Berita

Industri otomotif dalam negeri. (Foto: gaikindo.or.id)

Bisnis

Wacana Impor 105 Ribu Pikap India Ancam Industri Dalam Negeri

SABTU, 28 FEBRUARI 2026 | 03:33 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Rencana pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mengimpor mobil pikap sebanyak 105 ribu dipandang oleh Ketua MPP PKS Mulyanto sebagai kebijakan yang berpotensi melemahkan industri dalam negeri. 

Mulyanto mengatakan polemik impor kendaraan dari India tersebut harus dilihat sebagai bagian dari persoalan strategis yang lebih luas, yaitu arah kedaulatan industri nasional di tengah tekanan global terhadap kebijakan industri Indonesia. 

Pasalnya, isu ini tidak berdiri sendiri, tetapi terkait erat dengan dinamika perjanjian dagang internasional, termasuk pembahasan relaksasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)


"Kekhawatiran publik bahwa Indonesia berpotensi dijadikan pasar bagi produk teknologi lama dari luar negeri harus menjadi alarm bagi pemerintah. Walaupun kendaraan tersebut masih memenuhi regulasi nasional, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kebijakan tersebut memperkuat atau justru melemahkan struktur industri dalam negeri dalam jangka panjang," ucap Mulyanto dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat malam, 27 Februari 2026.

Kasus impor pikap dari India, kata Mulyanto, menunjukkan risiko nyata bahwa Indonesia dapat terjebak dalam posisi sebagai pasar konsumsi global. 

“Ketika negara lain telah beralih ke teknologi lebih maju, Indonesia justru berpotensi menerima teknologi yang tidak lagi menjadi prioritas di negara asalnya. Pola seperti ini dapat menghambat modernisasi industri nasional,” ungkapnya.

Lanjut dia, situasi ini semakin relevan ketika Indonesia menghadapi tekanan dalam berbagai perjanjian perdagangan internasional, termasuk dengan Amerika Serikat, yang mendorong relaksasi kebijakan TKDN. 

Jika kebijakan industri nasional dilonggarkan tanpa strategi yang jelas, maka ruang bagi produk impor akan semakin besar dan peluang penguatan industri domestik akan semakin terbatas.

"Oleh karena itu, polemik impor kendaraan ini harus menjadi momentum evaluasi terhadap posisi Indonesia dalam negosiasi dagang global. Indonesia tidak boleh hanya fokus pada akses pasar, tetapi harus memastikan bahwa setiap kerja sama perdagangan juga membuka ruang bagi pembangunan industri nasional,” jelasnya.

“TKDN selama ini merupakan instrumen strategis negara untuk membangun kapasitas produksi, memperkuat rantai pasok, serta meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Relaksasi yang tidak terukur berpotensi melemahkan industri lokal, khususnya di sektor manufaktur yang memiliki multiplier effect besar," sambung Mulyanto.

Ia menambahkan pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa liberalisasi perdagangan tanpa kesiapan industri domestik justru mendorong deindustrialisasi. Hal ini harus menjadi pelajaran agar Indonesia tidak mengulangi kesalahan yang sama, terutama ketika sektor otomotif sedang berada pada fase transisi menuju elektrifikasi dan digitalisasi.

Di sisi lain, negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat, tetap mempertahankan kebijakan perlindungan industri melalui subsidi, insentif, dan pengadaan lokal. 

Oleh karena itu, Indonesia juga berhak mempertahankan kebijakan TKDN sebagai bagian dari strategi pembangunan industri, bukan semata-mata hambatan perdagangan.

"Dalam perspektif konstitusi, Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan pentingnya kemandirian ekonomi dan penguasaan cabang produksi strategis oleh negara. Kebijakan industri, termasuk TKDN, merupakan implementasi dari mandat konstitusional tersebut,” tegasnya.

Ke depan, menurutnya, setiap impor dalam jumlah besar, termasuk kendaraan, harus dikaitkan dengan roadmap industrialisasi. 

“Pemerintah perlu mensyaratkan transfer teknologi, perakitan dalam negeri, serta pengembangan sumber daya manusia agar kebijakan tersebut memberikan manfaat jangka panjang bagi bangsa," imbuh Anggota Komisi Industri DPR RI Periode 2019-2024 tersebut.

"Indonesia harus mengedepankan diplomasi industri dalam setiap perjanjian dagang. Fokus utama bukan hanya pada pembukaan pasar, tetapi pada kemitraan produksi, investasi, dan pengembangan teknologi. Dengan pendekatan ini, kerja sama perdagangan justru menjadi instrumen penguatan kedaulatan ekonomi,” tandasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

IPW Desak Transparansi Penegakan Hukum Kasus 1.048 Ton Udang Impor di Jatim

Minggu, 01 November 2026 | 01:50

Langkah Polisi Tangani Kasus Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo Diapresiasi Warga

Minggu, 01 November 2026 | 01:24

Polda Metro Siap Dikritik Buntut Penyelenggaraan Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober

Minggu, 01 November 2026 | 00:43

Ramai Logo Muncul di TIME100 Next Gala, Danantara Bantah Bayar Dana Sponsorship

Minggu, 01 November 2026 | 00:16

Pengurus Baru SAPMA PP DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan Pemprov

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:47

Polisi Tangkap Pelaku Penembakan di Kampung Ambon, Ini Motifnya

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:17

Winda Marfita Pastikan Tak Terlibat Kasus Investasi PT MBS yang Dilaporkan Nur Istianti

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:57

Asrul Haruna Terpilih Sebagai Koorpresnas BEM PTMA Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:43

Rembuk Pemuda Himpun Aspirasi dari 29 Provinsi, Kukuhkan DPP Pertama

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:32

PPP Maluku Tolak Pemberhentian Agus Suparmanto-Taj Yasin

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:44

Selengkapnya