. Satu drone mungkin puluhan ribu dolar. Untuk menjatuhkannya? Sistem Patriot Missile System bisa menghabiskan sekitar 4 juta dolar per tembakan.

Itu bukan perang. Itu diskon terbalik. Nuan bayangkan dilempar batu, lalu ente membalas dengan iPhone. Lama-lama bukan kalah perang, tapi bangkrut emosional.

Di saat yang sama, jalur penting lain seperti Selat Bab el-Mandeb ikut terganggu. Aliran minyak turun drastis. Kapal mulai muter jauh. Biaya naik. Dunia panik lagi.

Lalu 2023, Arab Saudi dan Iran berdamai, dimediasi China. Semua orang berharap happy ending. Sayangnya, ini Timur Tengah. Di sini, damai itu seperti update software, memperbaiki bug, tapi tidak menghapus masalah inti.

Karena pada akhirnya, ini bukan soal benci. Ini soal ketakutan yang rasional. Dibungkus ego, sejarah, dan sedikit drama geopolitik.

Negara-negara Teluk takut karena mereka punya banyak yang harus dijaga, seperti minyak, investasi, citra stabil. Iran tidak takut dengan cara yang sama. Mereka sudah terbiasa hidup dalam tekanan, dan justru menjadikannya senjata.

So, ketika sampeyan bertanya, “Mengapa negara-negara Arab membenci Iran?” Jawabannya sederhana, sekaligus menakutkan, bukan karena mereka tidak suka Iran. Tetapi, karena mereka tahu… Iran tidak perlu menang perang untuk membuat mereka kalah.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

Lima Destinasi Wisata di Bogor Bisa Jadi Alternatif Nikmati Libur Lebaran

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:02

Program Mudik Gratis Presisi 2026 Cermin Nyata Transformasi Polri

Rabu, 25 Maret 2026 | 05:51

Negara-negara Teluk Alergi Iran

Rabu, 25 Maret 2026 | 05:37

Jika Rakyat Tak Marah, Roy Suryo Cs sudah Lama Ditahan

Rabu, 25 Maret 2026 | 05:13

Gegara Yaqut, KPK Tak Tahan Digempur +62 Siang Malam

Rabu, 25 Maret 2026 | 04:23

Waspada Kemarau Panjang Landa Jawa Barat

Rabu, 25 Maret 2026 | 04:15

KPK Ikut Ganggu Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 04:01

Elektrifikasi Total

Rabu, 25 Maret 2026 | 03:37

Kasus Penahanan Yaqut Jadi Kemunduran Penegakan Hukum

Rabu, 25 Maret 2026 | 03:18

Selengkapnya