MENURUT Karni Ilyas, Presiden RI yang paling mengerti tentang kebebasan pers sekaligus yang paling tak mengerti adalah BJ Habibie.
Sebab, fotonya yang paling jelek di media, justru foto itulah yang paling dipuji dan disenanginya.
Orang mengira Presiden akan marah, justru itu dipujinya. Hebat betul wartawan itu bisa mengambil foto dirinya seburuk itu.
Ini diceritakan Karni Ilyas dalam podcast
Akbar Faizal Uncensored baru-baru ini.
Karni Ilyas bercerita pengalamannya sebagai wartawan dari Presiden ke Presiden. Mulai dari Soeharto hingga ke Prabowo Subianto.
Bagi Karni Ilyas bulan madu pers dan Presiden itu saat berada di bawah kepemimpinan Habibie. Sayang, beliau tak sampai dua tahun memimpin, oleh karena orang di sekitar Presiden sendiri.
Era Soeharto adalah era yang paling buruk bagi kebebasan pers.
Bayangkan, cerita Karni Ilyas, berita tentang tewasnya tujuh orang mahasiswa ITB dalam lomba Arung Jeram pun, tak boleh diberitakan.
Kenapa? Karena tujuh orang mahasiswa ITB itu tewas dalam acara lomba Arung Jeram Soedomo Cup. Hanya karena ada nama Soedomo Cup itu, maka berita itu harus dibredel dan tak ada media yang berani protes.
Di era Soeharto, Karni Ilyas mengaku pernah menjadi Target Operasi (TO). Ia ingin dimatikan. Tapi Karni Ilyas tak menceritakan alasan spesifiknya.
Untung, cerita Bang Karni, ia kenal dekat dengan Sjafrie Sjamsoeddin dan Prabowo. Sjafrie ketika itu menjadi Pangdam Jaya.
Menurut perkiraan Karni Ilyas, Sjafrie Sjamsoeddinlah yang menyelamatkan dirinya, karena tak kunjung mengeksekusinya, hingga keburu terjadi Reformasi 98.
Cerita ini diceritakan Karni Ilyas dalam bukunya Sjafrie Sjamsoeddin kesan dari sahabat, dan tak ada tanggapan khusus dari Sjafrie sampai saat ini. Bang Karni merasa berutang nyawa dengan Sjafrie Sjamsoeddin.
Di era Gus Dur, Karni Ilyas pernah dipanggil khusus dan kena marah karena suatu pemberitaan di majalah
Forum Keadilan yang waktu itu dipimpinnya.
Bang Karni mengaku kenal baik dengan Gus Dur. Bahkan sebelum menjadi Presiden, Gus Dur sering main ke kantor majalah
Tempo dan duduk di kursinya membuat tulisan di mesin tiknya.
Waktu itu Gus Dur salah seorang kolomnis yang sangat mumpuni. Gus Dur orang baik, kata Karni Ilyas.
Di era Megawati Soekarnoputri, Karni Ilyas mengaku berkeliling dunia karena selalu diajak tim kepresidenan dan duduk di kelas bisnis.
Tapi suatu kali Megawati tersinggung karena memotong pembicaraan adiknya, Sukmawati, dalam suatu acara talk show yang dipimpinnya, saat berdebat dengan Kivlan Zen soal PKI Hidup Kembali.
Bang Karni dipanggil Megawati ke Teuku Umar dan dimarahi soal itu dan ia tak bisa memperbaikinya karena acaranya sudah berlalu. Setelah itu, Bang Karni tak pernah lagi dihubungi Megawati.
Di era Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY, Karni Ilyas mengaku turut melambungkan nama SBY, karena suatu acara live dari rumah SBY di Cikeas, tak lama setelah SBY dan Taufik Kiemas berseteru dan SBY saat itu akan dipecat.
SBY dan keluarganya nonton bareng hitung cepat Pilpres dari kamar hotel Bang Karni. Dan setelah menang, Bang Karni berkata kepada SBY bahwa dia harus yang pertama mewawancarai khusus dan disetujui SBY.
Tapi saat akan dilaksanakan, karena sedang banyak tamu di Cikeas, di antaranya Surya Paloh, Bang Karni dapat kabar dari reporternya bahwa medianya akan disamakan saja dengan media lain saat konferensi pers.
Mendengar itu, Bang Karni setelah mengantar anaknya ke bandara, langsung ke Cikeas menemui SBY dan minta wawancara khusus, yang masih ada Surya Paloh di situ. Bang Karni tak peduli dan SBY terpaksa melayani karena sudah janji sebelumnya.
Di era Joko Widodo alias Jokowi, Karni Ilyas tak merasa dekat dengan Presiden Jokowi.
Selain pemilik
TVOne ketika itu bukan pendukung Jokowi, Bang Karni pun merasa sudah oposisi sejak Jokowi hendak ke Jakarta.
Ia paling tak percaya soal Mobil Esemka, yang melambungkan nama Jokowi ketika itu. Di sini karakter Minang seorang Karni Ilyas muncul. Tak gampang dikelabui pemimpin publis seperti Jokowi.
Di era Prabowo saat ini, Karni Ilyas mengaku belum ada kesempatan untuk mewawancarai Presiden.
Pernah dijadwalkan, tapi batal oleh ring satunya Presiden. Ring satu yang menjadwalkan, ring satunya pula yang membatalkan.
Tapi Bang Karni mengaku satu geng dengan Prabowo sejak era Orde Baru dulu. Ia sempat bikin satu lembaga kajian bersama Prabowo.
Aneh juga kawan lama kok belum dapat waktu wawancara khusus dari kawannya? Ditunggu Bang Karni.
ErizalDirektur ABC Riset & Consulting