Berita

Bendera Amerika Serikat (AS). (Foto: Istimewa)

Publika

AS di Balik Kudeta Sejumlah Negara, Termasuk Indonesia

SELASA, 03 MARET 2026 | 18:07 WIB

SETELAH Perang Dunia Kedua, Amerika Serikat (AS) memang negara yang kerap berada di belakang krisis politik, bahkan kudeta di suatu negara, tak terkecuali Indonesia. 

Soeharto boleh dibilang, naik jadi Presiden Indonesia, karena AS dan turun pun karena AS. 

Jadi tidak saat ini saja di era Presiden Donald Trump. Di era-era sebelumnya juga begitu.


Berbeda dengan Rusia dan China. Dua negara kuat ini, kiranya tak pernah melakukan seperti apa yang dilakukan AS. Melakukan pergantian rezim melalui politik dan militer. 

Rusia memang melakukan juga seperti AS terhadap Ukraina, tapi Rusia beralasan Ukraina akan menjadi ancamannya, karena hendak "berselingkuh" dengan Barat, meninggalkan Rusia.

China berbeda lagi menguasai suatu negara. Bukan lewat pergerakan politik dan militer. 

Bukan tak bisa seperti AS dan Rusia, tapi DNA China tak seperti itu sejak awal. 

China lebih memilih jalan ekonomi buat menguasai suatu negara. Berikan utang yang besar kepada negara itu, dan kalau tak mampu membayar, maka China akan hadir mengambil alih negara itu. 

Srilangka, Laos, Uganda, Maladewa, dan banyak negara di Afrika lainnya, sudah seperti milik China.

Makanya, bisa dipahami kalau politik luar negeri Indonesia di era Presiden Prabowo Subianto terlihat lebih condong ke AS, setelah di era Presiden Jokowi terlihat lebih condong ke China. 

Bahkan, istilah ada negara dalam negara seperti yang dilontarkan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin tempo hari, negara yang dimaksud mana lagi, kalau bukan China. 

Termasuk, kereta cepat Whoosh yang utangnya gila-gilaan. Itu terjadi di eranya Presiden Jokowi.

Ada yang mengatakan di media sosial, itu karena Presiden Prabowo takut "digulingkan" AS. Mungkin ada benarnya. 

Tapi, sebetulnya, Indonesia sudah "digulingkan" China terlebih dulu secara ekonomi seperti ada negara dalam negara, istilah Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, tempo hari itu. 

Ingat, setahun belakangan, Presiden Prabowo, sudah keliling hampir ke semua negara dan bertemu empat mata dengan pemimpin-pemimpin kuat di dunia ini.

Jadi, mestinya, sebagai rakyat biasa kita lebih yakin dengan ijtihad politik Presiden Prabowo dibanding siapa pun di negeri ini. 

Sebab, beliau mengambil keputusan dari jarak dekat, sementara yang lainnya hanya "ongkang-ongkang" kaki saja dari geladak kapal. 

Ilmu politik, militer, intelijen, ekonomi, budaya, dan segala macamnya, yang dibutuhkan untuk mengambil kesimpulan terbaik, dimiliki oleh Presiden Prabowo. 

Kamu buzzer Prabowo, ya? No!

Lagian, dekat dengan Donald Trump itu menguntungkan Prabowo, karena bisa menanyakan langsung siapa atau pihak mana saja yang menjadi antek-antek Amerika. 

Mungkin bukan antek-antek Amerika juga, melainkan antek-antek globalis. Sebab, Donald Trump-lah yang menghentikan bantuan-bantuan yang disebar di seluruh dunia, atas nama demokrasi, dan lain sebagainya.

Berarti lewat Donald Trump, di tangan Prabowo siapa saja antek-antek Amerika yang biasa bermain di Indonesia, mestinya sudah diketahui. 

Dunia dalam ketidakpastian yang bisa berakhir buruk dan menakutkan.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya