Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Getty Images)

Politik

Pengamat: Trump Inkonsisten Soal Selat Hormuz

SENIN, 23 MARET 2026 | 13:09 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik Selat Hormuz dinilai tidak konsisten dan menunjukkan tekanan besar akibat risiko militer serta dampak ekonomi global.

Sikap yang berubah-ubah, mulai dari tidak peduli hingga mengeluarkan ultimatum, dinilai mencerminkan keraguan AS untuk bertindak sendiri.

Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, menyebut perubahan sikap itu terjadi karena ancaman Trump tidak direspons oleh Iran, sementara risiko keterlibatan militer dinilai terlalu tinggi.


“Ini bentuk kegalauan Trump, ternyata Iran tidak takut dengan ancaman Trump. Dan juga ini bentuk Trump juga pengecut.” ujarnya dalam keterangan daring, Senin, 23 Maret 2026. 

Ia menjelaskan, awalnya AS berencana mengirim kapal perang untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun rencana itu tidak berjalan karena angkatan laut AS dinilai tidak siap menghadapi risiko konflik langsung.

“Tapi ternyata angkatan laut AS sendiri tidak berani karena resikonya sangat tinggi kalau mereka ikut mengawal itu sendiri.” katanya.

Menurut Faisal, perubahan strategi AS yang kemudian mengajak sekutu juga tidak mendapat respons kuat dari negara-negara Eropa maupun anggota NATO.

Kondisi ini diperparah dengan tekanan domestik di AS akibat potensi kenaikan harga minyak dan BBM jika Selat Hormuz tetap ditutup.

Sementara itu, muncul pernyataan bersama dari 22 negara yang menyatakan kesiapan menjaga Selat Hormuz. Namun Faisal menilai komitmen tersebut masih perlu dibuktikan di lapangan.

“Nah, kalau memang benar itu yang mereka akan lakukan, komitmen itu mereka laksanakan nanti, artinya perang akan semakin berkobar, perang akan semakin tidak terkendali, dan itu akan melibatkan banyak negara.”

Ia menegaskan, jika negara-negara tersebut benar-benar terlibat secara militer, konflik berpotensi meluas dan semakin sulit dikendalikan.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Analisis di Balik Penerimaan Eksepsi Dokter Tifa

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:52

Legislator PDIP Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur Hulu Migas

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:34

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:17

PABPDSI Kawal Program Nasional Hingga ke Desa Lewat 8 Satgas Asta Cita

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:55

MBG dan Peluang Besar Bangun Ekonomi Desa

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:30

Pemerintah Buka Opsi Biayai Utang Proyek Whoosh Pakai Panda Bond

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:05

Korupsi Pakan Satwa Rp10,2 Miliar, DPR Minta Eks Dirut KBS Dihukum Berat

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:45

Lulus S2 Hukum, Mikael Saragih Ungkap PR Hukum Indonesia Tak Lagi soal Kekurangan UU

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:37

BEM Kristiani Se-Indonesia Desak Kejagung Segera Tangkap Febrie Adriansyah

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:16

Polri dan FBI Sepakat Perkuat Kerja Sama Penanganan Kejahatan Transnasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:03

Selengkapnya