Berita

Perang Iran vs Israel-Amerika Serikat (AS). (Foto: Istimewa)

Publika

Amerika Ngaku Menang, Iran Belum Ngaku Kalah

SENIN, 16 MARET 2026 | 15:10 WIB

SEJAUH ini perang Iran vs Israel-Amerika Serikat (AS) masih membara. Korban jiwa semakin banyak. AS sudah deklarasi menang perang. Sementara Iran, belum mengaku kalah, masih mampu menyerang. 

Per 15 Maret 2026, perang antara Iran melawan duet raksasa Israel dan AS terasa seperti final sepak bola paling aneh dalam sejarah geopolitik. Bedanya, stadionnya bernama Timur Tengah, bolanya rudal, penontonnya seluruh planet, dan wasitnya entah sedang ke mana.

Pertandingan dimulai pada 28 Februari ketika Amerika dan Israel membuka laga dengan serangan udara besar-besaran. Basis rudal, pangkalan drone, fasilitas militer, sampai target yang berhubungan dengan program nuklir Iran dihantam seperti pressing tinggi ala klub Eropa yang sedang lapar gol. Langit Iran mendadak berubah menjadi papan skor LED yang berkedip-kedip oleh ledakan.


Iran tentu tidak berdiri seperti pemain yang lupa posisi. Mereka menjawab dengan operasi True Promise 4, gelombang ratusan rudal dan drone yang meluncur menuju Israel. 

Taktiknya menarik kalau dipinjamkan metafora sepak bola, Iran seperti memainkan tiki-taka. Banyak operan kecil, gelombang demi gelombang, drone ke sini, rudal ke sana, membuat sistem pertahanan udara Israel berlari seperti bek yang dikejar Lionel Messi.

Sementara itu Amerika dan Israel terlihat memainkan strategi yang lebih tua tetapi brutal, total football versi militer. 

Semua unit bergerak, semua lini menyerang. Jet tempur, rudal jelajah, serangan intelijen, bahkan tekanan ekonomi. Seolah-olah seluruh tim naik ke depan sekaligus, mencoba mencetak gol cepat sebelum lawan sempat menyusun serangan.

Sampai hari ini pertandingan masih berupa serangan udara dan misil, belum ada invasi darat. Akan tetapi dampaknya sudah terasa sampai ke dapur warga dunia. Penyebabnya satu titik kecil yang sekarang menjadi seperti garis tengah lapangan dunia, Selat Hormuz.

Sekitar 20 persen minyak dunia lewat di jalur laut itu. Ketika Iran membatasi akses kapal Amerika dan sekutunya, pasar energi langsung panik seperti suporter yang melihat kiper timnya terpeleset di menit akhir. Harga minyak melonjak. Di Amerika, harga bensin naik sekitar 25 persen. Beberapa industri mulai mengerem produksi.

Israel sendiri terus menyerang. Serangan udara kembali menghantam wilayah Iran barat dan Tehran. Pabrik pertahanan udara rusak berat, pusat riset antariksa terkena hantaman. 

Total serangan Israel sejak perang dimulai disebut sudah lebih dari 7.000 kali. Langit kawasan itu sekarang lebih sibuk daripada bandara internasional saat musim liburan.

Iran membalas lagi. Sirene meraung di Tel Aviv dan Bnei Brak. Rudal jatuh, kaca pecah, apartemen rusak. Beberapa orang terluka akibat pecahan kaca dan ledakan. 

Negara Teluk ikut merasakan panasnya pertandingan. Uni Emirat Arab mencegat empat rudal balistik dan enam drone. Sementara Arab Saudi menembak jatuh puluhan drone lain yang melintas seperti bola liar di kotak penalti.

Menariknya, Iran tidak hanya menembak ke kota-kota Israel. Mereka juga mengarahkan serangan ke objek vital milik Amerika dan Israel di kawasan. 

Beberapa laporan menyebut target meliputi pangkalan militer Amerika di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Infrastruktur militer seperti radar dan fasilitas komando juga menjadi sasaran. 

Di Israel, target yang diklaim diserang termasuk Bandara Ben Gurion dan fasilitas militer di Haifa. Pesannya sederhana, permainan belum selesai.

Korban manusia terus bertambah. Iran mengklaim 1.348 warga sipil tewas, termasuk 425 perempuan dan anak-anak. Lebih dari 42.000 situs sipil rusak, dan 56 situs budaya hancur. 

Lebanon mencatat 826 korban tewas. Israel melaporkan sedikitnya 12 korban tewas. Sementara Amerika kehilangan 6 tentara akibat kecelakaan pesawat di Irak. Ribuan orang mengungsi membawa tas kecil berisi sisa hidup mereka. 

“Bang, kenapa laporan korban dari Israel dan Amerika sedikit. Padahal, lihat serangan Iran yang begitu mengerikan, mustahil korbannya sedikit.”

“Israel dan Amerika sangat ketat soal korban. Mereka melakukan sensor terhadap media. Bila perlu tak ada korban jiwa. Ente pahamkan, ini bagian dari perang propaganda, wak.” Ups.

Namun di tengah laga yang masih panas itu, Presiden Donald Trump berdiri di podium dan mengatakan, “Amerika sudah menang.” Menurutnya, kemenangan sudah ditentukan sejak jam pertama serangan.

Masalahnya, di sisi lapangan yang lain Iran belum meniup peluit akhir. Rudal masih diluncurkan. Drone masih beterbangan. Selat Hormuz masih menjadi titik panas ekonomi dunia. 

Aliansi regional Iran juga masih bergerak. Dalam sepak bola ada satu aturan sederhana, laga belum selesai sampai wasit meniup peluit terakhir.

Dalam perang ini, peluit itu tampaknya masih jauh dari ditiup. Sementara para pemimpin berdebat tentang siapa yang unggul di papan skor. 

Warga sipil di bawah langit penuh asap hanya berharap satu hal sederhana, besok pagi masih ada rumah untuk pulang.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya