PELINDUNG Rasulullah, jawara di medan perang. Namun, ia syahid dengan cara sangat sadis, dimutilasi, jantungnya dimakan. Dialah Hamzah RA.
Sejarah Islam itu bukan dongeng pengantar tidur. Ia penuh darah, air mata, dan auman singa. Jika ada satu nama yang membuat padang Uhud terasa seperti arena gladiator gurun, itu adalah Hamzah bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu.
Paman Nabi, saudara sepersusuan beliau, bangsawan Quraisy, dan pemilik gelar yang tidak pernah disematkan oleh lembaga survei mana pun: Asadullah wa Asadu Rasulillah, Singa Allah dan Singa Rasul-Nya.
Hamzah lahir di Makkah sekitar dua hingga empat tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, kira-kira tahun 568 M.
Ayahnya Abdul Muththalib, tokoh sentral Quraisy. Ibunya Halah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah, saudari Aminah binti Wahb.
Hubungannya dengan Nabi bukan sekadar paman-keponakan. Mereka juga sama-sama disusui oleh Tsuwaibah, bekas budak Abu Lahab.
Rasulullah menyebut Hamzah sebagai saudara sepersusuannya. Satu rahim keluarga, satu susu, satu takdir besar.
Sebelum Islam, Hamzah sudah dikenal sebagai lelaki bertubuh kuat, ahli berburu, jago memanah, dan disegani. Ia tipe pria yang kalau masuk majelis, orang otomatis merapikan duduknya.
Meski belum beriman, ia tidak pernah ikut menghina Nabi. Ada rasa sayang yang kokoh seperti batu Ka’bah.
Lalu datang momen legendaris yang mengubah arah sejarah. Abu Jahl menghina Nabi di dekat Ka’bah. Nabi diam, menahan amarah dengan kesabaran level langit.
Seorang budak perempuan menyampaikan kabar itu kepada Hamzah yang baru pulang berburu, lengkap dengan busur di tangan.
Bayangkan, pemburu gurun mendengar keponakannya dilecehkan. Darahnya mendidih bukan lagi seperti air, tetapi seperti lava.
Tanpa konferensi pers, tanpa diskusi panel, Hamzah langsung mendatangi Abu Jahl, memukul kepalanya dengan busur hingga berdarah, lalu mendeklarasikan, “Aku berada di atas agamanya!”
Satu pukulan. Satu kalimat. Satu revolusi. Sejak hari itu, Islam tidak lagi terlihat sendirian. Quraisy mulai berpikir ulang sebelum menyiksa kaum muslimin. Mereka sadar, singa sudah masuk kandang.
Tahun 2 Hijriah, Hamzah memimpin 30 Muhajirin menghadang kafilah Quraisy yang berjumlah sekitar 300 orang. Rasio 1 banding 10.
Tidak ada proposal anggaran, tidak ada konsultan strategi. Hanya iman dan keberanian. Lalu pecahlah Perang Badar. Kaum muslimin 313 orang menghadapi sekitar 1000 pasukan Quraisy.
Dalam duel pembuka, Rasulullah memanggil Hamzah untuk menghadapi Utbah bin Rabi’ah. Hasilnya tegas, Utbah tumbang. Di Badar, Hamzah menebas sejumlah tokoh Quraisy. Kemenangan itu bukan kebetulan. Itu hasil iman yang diterjemahkan menjadi keberanian.
Namun sejarah tidak berhenti di Badar. Tahun berikutnya, 7 Syawal 3 H (sekitar Maret 625 M), meletus Perang Uhud. Quraisy datang dengan sekitar 3000 pasukan. Kaum muslimin sekitar 700 setelah sebagian mundur.
Hamzah kembali menjadi badai di medan perang. Riwayat menyebut ia membunuh lebih dari 30 orang musuh, ada yang menyebut 31. Ia bergerak seperti singa lapar di tengah kawanan. Ia bahkan berseru, “Aku adalah Singa Allah!”
Namun dendam Badar membara di dada Hindun binti Utbah. Ayah, saudara, dan kerabatnya tewas di Badar.
Ia menyewa Wahsy bin Harb, seorang ahli lempar tombak dari Habasyah. Wahsy tidak maju duel. Ia menunggu di balik batu, sabar seperti pemburu menanti mangsa.
Saat Hamzah sedang fokus bertarung, tombak itu melesat, menembus tubuhnya hingga tembus ke belakang. Singa itu roboh. Syahid di usia sekitar 59 tahun.
Tragedi ternyata belum berakhir di situ. Setelah tubuh Hamzah terbaring tak bernyawa di pasir Uhud, kebiadaban justru membuka wajahnya yang paling gelap.
Jasad yang masih hangat oleh darah syahid diperlakukan seperti trofi dendam. Pisau-pisau ditarik tanpa ragu. Hidungnya dipotong. Telinganya direnggut. Dada yang dahulu membusung gagah di medan laga kini dibelah dengan kasar.
Tubuh Hamzah tidak lagi utuh. Ia dicabik, dimutilasi, diperlakukan tanpa belas kasihan. Pasir Uhud menjadi saksi betapa dendam dapat menelanjangi sisi tergelap manusia.
Angin gurun berembus melewati jasad yang terkoyak, membawa aroma getir tragedi yang membuat siapa pun yang membayangkannya akan bergidik.
Ketika Rasulullah berdiri di hadapan jasad pamannya itu, beliau melihat tubuh yang terluka parah. Beliau menangis. Turunlah QS. An-Nahl ayat 126, mengajarkan balasan setimpal atau kesabaran yang lebih baik.
Rasulullah memilih kesabaran. Di tengah luka yang begitu dalam, beliau tidak membalas mutilasi dengan mutilasi. Di situlah peradaban menang atas kebiadaban.
Ada riwayat bahwa jenazah Hamzah disalatkan berulang kali karena kecintaan Rasulullah yang mendalam. Dalam hadis sahih disebutkan ruh para syuhada berada dalam perut burung hijau di surga, menikmati rezeki dari Allah. Hamzah tidak kalah. Ia dimuliakan.
Hamzah mengajarkan, keberanian bukan sekadar teriakan, melainkan kesiapan membayar harga tertinggi. Ia bangsawan Quraisy yang meletakkan status di bawah iman. Ia paman yang menjadi tameng bagi Nabi. Ia pejuang yang tidak pernah meminta imbalan dunia.
Singa itu gugur di Uhud, tetapi aumannya melintasi abad. Namanya tetap berdiri sebagai simbol keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan yang total.
Sejarah boleh berjalan jauh, tetapi kisah Hamzah akan selalu membuat dada bergetar dan hati bertanya: sanggupkah kita meneladani sepercik saja keberaniannya?
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar