Berita

Presiden Prabowo Subianto- Wapres Gibran Rakabuming Raka. (Foto: Istimewa)

Publika

Awan Kelam Ekonomi Prabowo-Gibran

MINGGU, 01 MARET 2026 | 03:00 WIB

WALAU tidak ada pernyataan resmi dari  pasar atau pelaku investasi, perilaku fiskal kabinet Presiden Prabowo Subianto-Wapres Gibran Rakabuming Raka diamati oleh dunia. 

Hal ini yang tidak disadari oleh presiden. Ada dua masalah pokok: pesimisme struktural terhadap kabinet Prabowo-Gibran dan lumpuhnya peran APBN sebagai penyeimbang.

Sorotan dunia antara lain soal wacana peningkatan PPN sebesar 12 persen di awal masa pemerintahannya, penghentian perdagangan saham sudah sampai tiga kali dalam waktu kurang dari satu tahun, pernyataan defisit APBN oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa baru-baru ini.


Selain itu, ada pula ekspansi pengeluaran APBN untuk Makan Bergizi Gratis (MBG), pembelian mobil Koperasi Merah Putih dari India, serta  keikutsertaan dalam  Board of Peace (BoP) Presiden AS Donald Trump sebesar Rp16-17 triliun dari APBN.

Semua itu akan semakin dibaca pasar sebagai misalokasi anggaran atau sumber daya yang seharusnya bisa menjadi kompensator pengerek suplai agregat di tengah potret kesuraman tersebut. 

Pemerintah seperti kurang peka dan kurang cerdas dalam memahami berbagai kesulitan. 

Terbongkarnya pembiayaan utang dalam proyek-proyek infrastruktur rezim Joko Widodo alias Jokowi yang sebelumnya, gelontoran bansos Rp510 triliun lebih menjelang Pemilu lalu yang harus ditutup, turut memerparah persepsi pasar terhadap keuangan pemerintah. 

Penurunan peringkat utang oleh Moody's dan S&P, peringatan MSCI di pasar saham dan rilis Transparency International 2025 yang baru saja keluar bahwa Indonesia semakin korup -- tiga peringkat lebih buruk dari periode sebelumnya -- akan kian mempersulit persepsi pasar terhadap Indonesia dan meningkatkan biaya utang negara. 

Semua itu harus dibayar dengan uang rakyat lewat pajak, karena ini keseimbangan Ricardian dalam ilmu ekonomi. Semua akan dibaca bahwa Indonesia akan makin berisiko ke depan oleh pasar.

Korbannya rakyat, masyarakat. Jumlah pengemudi ojol yang meningkat sedikitnya tiga juta orang dalam dua tahun terakhir, utamanya dikontribusi oleh tingginya warisan PHK di masa akhir pemerintahan Jokowi.

Belum lagi tingginya klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) dalam BPJS Ketenagakerjaan. 

Terutama pasca Q1-2025 dan terus menurunnya daya beli rakyat sehingga mengakibatkan deflasi di September 2024.

Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi sangat lemah dan APBN yang seharusnya bisa menjadi penyeimbang justru digunakan oleh pemerintahan Prabowo Gibran untuk hal-hal yang tidak optimal, seperti bergabung dengan BoP, MBG yang tak terealisir daya ungkitnya, dan lain-lain.

Semua ini menunjukkan indikasi fundamental, yaitu pemerintahan Prabowo Gibran minim kepercayaan pasar. 

Sehingga tidak bisa lagi diatasi dengan cara-cara yang bersifat teknis jangka pendek. Larinya modal keluar, pelemahan nilai tukar dan rendahnya absorbsi utang, adalah potensi yang sangat mungkin terjadi. 

Karena dual shocks menyebabkan pasar tidak percaya kepada pemerintah. Terlebih pemerintah juga notabene tidak punya uang (defisit pemerintahan Prabowo-Gibran terus memburuk 33 persen dalam tiga tahun terakhir melihat realisasi target RAPBN 2025).

Dr Anggoro Budi Nugroho
Ekonom, pengajar pada School of Business and Management ITB (SBM ITB)

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya