Berita

Teluk Persia. (Foto: Istimewa)

Publika

Negara-Negara Teluk Pengecut

SENIN, 23 MARET 2026 | 05:31 WIB

PERANG Teluk pecah. Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memulai. Pada 28 Februari 2026, kedua negara ini menyerang Iran. Alasannya? Iran dituduh melakukan pengayaan nuklir.

Dunia tak percaya. Berbagai tim investigasi memastikan tuduhan itu "omong kosong". 

Modusnya mirip kasus penyerangan Amerika ke Irak 23 tahun lalu. Tepatnya 19 Maret 2003. Tuduhannya: Irak punya senjata pembunuh massal. Perang selesai, tuduhan itu tak terbukti. Alias omong kosong. 11-12 dengan penyerangan Amerika dan Israel ke Iran saat ini.


Amerika menyerang Iran. Ada lima negara Teluk yang menjadi landasan Amerika menyerang Iran. Yaitu Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar.

Penyerangan di awal sukses. Berhasil menewaskan pimpinan Iran Ayatollah Ali Khemeini. Sebelumnya, Amerika dan Israel juga telah berhasil membunuh sejumlah elit penting Iran. 

Bahkan, pembunuhan itu terjadi di sejumlah negara Teluk di luar Iran. Apakah negara tempat terjadi pembunuhan itu protes? Tidak.

Terjadinya sejumlah aksi pembunuhan terhadap elite Iran, ternyata tidak punya pengaruh apapun terhadap sikap Iran terhadap Israel, dan juga Amerika. 

Iran tetap berpikir Israel dan Amerika itu penjajah. Iran mengambil posisi menolak untuk tunduk. Beda dengan negara Teluk. Sami'na wa atha'na kepada Amerika.

Setelah sukses membunuh Ayatollah Ali Khemeini, Amerika menyerukan gencatan senjata. Amerika berpikir, Ayatollah Ali Khemeini adalah aktor kunci. Dengan terbunuhnya Khemeini, Iran akan menyerah. 

Transformasi politik akan terjadi dengan peralihan kepemimpinan yang lebih pragmatis dan lunak terhadap Israel dan Amerika. Faktanya? Tidak. 

Iran adalah negara yang berdiri di atas bangsa Persi. Ribuan tahun bangsa Persia memiliki peradaban besar. Persia pernah menjadi adidaya dunia bersaing dengan Romawi. 

Modal inilah yang membuat Iran solid, militan, mandiri dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Kenyataannya, 47 tahun Iran diembargo, masyarakatnya tetap sejahtera. 

Negara tetap mampu berkembang, terutama dalam teknologi alutsista yang jauh melampaui negara-negara kawasan.

Meski pimpinan utamanya terbunuh, Iran menunjukkan eksistensinya. Iran cukup kuat dalam memberikan perlawanan. 

Sejumlah negara Teluk yang selama ini dijadikan landasan militer untuk menyerang Iran, saat ini terjadi sebaliknya. Mereka menjadi sasaran serang bagi rudal Iran.

Inilah konsekuensi perang. Negara-negara Teluk itu menjadi sasaran yang sah, legal dan halal bagi Iran. Terutama yang dianggap memberikan dukungan terhadap militer Amerika.

Pasca penyerangan oleh Iran, atas nama tetangga kawasan dan satu agama, negara-negara teluk ini memperingatkan Iran. 

Di sini, ada yang terasa ganjil. Yang mulai menyerang Amerika dengan menggunakan pangkalan negara-negra Teluk, mengapa yang diperingatkan Iran? Kenapa bukan Amerika?

Atas nama kawasan, apalagi Islam sungguh amat sangat tidak relevan. Jika dari pangkalan mereka, Ayatollah Ali Khemrini terbunuh dalam penyerangan, tidakkah adil jika berlaku hukum sebaliknya.

Negara-negara Teluk terlihat sekali "ketakutannya" kepada Amerika. Abai dan tidak peduli terhadap nasib Iran. Inikah logika tetangga, kawasan dan satu agama?

Menggunakan narasi agama untuk membujuk Iran merupakan suatu alasan yang tidak relevan. Begitu juga menggunakan isu kawasan. 

Justru kawasan Teluk, karena dekat dengan Iran, dipakai untuk menyerang Iran. Kawasan teluk menjadi kawasan yang negatif dan kontra-produktif bagi Iran. 

Mengapa negara-negara teluk takut kepada Amerika?

Negara-negara Teluk adalah negara-negara yang dikelola dengan sistem monarki. Berhadapan dengan Amerika, ancaman transformasi dari monarki ke demokrasi di depan mata. 

Para elite di negara Teluk tentu tidak ingin kehilangan kekuasaannya. Untuk mempertahankan sistem monarki yang telah puluhan tahun memberinya kekuasaan, maka apapun akan dipertaruhkan demi kelanggengan sistem monarki tersebut. 

Negara Teluk bisa mempertahankan kekuasaan berbasis monarki dan tidak mendapatkan gangguan jika bersedia untuk beradaptasi terhadap kepentingan Amerika. 

Termasuk diantaranya menyiapkan basis militer yang sewaktu-waktu digunakan untuk landasan menyerang negara kawasan teluk yang menentang Amerika. Saat ini, Iran menjadi sasarannya.

Dengan militer di Teluk, Amerika akan mengontrol negara-negara di kawasan Timur Tengah. Selain untuk melakukan hegemoni politik, juga untuk menguasai minyak di Teluk.

Atas landasan serang yang disipakan oleh megara-negara teluk, Iran melakukan balasan. Landasan itu adalah wilayah yang sah untuk menjadi sasaran. 

Uniknya, ketika Iran membalas, mereka mengeluh dan meminta Iran mengakhiri serangannya. Sikap negara-negara teluk ini layaknya sikap pengecut.

Setelah perang dimulai dan pimpinan tertinggi Iran terbunuh, lalu meminta Iran menerima dan perang diakhiri tanpa pertanggungjawaban. Masuk akal kah?

Pangkal problemnya bukan di Iran, tapi di negara-negara Teluk itu. Negara-negara sumber minyak ini tersandera dengan sistem monarki yang rentan terancam oleh hegemoni demokrasi yang dikembangkan Barat. 

Sekali isu ini dimunculkan, maka raja Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain UEA dan Qatar bisa tumbang. Sampai kapan negara-negara teluk ini tersandera oleh Amerika? Apakah menunggu setelah Iran mengalahkan Amerika? Faktanya: negara-negara Teluk itu mendukung Amerika, bahkan untuk menghancurkan Iran.

Dari fenomena terang benderang ini, masihkah relevan untuk menghubungkannya dengan suni dan syiah? Tidak! Tidak! Tidak! Ini urusan kemanusiaan. Hak sebuah bangsa untuk merdeka dan setara. Bukan urusan sekte!

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya