Berita

Ilustrasi cukai tembakau. (Foto: RMOL)

Bisnis

Penambahan Layer Cukai Bisa Selamatkan Industri Rakyat

SENIN, 02 MARET 2026 | 15:51 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Rencana Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menambah lapisan (layer) tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada 2026 untuk melegalkan rokok lokal tanpa pita cukai dan menekan rokok ilegal disambut positif kalangan pengsaha.

“Struktur industri kita tidak tunggal. Ada perusahaan besar, menengah, hingga ribuan usaha kecil padat karya. Kalau tarif dipukul rata tanpa masa transisi, yang tumbang lebih dulu bukan konsumsi, tapi industri kecil,” ujar pengusaha tembakau Madura, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Senin, 2 Maret 2026.

Data Kemenkeu menunjukkan, penerimaan CHT masih menjadi salah satu tulang punggung APBN dengan kontribusi di atas Rp200 triliun per tahun. Namun, di saat bersamaan, peredaran rokok ilegal terus meningkat, terutama di segmen harga murah.


Kalangan pelaku usaha menilai fenomena tersebut tidak terlepas dari struktur tarif yang terlalu curam sehingga menciptakan kesenjangan harga antara produk legal dan ilegal.

“Ketika gap harga terlalu tinggi, pasar akan mencari celah. Penambahan layer justru mempersempit celah itu agar pelaku usaha kecil masuk ke sistem legal dan negara tidak kehilangan penerimaan,” tegasnya.

Ia menolak anggapan bahwa tambahan layer otomatis membanjiri pasar dengan rokok murah. Menurutnya, layer hanyalah instrumen klasifikasi, bukan penentu harga.

“Layer itu klasifikasi, bukan diskon. Yang menentukan murah atau mahal adalah tarifnya, bukan jumlah lapisan tarif,” katanya.

Gus Lilur juga tak setuju kebijakan tersebut dianggap bertentangan dengan semangat UU 39/2007 tentang Cukai. Ia menilai regulasi justru memberi fleksibilitas kepada pemerintah untuk menyesuaikan struktur tarif sesuai kondisi ekonomi dan sosial.

“Undang-undang mengamanatkan pengendalian konsumsi sekaligus optimalisasi penerimaan negara. Kalau rokok ilegal meningkat, desain tarif memang harus disesuaikan,” ujarnya.

Ia mengingatkan simplifikasi tarif yang terlalu agresif berpotensi mendorong konsolidasi industri ke tangan pemain besar. Dalam jangka panjang, kondisi itu dinilai dapat mengurangi kompetisi sekaligus menggerus basis ekonomi daerah yang bergantung pada industri hasil tembakau.

Dari sisi ketenagakerjaan, industri hasil tembakau masih menyerap jutaan tenaga kerja, mulai dari petani, buruh linting, hingga sektor distribusi.

“Kalau industri kecil mati karena kebijakan tanpa transisi, siapa yang menanggung dampaknya? Negara harus menjaga keseimbangan antara kesehatan publik, penerimaan negara, dan ekonomi rakyat,” pungkasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

MTI: Saatnya Pilih Pemimpin karena Kualitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:29

Korupsi Kredit Perbankan Rp629,8 Miliar Proyek Apartemen Bekasi Diusut

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:18

Ketika Hukum Konstitusi Berhadapan dengan Realitas Pertahanan Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:01

Kesaktian Nusron Terbukti Lagi, KPK Dibuat Tak Bergigi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:48

Masjid Apung An-Nur di Ancol jadi Landmark Baru di Pesisir Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:20

Prabowo Pimpin Rapat Kabinet di Istana Bogor

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:07

KPK Jangan Gertak Sambal: Segera Jemput Paksa Nusron!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:35

Melampaui Efisiensi, Menemukan Peluang Baru

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:20

5 Jurnalis Hilang di Krakatau Dianugerahi Penghargaan Kemanusiaan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:02

Investor Jangan Gampang Panik soal Ancaman MSCI

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya