Berita

Presiden AS Donald Trump. (Foto: Shutterstock)

Bisnis

Pengamat: Trump Diduga Mainkan Isu Perang untuk Dongkrak Harga Minyak

SABTU, 07 MARET 2026 | 09:52 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran diduga tidak hanya didasari oleh faktor geopolitik, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan ekonomi, khususnya pergerakan harga minyak dunia.

Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky menilai dinamika harga komoditas global itu  tidak hanya dipengaruhi faktor fundamental seperti supply dan demand. Menurutnya, sentimen dan isu yang berkembang juga memiliki peran besar dalam membentuk pergerakan harga.

“Fundamental itu ya terkait dengan supply demand minyak itu sendiri. Teknikal itu terkait dengan isu. Sama juga dengan saham, fundamentalnya terkait dunia usaha dan makroekonomi, tapi ada juga sisi teknikalnya,” kata Yanuar dalam analisisnya yang dikutip Sabtu, 7 Maret 2026.


Ia menjelaskan, pergerakan harga di pasar sering kali ditentukan oleh pihak yang mampu menguasai likuiditas sekaligus membentuk sentimen pasar.

“Untuk menggerakkan transaksi besar, pemain harus menguasai floating-nya, baik uang beredar maupun stok beredarnya. Selain itu juga menjadi market maker dari sisi isu,” jelasnya.

Dalam konteks politik global, Yanuar menyoroti gaya komunikasi Presiden AS Donald Trump yang kerap memunculkan isu besar yang berdampak langsung pada pasar keuangan. Menurutnya, pola tersebut terlihat dalam sejumlah kebijakan ekonomi yang diumumkan Trump.

Ia mencontohkan kebijakan tarif impor yang sempat diumumkan Trump sehingga memicu gejolak pasar global. Namun ketika kebijakan tersebut ditunda, pasar kembali menguat.

“Begitu Trump mengumumkan tarif, pasar keuangan dunia bergejolak turun. Tapi ketika kebijakan itu dipause, pasar kembali ke atas,” ujarnya.

Situasi tersebut bahkan sempat memunculkan tudingan dari kubu Partai Demokrat terkait kemungkinan praktik insider trading setelah Trump bertemu dengan sejumlah pengelola hedge fund dan menanyakan keuntungan yang mereka peroleh.

“Dari kubu Partai Demokrat mengatakan insider trading dilakukan oleh Trump, karena Trump seolah-olah menciptakan informasi, lalu dia bertemu dan dipublish di X-nya dengan beberapa hedge fund. Tapi kemudian Kongres Amerika Serikat juga tidak membentuk pansus,” katanya.

Karena itu, Yanuar menilai pola komunikasi Trump yang memicu kontroversi tersebut dapat dibaca sebagai upaya memainkan sentimen pasar.

“Kalau melihat Trump harus dengan sudut pandang yang dingin. Menurut saya dia sedang memainkan isu untuk mencari selisih,” tuturnya.

Dalam analisisnya, Yanuar juga mengaitkan kondisi saat ini dengan perubahan besar dalam sistem moneter global pada 1971 ketika Presiden AS Richard Nixon memutus keterkaitan dolar dengan emas.

Kebijakan tersebut mengakhiri era standar emas dan membuka jalan bagi sistem petrodolar, di mana peredaran Dolar AS didukung oleh transaksi sektor minyak.

“Nixon di tahun 1971 mencabut aturan bahwa peredaran uang tidak lagi mengacu pada rasio emas. Waktu itu muncul pertanyaan, lalu devisa Amerika akan ditopang apa? dia bilang karena perusahaan migas di Amerika Serikat itu memberikan devisa hasil ekspor. Jadi yang namanya devisa negara itu akan dapat dari keuntungan perusahaan migas,” ujar Yanuar.

Menurutnya, perubahan sistem tersebut membuat peredaran Dolar tidak lagi hanya bergantung pada cadangan emas, melainkan pada kekuatan sektor energi. Sehingga, hal ini diduga digunakan oleh Trump untuk mengerek harga minyak.

“Jadi untuk kita melihat konteks perang Iran ini ke sini dulu nih. Jadi kalau dulu currency circulation Dolar AS yang beredar harus juga ditambah dengan emas yang beredar. Ini diubah currency circulation Dolar AS yang beredar itu ditopang oleh surplus neraca migas. Sehingga apa? Dari 1970 sampai dengan 1977 harga minyak dunia di bursa komoditas go to the moon kalau istilahnya, dibawa ke atas," pungkasnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya