Berita

Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani dalam jumpa pers di kantornya di Jakarta Pusat, Rabu 4 Maret 2026. (Foto: Tangkap layar siaran langsung Youtube BMKG)

Nusantara

Sektor Pertanian Harus Waspadai Kemarau Lebih Kering dan Panjang

RABU, 04 MARET 2026 | 17:04 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berharap prediksi musim kemarau di Indonesia pada tahun ini akan lebih panjang dan relatif lebih kering jika dibandingkan dengan 2025, bisa menjadi rujukan kebijakan untuk sektor-sektor penting, seperti kebencanaan dan pertanian.

Demikian dikatakan Kepala BMKG, Prof. Teuku Faisal Fathani dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Angkasa 1, Jakarta Pusat, Rabu 4 Maret 2026.

"Penyusunan informasi ini dimaksudkan sebagai referensi dalam mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan di berbagai sektor," kata Faisal dikutip melalui siaran langsung BMKG di Youtube.


"Antara lain untuk mendukung swasembada pangan, terkait sumber daya air, energi, lingkungan, kehutanan, dan kebencanaan," sambungnya.

Dia menegaskan, hasil telaah BMKG terkait prediksi periodik, intensitas, hingga masa puncak dan persentase wilayah yang akan mengalami kemarau, juga tidak terlepas dari analisa perbandingan.

"Perbandingan antara prediksi awal musim kemarau 2026 terhadap rata-rata atau normal selama 30 tahun terakhir dari tahun 1991 sampai 2020," kata Faisal.

Lebih lanjut, Faisal meyakini prediksi kemarau yang diumumkan BMKG hari ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun kebijakan yang dapat memitigasi resiko-resiko yang dapat terjadi.

Untuk awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau maju, yaitu di 325 Zona Musim atau 46,5 persen dari keseluruhan zona musim sejumlah 699.

Periode masuk musim kemarau terbagi menjadi 3 fase yaitu di April, Mei, dan Juni 2026 diawali dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian bergerak ke barat secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.

Kemarau yang terjadi pada tahun 2026 ini, sebagian besar wilayah Indonesia atau di 400 Zona Musim atau 57,2 persen, diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya