Berita

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam Dialog Nasional DPP Persatuan Alumni GMNI di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026. (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Politik

Hasto Curhat Terima Banyak Komplain soal Revisi UU TNI dan UU KPK

RABU, 11 MARET 2026 | 19:32 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengaku menerima banyak keluhan dari kalangan masyarakat sipil terkait sejumlah perubahan undang-undang, terutama revisi UU TNI dan UU KPK.

Menurut Hasto, komplain tersebut bahkan diterimanya saat berada di dalam penjara. Banyak tokoh civil society, kata dia, mempertanyakan arah demokrasi Indonesia setelah berbagai perubahan regulasi tersebut.

“Saat saya berada di dalam penjara, saya menerima banyak komplain dari para civil society terkait Undang-Undang TNI yang praktis berjalan mulus,” ujar Hasto dalam Dialog Nasional DPP Persatuan Alumni GMNI di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.


Selain UU TNI, Hasto juga menyinggung sejumlah perubahan regulasi lain yang memicu kritik publik, seperti revisi UU KPK, fenomena “parcok” dalam Pemilu 2024, hingga perubahan pada UU BUMN dan UU Mahkamah Konstitusi.

Menurutnya, rangkaian perubahan tersebut memunculkan kekhawatiran adanya kekuatan tertentu di balik proses demokrasi yang berpotensi menggeser semangat reformasi.

“Saat ini terjadi suatu fenomena pengingkaran terhadap semangat reformasi tersebut. Ini menunjukkan kuasa bahwa di balik demokrasi yang kita bangun tersembunyi suatu kekuatan untuk mengubah semangat reformasi itu,” jelasnya.

Ia menilai kondisi tersebut membuat sebagian kalangan mulai mempertanyakan apakah Indonesia membutuhkan Reformasi 2.0, mengingat banyaknya gejala yang dianggap menjauh dari semangat reformasi yang dulu diperjuangkan.

Hasto juga menyinggung pandangan pemikir kebhinekaan Sukidi yang menilai sejak periode kedua pemerintahan Joko Widodo, fenomena otoriter populis semakin menguat. 

Dalam pemikiran tersebut, hukum kerap dijadikan pembenar atas tindakan yang sejatinya tidak memenuhi kaidah demokrasi.

“Di dalam berbagai pandangan Sukidi, seorang pemikir kebhinekaan terus mengingatkan kepada kita bahwa era Jokowi periode kedua dan seterusnya itu semakin menunjukkan fenomena bekerjanya authoritarian populism, maka di dalam penjara saya juga sangat beruntung bisa membaca buku Steven Levitsky tentang how demokrasi dies,” pungkas Hasto.


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran: 6 Hari Tembus Rp190 Triliun

Kamis, 12 Maret 2026 | 08:11

Pasar 1001 Malam: Strategi Kemenko PM Berdayakan UMKM dan Bantu Penyintas Bencana

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:58

Harga Emas Dunia Turun Tertekan Sentimen Suku Bunga

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:47

Dukung PP TUNAS, Kemenag Siapkan Kurikulum Etika Digital dan Santri Mahir AI

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:23

Pasar Eropa Terkoreksi, Saham Rheinmetall Anjlok 8 Persen

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:14

IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:01

Hari Ini Yaqut Cholil Dipanggil KPK sebagai Tersangka

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:49

Rampai Nusantara Ajak Publik Optimistis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:42

Amr bin Ash Pembuka Gerbang Benua Afrika

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:00

Kader Gerindra Ujung Tombak Mendukung Program Prabowo

Kamis, 12 Maret 2026 | 05:52

Selengkapnya