Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Membangun Indonesia Kembali Cerah

MINGGU, 08 MARET 2026 | 05:50 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

SEBUAH buku berjudul Menjadi Indonesia (1995), oleh Parakitri T Simbolon, bercerita proses panjang terbentuknya kebangsaan Indonesia. 

Dipahami sebagai keseimbangan hubungan antara masyarakat dan kekuasaan negara. Dipadankan dalam bahasa Inggris bukanlah 'nationalism', melainkan 'nationhood' atau mungkin malah 'nationness', yang lebih menekankan pada 'tanggung jawab' dan dari hasil yang sudah dicapai.

Untuk mencapainya, ada tiga syarat yang dipenuhi. Kesatuan Ekonomi, kesatuan Administrasi Politik, dan kesatuan Budaya.


Pada tanggal 19 Mei 2010, Rosihan Anwar, tokoh pers Indonesia, saat itu berusia 88 tahun di Lemhanas, membuat ceramah bertema, Quo Vadis Indonesia? Obsesi Membangun Bangsa Berkarakter".

Beliau mengutip buku, Van Indie tot Indonesie (2007) berjudul Bagaimana orang jadi merdeka. Dekolonisasi panjang Indonesia.

Dekolonisasi adalah proses panjang. Dekolonisasi adalah usaha modernisasi. Persoalan masyarakat semakin kuat dipengaruhi teknologi baru oleh perkembangan negara birokrasi yang rumit dan tumbuh suburnya organisasi kemasyarakatan.

Remco Raben mendiskusikan empat masalah: keberpihakan negara, timbulnya dari situ ketidakpastian hukum, irama yang berbeda bagi usaha modernisasi, kewarganegaraan Indonesia dan perjuangan keadilan. Masalah keadilan sosial tidak diselesaikan secara memuaskan.

Indonesia Gelap

Tahun 1956, sebelum mundur Hatta bertanya ke publik, "Apakah revolusi berarti kebebasan untuk menjajah, ketidak setaraan dan perkelahian dan kebebasan untuk hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan".

Mengenai keputusan yang tidak demokratik, Hatta bilang, hanya terucap di bibir para pemimpin, tidak dalam praktek.

Rakyat diberlakukan seperti "keset" saja untuk membersihkan kaki. Mereka  hanya diperlukan untuk bertepuk tangan. Mereka tidak diperlukan untuk dididik bertanggung jawab.

Dalam ranah ekonomi (kemiskinan, pengangguran, kesenjangan, daya beli rendah), sosial (korupsi, intoleransi, kejahatan siber & konvensional, perundungan, krisis identitas, masalah kesehatan mental), lingkungan (perubahan iklim, pencemaran), serta politik & demokrasi (krisis kepercayaan publik, penurunan nilai demokrasi, polarisasi). 

Tantangan ini diperparah oleh disrupsi digital dan isu modernisasi vs. primordialisme yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa.

Kompleksitas permasalahan hingga saat ini sungguh membuat frustasi. Diperlukan suatu kepemimpinan yang "serba bisa" (Jack of All Trade).

Indonesia Cerah


Nusantara pernah mengalami asam garam serta masa adanya kerajaan, masa VOC, masa penjajahan, Belanda/Perancis, Jepang. Sebuah sejarah panjang.

Masa saat Republik lebih dari 'Delapan Dasawarsa'. Dikelola ada yang otoriter dan demokrasi. Ada dua Presiden yang berkuasa hampir 'Lima Dasawarsa'. Tersisa 'Tiga Dasawarsa' yang menjalankan pemerintah secara 'Demokrasi'.

Dari pengalaman di atas, optimisme harus dibangkitkan kembali. Pilihannya hanya ada pada konsolidasi Demokrasi. 

Tiga pilar keberlanjutan, pembangunan ekonomi, pengelolaan lingkungan, dan keadilan sosial,merupakan komponen penting yang membentuk keseimbangan ini.

Sebagai catatan pinggir, dari 'Tiga Dasawarsa'  dengan pertumbuhan positif, belum memperlihatkan jalannya Keadilan yang maksimal bagi mayoritas rakyat.

Harapan selanjutnya adalah 'menyelamatkan' generasi yang akan datang untuk membuat 'Indonesia yang Cerah'.

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78


Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Tanam Jagung Dukung Swasembada Pangan

Minggu, 08 Maret 2026 | 03:53

Pengamat Ingatkan Bahaya Berita Hoax di Balik Perang AS-Israel Vs Iran

Minggu, 08 Maret 2026 | 03:33

Polri Gandeng Pemuda Katolik Wujudkan Swasembada Pangan di Cianjur

Minggu, 08 Maret 2026 | 03:13

Anggota DPR Tidak Boleh Lepas Cerdaskan Generasi Bangsa

Minggu, 08 Maret 2026 | 02:59

Jalur Rempah dan Strategi Penguatan Armada Domestik

Minggu, 08 Maret 2026 | 02:42

DPRD Klungkung Setujui Ranperda Pajak Demi Genjot PAD

Minggu, 08 Maret 2026 | 02:18

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Polri All Out Dukung Petani dan Wujudkan Swasembada

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:42

Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Arab yang Terdampak Serangan

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:15

Bea Cukai Gandeng BNN Bongkar Laboratorium Narkoba di Bali

Minggu, 08 Maret 2026 | 00:56

Selengkapnya