Berita

Nelayan Pantura. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Nusantara

Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Ini Penyebabnya

KAMIS, 19 MARET 2026 | 06:50 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI) menyoroti penurunan kesejahteraan nelayan kecil di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa dalam beberapa tahun terakhir. 

Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya hasil tangkapan, meningkatnya biaya operasional, serta tekanan terhadap ekosistem pesisir.

Ketua Umum KPPMPI, Hendra Wiguna, mengatakan temuan tersebut diperoleh dari rangkaian Safari Ramadan bersama Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) di sejumlah wilayah pesisir, antara lain Kabupaten Tegal, Cirebon, Subang, Karawang, hingga Kabupaten Bekasi.


“Keluhan nelayan relatif seragam, yaitu pendapatan yang terus menurun,” ujar Hendra dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026. 

Ia mencontohkan kondisi nelayan di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Sekitar 15 tahun lalu, nelayan dengan perahu kecil berkapasitas 2 GT disebut mampu memperoleh pendapatan antara Rp1 juta hingga Rp3 juta. Namun saat ini, untuk memperoleh Rp50 ribu per hari dinilai semakin sulit.

Menurut dia, menurunnya hasil tangkapan membuat nelayan harus melaut lebih jauh untuk mencari wilayah tangkap yang masih produktif. 

Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya operasional, terutama bahan bakar minyak (BBM), yang diperkirakan naik hingga 20 persen.

Di sisi lain, akses nelayan kecil terhadap BBM bersubsidi disebut masih terbatas. Nelayan juga menghadapi lemahnya posisi tawar dalam penentuan harga ikan karena bergantung pada rantai distribusi.

Pantura Jawa selama ini dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas ekonomi yang padat, terutama di wilayah perkotaan Jakarta Utara, Tangerang, Semarang, dan Surabaya. Namun, tekanan terhadap nelayan juga dirasakan di wilayah pesisir lain seperti Karawang, Demak, dan Gresik.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ekosistem laut di Pantura berada dalam kondisi tertekan akibat aktivitas manusia, seperti pencemaran dan praktik penangkapan ikan berlebihan. 

Selain itu, pengembangan kawasan industri, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Proyek Strategis Nasional (PSN), dinilai turut memengaruhi kondisi wilayah pesisir.

Hendra juga menyoroti persoalan penurunan muka tanah yang terjadi di sejumlah kawasan pesisir. Kondisi ini dinilai memperburuk kerentanan permukiman nelayan terhadap banjir rob.

Masalah lain yang mencuat adalah pencemaran mikroplastik. Penelitian yang dilakukan Asriningsih Suryandari (Universitas Airlangga) menemukan kandungan mikroplastik di perairan Pantura dalam jumlah tinggi. 

Sementara itu, penelitian Inneke Hantoro (Universitas Katolik Soegijapranata) menunjukkan adanya kandungan mikroplastik pada kerang dan ikan yang dikonsumsi masyarakat.

Menurut KPPMPI, kondisi tersebut mencerminkan menurunnya kualitas ekosistem laut yang berdampak pada keberlanjutan sumber daya perikanan.

KPPMPI mendorong agar program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pengelolaan sampah dan penyediaan akses air bersih di wilayah pesisir.

“Akses air bersih menjadi persoalan serius, terutama bagi perempuan pesisir untuk kebutuhan domestik maupun usaha olahan hasil perikanan,” tegas Hendra.

Sebagai upaya pemulihan, KPPMPI juga menekankan pentingnya rehabilitasi mangrove untuk melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan banjir rob, sekaligus mendukung keberlanjutan habitat biota laut.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Korporasi Biang Kerok Karhutla Harus Dihukum Maksimal

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:32

Partisipasi Industri Lokal Menguat, 101 Calon Mitra PSEL Denera Lolos Seleksi

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:31

IHSG Rontok 1,29 Persen, Rupiah Cerah ke Rp18.112 per Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:27

Bahlil Curiga Singapura Jual Lagi Pasokan Gas RI ke Luar Negeri

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:12

Harga Emas Antam Turun Lagi, Beli Sekarang?

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:01

Andrea Bocelli Harus Cabut Dukungan ke Israel jika Ingin Konser di Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:43

Pemerintah Jangan Tutup Mata atas Nasib PMI di Malaysia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:25

Indonesia dan Singapura Harus Kompak Bongkar Jejak Korporasi Karhutla

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:14

Kopdes Jangan Malah Jadi Pesaing UMKM

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:05

Jakarta Tak Kalah dari Singapura Gelar Konser Dunia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 07:40

Selengkapnya