Ilustrasi mata uang Rupiah. (Foto: RMOL/Alifia Ramandhita)
Nilai tukar Rupiah ditutup di level Rp16.949 per Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Rupiah melemah 24 poin setara 0,14 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan juga terlihat pada kurs referensi Jisdor yang dirilis Bank Indonesia. Rupiah Jisdor tercatat di posisi Rp16.974 per Dolar AS, turun 0,32 persen dari akhir pekan lalu yang berada di level Rp16.919 per Dolar AS.
Sepanjang perdagangan hari ini, Rupiah bahkan sempat menembus ambang psikologis Rp17.000 per Dolar AS. Sebelum pasar ditutup, mata uang domestik sempat berada di kisaran Rp17.005 per Dolar AS, terlemah sepanjang sejarah melampaui level saat krisis moneter 1998.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan Rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah dipicu lonjakan harga minyak dunia yang telah mencapai di atas 92 Dolar AS per barel. Angka tersebut jauh melampaui asumsi makro dalam APBN 2026 yang dipatok sekitar 70 Dolar AS per barel.
"Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran 70 Dolar AS per barel. Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun," ujarnya dalam keterangan tertulisnya.
Ia memperingatkan jika harga minyak terus melonjak hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 Dolar AS per barel dalam waktu yang lama dapat memicu defisit semakin lebar hingga 4 persen, melampaui batas defisit 3 persen sebagaimana diatur dalam UU 17/2003 tentang Keuangan Negara.
"Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 Dolar AS per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," lanjutnya.
Ia menambahkan, terganggunya aktivitas di Selat Hormuz turut memperburuk situasi pasar energi global. Jalur pelayaran strategis itu dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Untuk meredam dampak tersebut, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah cepat, salah satunya melakukan efisiensi anggaran dengan memprioritaskan belanja pada kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan.
Selain itu, upaya pengurangan konsumsi minyak juga perlu dipercepat melalui konversi energi dari bahan bakar fosil menuju energi baru dan terbarukan. Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dinilai dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar diesel.
Stimulus ekonomi juga dinilai perlu diperkuat melalui deregulasi untuk menjaga momentum pertumbuhan.
"Aturan-aturan yang menghambat perkembangan ekonomi bisa dipangkas. Begitu juga perlu debirokratisasi, birokrasi yang berbelit sehingga menyulitkan dunia usaha dapat disederhanakan," kata Ibrahim.
Sementara dari sisi eksternal, tekanan terhadap Rupiah dipicu lonjakan harga minyak global yang meningkat sekitar 30 persen hingga menembus level 100 Dolar AS per barel, mendekati level tertinggi yang terjadi pada awal konflik Rusia-Ukraina pada 2022.
Lonjakan harga energi tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan udara yang dilancarkan Israel dan AS menargetkan fasilitas minyak di Iran. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap sejumlah fasilitas energi di kawasan tersebut.
Iran juga disebut menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz sehingga mengganggu distribusi energi global. Jalur strategis tersebut merupakan rute utama pengiriman minyak bagi banyak negara di Asia.
"Selain itu, Iran pada hari Senin menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, menandakan bahwa mereka tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel," tandasnya.