Berita

Pemadaman listrik di Irak (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Wion)

Dunia

Krisis Energi Makin Nyata, Listrik di Irak dan Kuba Padam Serentak

JUMAT, 06 MARET 2026 | 09:28 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Irak dan Kuba mengalami pemadaman listrik besar hampir bersamaan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. 

Di Irak, pemadaman listrik terjadi setelah pasokan gas dari Iran ke sejumlah pembangkit listrik menurun tajam. Penurunan tersebut menyebabkan hilangnya daya sekitar 1.900 megawatt, sehingga jaringan listrik nasional terganggu dan sejumlah wilayah, termasuk Baghdad dan kawasan selatan, mengalami kegelapan.

Juru bicara sektor energi menyatakan bahwa berkurangnya pasokan gas langsung memengaruhi operasi pembangkit. “Penurunan tersebut menyebabkan hilangnya daya listrik secara cepat sebesar 1.900 megawatt,” ujarnya, dikutip dari RT, Jumat 6 Maret 2026.


Irak sangat bergantung pada impor gas dari Iran untuk menjalankan pembangkit listrik. Sekitar 30-40 persen kebutuhan listrik nasional berasal dari bahan bakar tersebut, sehingga gangguan pasokan dapat segera memicu krisis listrik. Ketergantungan ini berkaitan dengan kerusakan infrastruktur energi sejak Perang Teluk 1991 dan konflik setelah invasi AS pada 2003.

Sementara itu, Kuba juga mengalami pemadaman luas pada 4 Maret 2026. Sekitar dua pertiga wilayah negara itu, termasuk Havana, kehilangan listrik setelah salah satu pembangkit termoelektrik terbesar mengalami gangguan dan menyebabkan sistem kelistrikan nasional terguncang.

Krisis listrik di Kuba diperparah oleh kekurangan bahan bakar yang telah berlangsung lama. Pemerintah setempat menilai kondisi ini berkaitan dengan pembatasan ekonomi dan hambatan pasokan minyak dari Venezuela yang selama ini menjadi sumber energi penting bagi negara tersebut.

Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan bahwa Washington dapat melakukan “pengambilalihan Kuba secara damai,” dengan alasan pemerintah di Havana berada dalam kondisi rapuh dan sedang berkomunikasi dengan pihak Amerika.

Peristiwa pemadaman listrik di dua negara itu menambah daftar tekanan energi global, terutama ketika konflik dan rivalitas geopolitik di berbagai kawasan terus meningkat.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

DPR Dorong Pemerataan APBN Demi Daerah 3T Tidak Tertinggal

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:50

Utut Adianto Ngarep PDIP Tidak Ditinggalkan dalam RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:20

Dasco Pastikan Tak Akan Tinggalkan Fraksi PDIP di RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:50

Pidato Prabowo Bukti Pemerintah Berada di Jalur yang Benar

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:23

Purbaya: Pajak Karbon Motor BBM Masih Dikaji, Belum Final

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:57

Prabowo Pilih Guyur Insentif Motor Listrik Ketimbang Perbesar Subsidi BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:45

Perkuat Pasar Muslim Jelang Libur Akhir Tahun, Taiwan Bidik Wisatawan RI

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:14

RUU Daerah Kepulauan jadi Kado Puluhan Juta Masyarakat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:59

Pidato Kenegaraan Prabowo Tunjukkan Kejelasan Arah Pemerintah

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:31

Status Tim Penyelesaian Sengketa Internal PPP Dinilai Cacat Hukum

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:07

Selengkapnya