Berita

Jaya Suprana. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Publika

Burung Hantu Bukan Hantu

KAMIS, 12 MARET 2026 | 01:25 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PERTAMA kali di masa kanak-kanak, saya mengenal bentuk seni musik yang disebut kanon melalui lagu Burung Hantu. Melodi Burung hantu dapat dinyanyikan secara tumpang-tindih susul-menyusul dalam notasi doremi adalah sol do do mi do sol / mi re do re mi do diulang dua kali kemudian disusul sol mi sol mi sol fa mi fa sol mi /  sol mi sol mi sol fa mi fa re do lalu silakan diulang-ulang lagi dari awal sampai tanpa henti . Menarik adalah lagu eksemplaris kanon itu diberi judul Burung Hantu.

Dalam bahasa Inggris, Burung Hantu disebut sebagai Owl; bahasa Jerman : Eule; bahasa Prancis  : Hibou ; bahasa Latin : Bubo ; bahasa Cina: Xiao. 

Maka dapat disimpulkan bahwa versi bahasa Indonesia paling menyeramkan sebab eksplisit menyebut Burung Hantu. 


Bukan mustahil sang satwa istimewa itu sendiri keberatan diberi nama oleh orang Indonesia sedemikian menyeramkan. Burung Hantu sebenarnya imut maka sama sekali tidak pantas disebut sebagai hantu apalagi burungnya hantu !

Burung Hantu (akronim BH tidak saya gunakan sebab terkesan kurang senonoh) memiliki beberapa keunikan biologis serta kognitif yang membedakan dirinya dari burung lain :

- Memiliki mata besar yang dapat menangkap cahaya rendah, memungkinkan mereka melihat di malam hari dengan sangat baik.

- Dapat memutar kepala hingga 270°, membantu mereka memantau lingkungan sekitar tanpa perlu menggerakkan tubuh.

- Memiliki telinga yang sangat sensitif dan dapat mendengar suara dengan frekuensi rendah, membantu mereka mendeteksi mangsa di malam hari.

- Sayap yang lembut memiliki struktur khusus yang membuatnya dapat terbang dengan sangat sunyi, membantu mereka mendekati mangsa tanpa terdeteksi.

-  Beberapa spesies Burung Hantu dapat menggerakkan telinga mereka secara independen untuk mendeteksi suara dengan lebih akurat.

- Ada sekitar 200 spesies burung hantu di seluruh dunia, dengan ukuran yang bervariasi dari yang kecil (seperti Elf Owl, sekitar 13 cm) hingga yang besar (seperti Eurasian Eagle Owl, sekitar 70 cm).

-Burung Hantu adalah predator yang oportunistik, makanannya bisa berupa tikus, burung kecil, serangga, bahkan ikan tergantung spesies dan lingkungan habitatnya.

- Seperti burung lainnya, Burung Hantu tidak memiliki gigi. Mereka menggunakan paruh yang kuat untuk menangkap, mencabik-cabok dan memakan mangsa.

*Tidur di siang hari*: Burung Hantu adalah burung nokturnal, jadi mereka biasanya tidur di siang hari dan aktif di malam hari.

*Simbol kebijaksanaan*: Dalam beberapa kebudayaan, Burung Hantu dianggap sebagai simbol kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan karena mata mereka besar maka penglihatan malam mereka sangat tajam. Banyak penerbit buku menggunakan logo Burung Hantu  sebagai lambang identitas mereka yang berperan pekerja kebudayaan.

Di semesta kesusasteraan, Burung Hantu berperan di dalam fabel karya Aesop maupun Jean de La Fontainne di samping juga di Pancatantra. Mitologi China didominir Sun Wukung sebagai demi-god kera dan Tie Patkay womanizer berperut buncit dan berkepala babi namun masih terbuka bagi siapa saja yang ingin kreatif menghadirkan tokoh siluman berkepala Burung Hantu. Mitologi Mesir Kuno menampilkan Khonsu sebagai dewa berkepala Burung Hantu yang merupakan dewa rembulan dan waktu.

Dalam mitologi Yunani, Zeus gemar menyamar sebagai awan emas, angsa, sapi, elang tetapi tidak pernah Burung Hantu. Di sisi lain, Burung Hantu kerap ditampilkan mendampingi Athena sebagai dewi perang maka bukan kebetulan bahwa lambang pelindung kota Athena adalah Burung Hantu.  Keluarga besar moyang matematikawan dan fisikawan Leonard Euler menggunakan sosok burung hantu sebagai mascot mereka. Di peradaban Eropa, Burung Hantu kerap dianggap sebagai lambang kebijaksanaan.

Patung Burung Hantu kerap ditampilkan dengan berkacamata, bertopi gaya professor, sambil memegang kertas dan pensil sebagai citra intelektualitas. Di Indonesia, Burung Hantu bersaing ketat dengan Ganesha dalam berperan sebagai lambang lembaga pendidikan tinggi.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran: 6 Hari Tembus Rp190 Triliun

Kamis, 12 Maret 2026 | 08:11

Pasar 1001 Malam: Strategi Kemenko PM Berdayakan UMKM dan Bantu Penyintas Bencana

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:58

Harga Emas Dunia Turun Tertekan Sentimen Suku Bunga

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:47

Dukung PP TUNAS, Kemenag Siapkan Kurikulum Etika Digital dan Santri Mahir AI

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:23

Pasar Eropa Terkoreksi, Saham Rheinmetall Anjlok 8 Persen

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:14

IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:01

Hari Ini Yaqut Cholil Dipanggil KPK sebagai Tersangka

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:49

Rampai Nusantara Ajak Publik Optimistis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:42

Amr bin Ash Pembuka Gerbang Benua Afrika

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:00

Kader Gerindra Ujung Tombak Mendukung Program Prabowo

Kamis, 12 Maret 2026 | 05:52

Selengkapnya