Berita

Koordinator Siaga 98, Hasanuddin (Foto: Dokumen RMOL)

Politik

Siaga 98 Minta Prabowo Tunda Kunjungan ke Timur Tengah di Tengah Eskalasi Konflik

SENIN, 02 MARET 2026 | 11:39 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran terhadap keselamatan kepala negara yang berencana melakukan kunjungan langsung ke wilayah tersebut.

Koordinator Simpul Aktivis Angkatan 98 (Siaga 98), Hasanuddin, menilai Presiden Prabowo Subianto sebaiknya menunda lawatan ke Timur Tengah demi menjaga keselamatan nasional. Menurutnya, dalam konflik berskala internasional yang tengah memanas, kepala negara berpotensi menjadi target strategis.

Hasanuddin menyebut situasi saat ini sangat berbahaya karena sasaran konflik tidak hanya terbatas pada instalasi militer, tetapi juga dapat menyasar pemimpin negara. Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi mengancam keselamatan presiden sebagai kepala negara dan pimpinan tertinggi bangsa.


Meski demikian, Siaga 98 tetap menyatakan dukungan terhadap langkah diplomasi pemerintah Indonesia dalam mendorong perdamaian global. Hasanuddin menilai niat Presiden Prabowo untuk berperan sebagai mediator patut diapresiasi, namun perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan secara matang.

Ia mendorong pemerintah memanfaatkan jalur diplomasi alternatif, seperti pertemuan virtual, pengiriman utusan diplomatik, atau forum internasional, agar Indonesia tetap dapat berperan aktif tanpa mempertaruhkan keselamatan kepala negara.

Menurutnya, langkah tersebut tetap sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, sekaligus mengedepankan aspek perlindungan terhadap presiden sebagai pemimpin tertinggi negara.

Selain isu keselamatan presiden, Siaga 98 juga menyoroti potensi aktivitas intelijen asing di dalam negeri yang berkaitan dengan konflik Timur Tengah. Mereka meminta Badan Intelijen Negara (BIN) dan jajaran intelijen pertahanan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan pergerakan intelijen asing yang berkaitan dengan dinamika konflik tersebut.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya