Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi BRI)

Bisnis

Kredit BRI Tembus Rp1.521 Triliun, Tumbuh Double Digit Lampaui Rata-rata Nasional

KAMIS, 26 FEBRUARI 2026 | 21:34 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Kredit PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tercatat tumbuh dua digit di sepanjang 2025, di tengah dinamika likuiditas dan perlambatan permintaan pembiayaan di industri perbankan.

Hingga akhir Desember 2025, total kredit BRI mencapai Rp1.521 triliun atau tumbuh 12,3 persen secara tahunan (yoy). Capaian ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit perbankan nasional yang berada di kisaran 9,6 persen.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan, ekspansi kredit tersebut tetap dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. 


“Pertumbuhan kredit BRI tetap double digit dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian,” ujarnya dalam konferensi pers kinerja keuangan 2025 di Jakarta, Kamis 26 Februari 2026.

Pertumbuhan kredit terutama ditopang segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Direktur Treasury and International Banking BRI Farida Thamrin menyebut, komitmen pada pembiayaan sektor produktif menjadi pendorong utama ekspansi.

Sepanjang 2025, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp170 triliun kepada lebih dari 3,8 juta debitur. 

“Komposisi kredit UMKM tetap mendominasi struktur kredit BRI,” kata Farida.

Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat 3,07 persen pada akhir 2025. Sementara Loan at Risk (LAR) berhasil ditekan dari 10,7 persen pada akhir 2024 menjadi 9,6 persen di penghujung 2025. Perseroan juga menjaga tingkat pencadangan dengan NPL coverage ratio sebesar 178,1 persen.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7,4 persen yoy menjadi sekitar Rp1.466 triliun-Rp1.497 triliun secara konsolidasi. Rasio dana murah (CASA ratio) mencapai 70,6 persen, didorong pertumbuhan giro 19,7 persen yoy dan tabungan 7,9 persen yoy.

Likuiditas BRI tetap dalam kondisi terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) di level 91,4 persen. Sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di 136,9 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 117,7 persen, atau jauh di atas batas minimal regulator 100 persen.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya