Berita

Presiden Prabowo Subianto bersama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 19 Maret 2026. (Foto: Instagram)

Politik

Dasco Aktor Kunci Pertemukan Megawati-Prabowo

SABTU, 21 MARET 2026 | 03:25 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

.Pesan tentang pentingnya persatuan bangsa Indonesia kembali menemukan momentumnya melalui pertemuan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis 19 Maret 2026.

Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai langkah Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang mempertemukan Megawati dengan Prabowo sebagai bukti konkret bahwa elite politik masih menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.

Menurut Amir, pertemuan dua tokoh sentral bangsa itu bukan sekadar silaturahmi politik biasa, melainkan sebuah langkah strategis yang sarat makna di tengah dinamika global yang tidak menentu.


"Peran Dasco sebagai “arsitek pertemuan” menunjukkan adanya kesadaran geopolitik yang matang dalam membaca situasi nasional dan internasional," kata Amir, dikutip Sabtu 21 Maret 2026.

Amir menyoroti bahwa langkah Dasco tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai aktor kunci di lingkar kekuasaan. Sebagai politisi yang dikenal memiliki kemampuan komunikasi lintas spektrum, Dasco dinilai mampu menembus sekat-sekat politik yang selama ini kerap menjadi penghambat rekonsiliasi nasional.

Dalam perspektif intelijen, lanjut Amir, pertemuan tersebut bisa dibaca sebagai bagian dari “operasi stabilisasi politik” yang dilakukan secara halus namun efektif. Tidak ada deklarasi besar, tidak ada panggung berlebihan, tetapi dampaknya signifikan dalam meredam potensi polarisasi.

“Dasco membaca momentum. Ketika dunia sedang tidak stabil, Indonesia tidak boleh terpecah. Maka, yang dilakukan adalah menyatukan simbol-simbol kekuatan politik nasional,” kata Amir.

Pertemuan antara Megawati dan Prabowo sendiri memiliki dimensi historis dan politik yang panjang. Keduanya merepresentasikan dua kutub besar dalam lanskap politik Indonesia: nasionalisme ideologis dan nasionalisme strategis.

Amir menilai bahwa mempertemukan kedua tokoh ini bukan pekerjaan sederhana. Dibutuhkan kepercayaan, komunikasi intensif, dan pemahaman mendalam terhadap dinamika psikologis politik masing-masing pihak.

“Ini bukan hanya soal politik praktis. Ini menyangkut ego, sejarah, dan kepentingan besar," pungkas Amir.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya