Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Lebaran di Ambang Kelangkaan BBM

SENIN, 02 MARET 2026 | 18:04 WIB

LEBARAN 1447 H seharusnya menjadi momen pulang kampung. Tapi bagaimana jika yang mudik justru krisis?

Bayangkan sebuah negara dengan ratusan juta penduduk, dengan tradisi mudik terbesar di dunia, memasuki bulan suci dengan satu fakta memprihatinkan.

Cadangan energi hanya cukup sekitar 20 hari. Bukan 6 bulan, bukan 3 bulan, hanya hitungan minggu bahkan hari. Dan itu pun di atas kertas, dalam asumsi situasi normal yang justru tidak sedang terjadi.


Masalahnya, Lebaran bukan situasi normal. Lebaran adalah ledakan mobilitas. Jalan tol berubah menjadi lautan kendaraan, SPBU menjadi titik antrean tanpa ujung, dan konsumsi BBM melonjak jauh di atas rata-rata harian.

Dalam kondisi seperti ini, angka “20 hari” bukan lagi stok, tapi syok.

Karena ketika semua orang ingin pulang dalam waktu bersamaan, konsumsi tidak lagi mengikuti hitungan logika. 

Ia mengikuti emosi, kepanikan, dan kebutuhan. Satu keluarga mengisi penuh tangki. Yang lain ikut-ikutan. Panic buying bukan kemungkinan, tapi hampir pasti.

Saat itu terjadi, 20 hari bisa menguap menjadi 10 hari. Atau kurang.

Negara dipaksa memilih siapa yang boleh bergerak, dan siapa yang harus berhenti. BBM tidak lagi menjadi barang publik, melainkan komoditas yang dijatah. 

Distribusi diprioritaskan untuk sektor vital, sementara masyarakat umum mulai merasakan kelangkaan. Antrean memanjang, kesabaran memendek.

Lebaran yang seharusnya menjadi momen berkumpul berubah menjadi pengalaman menunggu, menunggu giliran isi bensin, menunggu kepastian perjalanan, menunggu apakah bisa sampai ke kampung halaman.

Dampaknya tidak berhenti di jalan. Ketika BBM terganggu, distribusi pangan ikut tersendat. Harga bahan pokok naik, bukan perlahan, tetapi serempak.

Lebaran yang identik dengan kelimpahan berkah berubah menjadi momen di mana banyak orang harus menghitung ulang mana yang bisa dibeli, mana yang harus ditahan.

Ini bukan sekadar krisis energi. Ini adalah krisis yang menyerang momen paling sakral dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Dan di situlah letak kegagalannya.

Karena krisis ini bukan datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari ketergantungan panjang pada impor, absennya cadangan strategis yang memadai, dan kebijakan energi yang terlalu nyaman dalam asumsi “semua akan baik-baik saja.”

Selama bertahun-tahun, sistem dibangun untuk kondisi normal, bukan untuk menghadapi gangguan.

Padahal dunia tidak pernah benar-benar stabil.

Jika satu gangguan global saja seperti tersendatnya jalur pasokan di Selat Hormuz akibat konflik Iran dan Israel, langsung membuat negara hanya punya napas 20 hari, maka persoalannya bukan pada krisisnya. Persoalannya ada pada fondasi yang rapuh sejak awal.

Lebaran, dalam konteks ini, berubah menjadi cermin paling jujur. Ia memperlihatkan apakah negara benar-benar siap melayani rakyatnya di saat paling penting, atau justru kewalahan ketika tekanan mencapai puncaknya.

Jika skenario terburuk itu benar terjadi, maka yang akan diingat bukan hanya antrean panjang atau harga yang melonjak.

Yang akan diingat adalah satu hal sederhana bahwa di saat rakyat ingin pulang, negara justru kehabisan tenaga untuk mengantarkan mereka.

Hamdi Putra
Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DPR Paripurna Bahas RAPBN 2027 Hari Ini, Purbaya Dijadwalkan Hadir

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:21

Indonesia Hidupkan Kembali Pusat Pelatihan Pertanian di Gambia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:20

Emas Antam Terbang Rp15.000, Satu Gram Jadi Rp2,64 Juta

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:08

AS Desak SPBU Turunkan Harga Bensin Seiring Anjloknya Minyak Dunia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00

Sanksi Tegas Harus Dijatuhkan ke Pihak yang Terlibat Kasus Helikopter KPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:47

Heddy Lugito Ungkap Peran Penting Media Massa bagi Eksistensi DKPP

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:40

IHSG Terbang 1,2 Persen, Rupiah Loyo Rp17.979 per Dolar AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:32

Purbaya Tegaskan Surat Utang Danantara Tak Buka Ruang TPPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:26

Penyaluran KPP Melesat, Pemerintah Tingkatkan Plafon Pembiayaan Jadi Rp50 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:17

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:08

Selengkapnya