Berita

Ilstrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Konflik Timur Tengah Diprediksi Panjang, Wall Street Parkir di Zona Merah

RABU, 04 MARET 2026 | 08:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Indeks-indeks utama Wall Street melanjutkan pelemahan seiring meningkatnya kekhawatiran investor bahwa konflik di Timur Tengah dapat berlangsung lebih lama dan memicu lonjakan inflasi, terutama lewat kenaikan harga energi.

Dikutip dari Reuters, Rabu 4 Maret 2026, pada penutupan perdagangan Rabu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 403,51 poin atau 0,83 persen ke level 48.501,27. Indeks S&P 500 melemah 64,99 poin atau 0,94 persen ke posisi 6.816,63, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 232,17 poin atau 1,02 persen ke level 22.516,69. 

Sempat anjlok lebih dari 2 persen di awal sesi, S&P 500 berhasil memangkas sebagian kerugian dan akhirnya ditutup turun kurang dari 1 persen. Meski begitu, indeks ini menembus ke bawah rata-rata pergerakan 100 hari untuk pertama kalinya sejak 20 November, yang dinilai sebagai sinyal teknikal negatif.


Tekanan jual terjadi secara luas, tercermin dari lonjakan indeks volatilitas Cboe (VIX) yang mencatat penutupan tertinggi sejak November. Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang turun melampaui yang naik dengan rasio 4,1 banding 1. Tercatat 137 saham mencetak level tertinggi baru dan 167 saham menyentuh level terendah baru. Di Nasdaq, 3.540 saham turun sementara 1.262 saham naik.

Sementara itu, saham Blackstone turun 3,8 persen setelah dana kredit andalannya, BCRED, mengalami lonjakan permintaan penarikan dana dari investor.

Menurut Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan konflik Iran berlangsung lebih lama dari perkiraan awal dan berpotensi mengganggu infrastruktur energi. Kekhawatiran inilah yang membuat pelaku pasar cemas terhadap dampaknya pada inflasi.

Di sisi lain, Oliver Pursche, penasihat senior di Wealthspire Advisors, menggambarkan kondisi psikologis pelaku pasar saat ini. “Investor sedang bergulat dengan volatilitas dan arus berita, dan mereka melihat portofolionya sambil berpikir, ini bisa saja menjadi lebih buruk. Inilah ketakutan bahwa situasi akan memburuk,” ujarnya.

Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya