Berita

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman dalam acara Indonesia Ramadhan Expo di Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Maret 2026. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Bisnis

Kredit UMKM Sering Macet Meski Alokasi Meningkat, Ini Sebabnya

RABU, 04 MARET 2026 | 23:23 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Alokasi kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) disebut sudah meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun persoalan di sisi hilir membuat pembiayaan itu belum sepenuhnya berdampak dan berujung pada kredit macet.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengaku mendapat perspektif baru pada persoalan utama pembiayaan usaha. 

“Saya mulai dulu saya berpikir, mungkin akses pembiayaan kita yang kurang penting. Tapi setelah satu tahun saya jadi Menteri UMKM, ternyata akses pembiayaan dilihat dari sisi nominal sudah luar biasa,” ujar Maman dalam acara Indonesia Ramadhan Expo di Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Maret 2026. 


Ia memaparkan, total kredit yang dialokasikan perbankan pada 2025 mencapai Rp8.000 triliun. Dari jumlah tersebut, hampir Rp2.000 triliun telah disalurkan ke sektor UMKM, baik melalui skema pembiayaan murni maupun nonmurni. 

Secara tren, angka ini dinilai terus meningkat dibanding satu hingga dua dekade lalu. Meski demikian, peningkatan alokasi kredit belum otomatis mendorong penguatan sektor UMKM secara signifikan. 

Menurut Maman, persoalan muncul ketika pelaku usaha tidak mampu menjual produk mereka di pasar.

Kondisi tersebut, lanjut dia, berdampak langsung pada kemampuan bayar pelaku usaha. Ketika produk tidak terserap, usaha berhenti dan kredit menjadi bermasalah. 

Ia menilai tingginya rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) UMKM tidak bisa serta-merta dibebankan pada perbankan.

“Makanya saya selalu bilang bahwa NPL tinggi itu bukan serta-merta hanya kesalahan pihak bank saja. Dan UMKM itu kesalahan kita semua,” tegasnya.

Maman menggambarkan, ketika usaha gagal dan kredit macet, dampaknya bukan hanya pada laporan keuangan bank, tetapi juga memicu persoalan sosial di tingkat rumah tangga pelaku usaha.

Karena itu, pemerintah kini menitikberatkan upaya pada penguatan daya saing dan ekosistem usaha, termasuk pengaturan biaya layanan di platform e-commerce agar margin pelaku UMKM tidak tergerus.

Sambung Maman, pengalaman krisis 1998 dan pandemi Covid-19 menunjukkan UMKM menjadi penopang utama ekonomi nasional. 

“Dengan demikian, alokasi kredit yang besar harus diimbangi dengan penguatan pasar dan keberlanjutan usaha agar tidak berakhir sebagai beban kredit macet,” pungkasnya.


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Langkah Prabowo Masukkan Budaya LGBTQ Ancaman Nonmiliter Patut Didukung

Minggu, 05 Juli 2026 | 08:18

Kenduri Cinta Tantang Jokowi Dialog Terbuka soal Ijazah

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:31

Program Kopdes Tak Boleh Abaikan Prinsip HAM

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:19

Wacana Dua Periode Anyep Bikin Relawan Beralih Dukung Gibran Maju Capres

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:05

Anomali Gembok Rp1 Juta Ditjenpas

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:53

JPU Kasus Ijazah Jokowi Bikin Takut Narasumber Hadiri Diskusi di Televisi

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:46

Burung Bicara Sebelas Kata

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:34

Eropa dalam Perang Salib Pertama (1096-1099)

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:27

Penalti Mbappe Bawa Les Bleus ke Perempat Final

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:21

Keuntungan BUMN Jadi Energi Baru Pembangunan

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:06

Selengkapnya