Berita

Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Publika

Membedah Korupsi Gaya Fadia Arafiq

KAMIS, 05 MARET 2026 | 13:07 WIB

BUPATI Pekalongan Fadia Arafiq ternyata, mengamalkan praktik korupsi gaya baru. Dengan praktik haram ini, wajar kekayaannya sudah mencapai Rp85,6 miliar. 

Baru terungkap, ternyata ada korupsi gaya baru dan telah diamalkan. Pengamal pertamanya, Fadia Arafiq. Sepertinya para pengamal korupsi varian baru ini juga terjadi di daerah lain. Kita sih pura-pura kaget aja. 

Nuan bayangkan! Di tengah zaman serba digital ini, di mana KPK katanya lagi gencar OTT, muncul seorang bupati yang berpikir, “Ngapain repot-repot kasih amplop suap kayak orang kampung? Itu kan gaya lama, konvensional, kuno abis!” 


Jadi Fadia Arafiq, sang ratu Pekalongan, langsung mendirikan perusahaan sendiri bernama PT Raja Nusantara Berdaya alias PT RNB. 

Pemiliknya? Dirinya sendiri. Isinya? Anak tersayang Muhammad Sabiq Ashraff dan suami tercinta Mukhtaruddin Ashraff Abu yang langsung duduk manis sebagai komisaris. 

Lalu, dengan keajaiban kekuasaan yang luar biasa, perusahaan keluarga ini tiba-tiba “menang tender” di 21 SKPD sekaligus di 17 dinas, 3 RSUD, plus 1 kecamatan sepanjang tahun 2025. 

Total nilai kontrak Rp46 miliar untuk jasa outsourcing alias alih daya. 

Wah, jackpot keluarga! Padahal ada perusahaan lain yang nawar harga lebih murah. Tapi ya sudahlah, kan “Perusahaan Ibu” harus menang, titik. 

Bupati tinggal ngomong ke kepala SKPD. “Ini yang menang ya, kalau enggak… mutasi besok pagi!” Simpel, canggih, modern, dan super absurd.

Sekda Pekalongan Mohammad Yulian Akbar sudah berulang kali menjerit-jerit peringatan sejak perusahaan itu lahir. 

“Bu, ini konflik kepentingan, ini melanggar Pasal 12 huruf i UU Tipikor, ini bisa masuk penjara!” 

Tapi bupati yang diusung PKB, Golkar, PAN, PPP, Gerindra, PKS, dan lima partai gurem ini cuma angguk-angguk sambil senyum manis, terus lanjut gaspol. 

Hasilnya? KPK datang OTT tanggal 3-4 Maret 2026, tetapkan Fadia tersangka tunggal, langsung ditahan 20 hari pertama. 

Ada ungkapan beliau yang viral, “Saya pendangdut, bukan birokrat.” Duh..piye toh. Goyang mang, "Cik..kicik..tikincik..bum..bum"

Deputi Penindakan Asep Guntur Rahayu sampai bilang, “Ini lebih canggih dari suap konvensional, nggak ada amplop, tapi langsung pakai kewenangan eksekutif biar perusahaan sendiri wajib menang.” 

Luar biasa! Korupsi tanpa suap, tapi duit tetap mengalir deras, Rp5,5 miliar ke kantong Fadia, Rp1,1 miliar ke suami, Rp12,4 miliar ke anak, total Rp19 miliar. 

Keluarga bahagia, negara rugi, rakyat? Ya sudahlah, mereka kan cuma bayar pajak dan diam.

Ini baru satu contoh, bro! Di Lampung Tengah, Bupati Ardito Wijaya tahun 2025 sudah mainkan trik mirip, mengatur pemenang lelang lewat perusahaan tim suksesnya. 

Di Nganjuk, Bupati Taufiqurrahman zaman 2008-2018 sudah lebih dulu “berinvestasi” di proyek infrastruktur lewat perusahaan keluarga. Walikota Madiun Bambang Irianto juga pernah bikin anaknya jadi pemasok material pasar. 

Bahkan, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah tahun 2021 ikut nimbrung intervensi tender jalan lewat orang dekat. 

Semua pakai resep yang sama, konflik kepentingan level dewa, perusahaan keluarga jadi juara tender, pengawasan internal pura-pura buta, whistleblower takut dipecat. 

KPK bilang ini fenomena struktural karena biaya pilkada mahal. Jadi, harus balik modal lewat proyek. 

Artinya? Di hampir setiap daerah, bupati-wali kota lagi latihan jadi pengusaha dadakan sambil pegang palu kekuasaan. 

Belum terungkap? Ya karena Sekda pada takut, inspektorat pada diem, LPSE pada “diatur”, dan KPK kan cuma manusia, nggak bisa OTT di 500 kabupaten sekaligus.

Sungguh luar biasa negeri ini! Korupsi sudah naik kelas. Dari amplop cokelat jadi perusahaan sendiri. Dari suap tunai jadi “pengaturan halus”. 

Sementara itu rakyat Pekalongan dan jutaan rakyat daerah lain masih antre BLT, bayar listrik naik, jalan bolong, sekolah bocor. 

Tapi, setidaknya keluarga Fadia dan kawan-kawannya lagi tersenyum lebar di balik jeruji, atau mungkin masih nunggu giliran. Kalau begini terus, kapan rakyat marah beneran? 

Atau kita semua sudah terlalu biasa, sampai korupsi gaya baru ini terasa seperti “bisnis biasa” bupati? Bangun, Indonesia! Karena kalau nggak, besok-besok setiap bupati bakal buka PT “Raja Daerah Berdaya” sendiri, dan kita cuma jadi penonton yang bayar tiketnya lewat pajak.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah jadi 53 Orang, 135 Warga Luka-Luka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:27

Rusak Berat Diguncang Gempa, Hotel Jayakarta Suites Komodo Flores Tutup Sementara

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:43

SBY Minta Maaf

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:15

Tembus Jalur Laut, Bantuan Gempa M 7,7 Disalurkan ke Pulau Palue Sikka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:47

Polri Terbangkan 10 Anjing K9 untuk Cari Korban Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:12

3,4 Ton Logistik untuk NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:50

Reza Aulia Diberhentikan, Kursi Direktur Niaga Garuda Kosong

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:40

Kemendikdasmen Jangan Lamban Merespons Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:04

Retorika Janji Kemerdekaan

Minggu, 16 Agustus 2026 | 16:35

Jalur Alternatif Darat Penghubung Ende-Nagekeo Masih Terputus

Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:33

Selengkapnya