Berita

Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Foto: RMOL)

Publika

Menteri Agama Tiga Kali Minta Maaf

SENIN, 02 MARET 2026 | 16:38 WIB

MENTERI Agama Nasaruddin Umar kembali meminta maaf di hadapan publik. 

Ini kali ketiga sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto, tanggal 21 Oktober 2024, lalu. 

Belum termasuk masalah gratifikasi naik jet pribadi kemarin, yang sudah dilaporkan ke KPK dan KPK menganggapnya dianggap clear. Bersih.


Kenapa Menteri Agama seringkali meminta maaf? Menurut saya, pertama, hatinya lembut dan lurus. Ia tak bermaksud aneh-aneh. Tapi orang bisa saja bermaksud aneh-aneh. 

Ia meminta maaf untuk mengakhiri polemik. Tahu sendirilah polemik di negeri ini, bisa panjang kali lebar alias lama. 

Kedua, ilmunya bukanlah ilmu yang biasa saja. Ilmu yang tak dipahami orang kebanyakan. 

Apa yang ia katakan, bukanlah sekadar perkataan itu saja, tapi dibaliknya. 

Tapi orang tak peduli dengan apa yang dikatakan dibaliknya. Sebab, ia seorang menteri, seorang pejabat publik. Ia bukan sekadar ulama.

Ketiga, apa yang mengakibatkan ia meminta maaf, sebetulnya bukanlah masalah besar, tapi bisa besar karena ia adalah pejabat publik, bukan lagi seorang pengajar, ustaz, ulama, dan sebagainya. 

Ia kurang sensitif dengan jabatannya. Karena itu, sebaiknya ia mundur atau dicopot saja.

Perhatikanlah, tiga kali Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta maaf. Pertama, soal pernyataannya; “Kalau mau cari uang, jangan jadi guru. Jadi pedaganglah,” katanya September 2025.

Pernyataan itu ada benarnya, tapi kurang sensitif sebagai pejabat publik. 

Sang mentari lalu mengklarifikasi, “Justru sebaliknya, saya ingin menegaskan bahwa guru adalah profesi yang sangat mulia seperti yang saya sampaikan,” terangnya saat meminta maaf.

Kedua, soal kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren. Ia menilai kasus itu terlalu dibesar-besarkan. 

“Jangan sampai hanya karena segelintir oknum, nama besar pesantren yang telah berjasa bagi bangsa ini tercoreng,” katanya waktu itu.

Ini juga menimbulkan reaksi publik. Tapi lag-lagi ia mengatakan tak bermaksud jelek. 

“Jangan sampai perjuangan para kiai dan santri yang sudah ratusan tahun membangun pesantren menjadi rusak karena hal itu,” jelasnya.

Ketiga, yang terbaru soal zakat. Ia mengatakan bahwa zakat justru tidak populer di masa Nabi dan para sahabat. 

“Quran juga tidak mempopulerkan zakat. Zakat itu nggak populer. Pada masa sahabat juga nggak populer. Yang populer apa? Sedekah,” jelasnya. 

Ia pasti punya ilmu tentang itu, tapi sebagai pejabat publik, lag-lagi tidak pas.

Menteri Agama kembali menjelaskan maksudnya bahwa itu sebagai ajakan untuk reorientasi pengelolaan dana umat dari sekadar zakat sebagai kewajiban menuju optimalisasi beragam instrumen.

Bukan berarti zakat yang merupakan rukun Islam diabaikannya. Mana mungkin ia melakukan itu sebagai orang yang paham agama.

Saya hanya menyorot ketulusan seorang Menteri Agama kita ini. Asal tak terseret kasus korupsi seperti Menteri Agama sebelumnya, maka beliau termasuk yang semoga saja berhasil nantinya.

Memang, beliau harus cepat-cepat menyadari bahwa beliau adalah pejabat publik, bukan lagi Imam Besar, yang perkataannya bisa saja dimaklumi. 

Tapi kalau beliau dicopot pun, beliau akan legowo sekali. Beliau terlihat tak ada beban apa-apa. Justru Presiden Prabowo, yang tak mau mencopotnya. Sebab, beliau adalah gurunya, orang kepercayaannya sejak lama.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya