Berita

Jaya Suprana. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Bingungomologi Musikologi

RABU, 04 MARET 2026 | 17:32 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEBAGAI insan yang dilahirkan di Indonesia, sebenarnya saya sudah terbiasa dengan urutan nama nada C D E F G A B untuk notasi not balok dan do=1 re=2 mi fa=4 sol=5 la=6 si=7, untuk notasi angka seperti lagu do re mi dalam film laris-manis legendaris peraih lima Oscar “The Sound of Music” dibintangi Julie Andrews. 

Ketika belajar kemudian mengajar seni musik di Jerman pada tahun 70an abad XX, saya bingung sebab di Jerman ternyata urutan nada adalah C D E F G A lalu bukan B tetapi H sementara tidak ada nada bernama Hes tetapi Bes ada. 

Ketika guru besar pianoforte menyuruh saya memainkan tangga nada C mayor maka saya spontan memainkan C D E F G A B tanpa sadar bahwa sebenarnya saya memainkan C D E F G A H. Franz Liszt hanya mencipta satu sonata untuk pianoforte, di Prancis disebut Sonata in si minor, di Amerika Serikat disebut Sonata in b minor sementara di Jerman sebutannya lain lagi yaitu Sonata in h moll. Satu karya banyak nama!


Perselisihan paham antara seorang dirigen Amerika Serikat melawan seorang pemusik Jerman kerap terjadi tatkala mereka berdua harus memainkan satu nada yang sama namun beda nama ! Nada H versi Jerman melawan nada B versi USA. Lain lagi dengan Prancis yang menyebut bukan do tetapi ut disusul re mi fa sol la si lalu setapak maju kembali ke ut, tetap bukan do.

Suasana bingungomologis makin membingungkan pada saat telaah merambah lebih jauh ke semesta musikologi. Misalnya istilah Klasik yang semula terbatas sebagai sebutan zaman di mana Mozart, Haydn, Salieri, Hummel, Gluck dan anak-anak Bach berperan utama kemudian berubah menjadi istilah untuk karya musik era Romantik sampai Modern bahkan Kontemporer garda terdepan. 

Violin di Indonesia disebut biola padahal nama yang benar sebenarnya adalah biolin sebab biola berasal dari viola sebagai jenis alat musik gesek di antara violin dan violoncello. Sementara violoncello dipenggal violonnya menjadi hanya tersisa cello saja. Sebagai alat musik sebenarnya violon jauh lebih penting cello yang sebenarnya cuma istilah bahasa Italia sebagai embel-embel tidak penting.

Suasana bingungonologis juga merangsek masuk ke nama alat musik tiup. Sementara French horn, yang dalam bahasa Prancis disebut cor d'harmonie, adalah horn biasa maka English horn, yang dalam bahasa Prancis disebut cor anglais, sebenarnya bukan horn, melainkan oboe dengan rentang nada lebih rendah.

Tidak kalah membingungkan adalah alat musik pianoforte yang digagas oleh Bartolomeo Cristofori semula bernama gravicembalo col piano e forte sebab bisa dimainkan secara lembut = piano maupun keras = forte.

Di masa kini nama pianoforte kemudian dipenggal menjadi piano saja meski ironisnya tetap bisa dimainkan bukan terbatas secara berbisik piano atau pianissimo namun juga secara menggelegar forte bahkan fortissimo.

Menurut kaidah akademis tata harmoni Eropa, gerak harmoni dominan dilarang keras disusul sub-dominan. Larangan ini sangat membingungkan para penggubah lagu Indonesia karena misalnya di lagu Bandar Jakarta, Lambaian Bunga  dan Bolelebo gerak harmoni terlarang itu justru terasa nikmat tiada tara! 

Mohon dimaafkan oleh para guru besar ilmu harmoni yang mengajar saya ilmu harmoni di Jerman, bahwa saya pribadi kerap lancang menggunakan gerak harmoni sejajar ke bawah maupun ke atas pada karya-karya musik untuk pianoforte yang saya gubah. 

Gerakan paralel interval kuint yang justru merupakan dasar musik tradisional Skotlandia dengan alat musik a' phìob mhòr, yang secara harfiah berarti "pipa besar".

Istilah ini merujuk pada Great Highland Bagpipe sebagai alat musik tiup menghasilkan suara khas dari kantung udara yang kemudian dialirkan ke pipa-pipa bersuara dengan buluh melalui hembusan mulut atau pompa, dan biasanya memiliki setidaknya satu pipa khusus untuk nada dasar basso ostinato

Pada hakikatnya segenap pelanggaran tersebut merupakan bukti bahwa musik yang murni keluar dari lubuk sanubari manusia sebenarnya tidak butuh aturan akademis. Yang lebih dibutuhkan adalah ketulusan.

Penulis adalah Budayawan dan Pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI)

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Melangkah Penuh Harapan, Pertamina Jaga Kesiapan Pasokan Jelang Idulfitri

Rabu, 04 Maret 2026 | 20:10

Cerita Tobat Mantan Penambang Ilegal Pongkor

Rabu, 04 Maret 2026 | 19:59

KPK: Tidak Ada Informasi Fadia Arafiq Ditangkap saat Bersama Gubernur Jateng

Rabu, 04 Maret 2026 | 19:43

Antisipasi Perang Dunia, AHY Ajak Perkuat Soliditas Hadapi Skenario Terburuk

Rabu, 04 Maret 2026 | 19:40

Tips Mudik Aman dan Nyaman Tanpa Khawatirkan Rumah Kosong

Rabu, 04 Maret 2026 | 19:17

Presiden Prabowo Batal Hadir Bukber Partai Demokrat

Rabu, 04 Maret 2026 | 19:09

Tak Benar MBG Ganggu Anggaran Pendidikan

Rabu, 04 Maret 2026 | 19:02

Sudah Dibuka, Ini Cara Daftar Mudik Gratis 2026 Pertamina

Rabu, 04 Maret 2026 | 18:53

Spesifikasi Xiaomi 17 dan Daftar Harganya di Indonesia

Rabu, 04 Maret 2026 | 18:38

Gubernur Jateng Bantah Bersama Bupati Pekalongan saat OTT KPK

Rabu, 04 Maret 2026 | 18:33

Selengkapnya