Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Bursa Saham Asia Hijau: Kospi dan Kosdaq Melesat

RABU, 18 MARET 2026 | 08:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham di kawasan Asia memulai perdagangan Rabu 18 Maret 2026 dengan tren positif, di mana bursa Korea Selatan tampil sebagai motor penggerak utama. 

Selain memantau rilis data neraca perdagangan Jepang, fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada pengumuman kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Dikutip Dari Reuters, di Korea Selatan indeks Kospi melesat hingga 2,8 persen, sementara Kosdaq (kapitalisasi kecil) turut terangkat 1,66 persen.


Di Jepang, indeks Nikkei 225 tumbuh 1,38 persen dan Topix naik 0,95 persen. Penguatan ini didukung oleh performa ekspor Februari yang naik 4,2 persen (yoy), jauh di atas prediksi Reuters sebesar 1,6 persen.

Di Australia, S&P/ASX 200 cenderung stabil di zona netral, sedangkan di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng Index menguat tipis ke posisi 25.891.

Optimisme di Asia mengekor jejak Wall Street yang menutup perdagangan Selasa di zona hijau. Indeks S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing mencatatkan kenaikan 0,3 persen dan 0,5 persen.

Di pasar surat utang, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun terpangkas menjadi 4,2 persen. Penurunan sekitar dua basis poin ini memberi sinyal bahwa kecemasan terhadap inflasi mulai mendingin, meski harga minyak Brent masih tertahan di level 103 Dolar AS per barel.

Meski pasar menguat, risiko tetap membayangi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan terhadap infrastruktur energi di Uni Emirat Arab serta insiden tanker di Selat Hormuz memicu kekhawatiran atas stabilitas suplai energi dunia.

Di mata analis, pasar mulai mencoba mengabaikan ketegangan geopolitik dalam jangka pendek. 

"Namun, jika konflik berkepanjangan, dampaknya dapat kembali menekan pasar saham global," ujar Fawad Razaqzada, Analis Pasar dari Forex.

Para investor memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga di level 3,5 persen hingga 3,75 persen. Namun, sentimen pasar ke depan akan sangat bergantung pada arah komunikasi bank sentral tersebut.

Pada sektor lain, harga emas terpantau stabil di atas level 5.000 Dolar AS per ons. Sementara itu, Bitcoin tetap kokoh di kisaran 75.000 Dolar AS, mendekati performa tertingginya dalam satu bulan terakhir.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya